Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Selesai makan malam, aku berdiri dari kursi kemudian berjalan menuju Fina yang ada di depanku. Fina yang melihatku ikut berdiri dan menatapku. Saat kita berdua saling berhadapan aku memulai pembicaraan.


“Fina, aku ingin minta maaf sebelumnya terkait perkataanku waktu di Semenanjung Monster saat aku meminta kamu untuk memperlihatkan dada.”


Sambil berkata seperti itu aku mengulurkan tanganku memberinya hadiah yang selama ini aku buat diam-diam di belakangnya.


“Jaya tidak perlu meminta maaf lagi, kamu sudah minta maaf sebelumnya di sana. Aku juga sudah memaafkanmu waktu itu karena membuat aku khawatir. … Apa itu?”


Mendengar jawaban lembut Fina entah kenapa membuat aku merasa bahagia.


Fina melihat benda yang ada di tanganku dengan penuh tanya bahkan sampai sedikit memiringkan kepalanya.


“Ini sabun, Ini dipakai saat mandi, sabun ini bisa membersihkan dan merawat kulitmu.”


“Benarkah?”


Hoho… sepertinya dia tertarik, suaranya naik satu oktaf saat bertanya.


“Iya, aku juga menambahkan pengharum dari minyak essensial buah-buah yang kita dapat. Ada berbagai wangi yang aku buat, kamu bisa mencobanya nanti satu per satu.”


Sambil berkata seperti itu, aku mengeluarkan semua sabun dengan wewangian yang berbeda-beda dari inventori.


“Aku ingin segera mencobanya.”


Melihat itu semua Fina dengan semangat berkata ingin segera menggunakannya. Aku sebagai pemberi hadiah merasa senang karena dia sampai sesemangat ini untuk segera mencoba hadiah pemberianku.


Tiba di kamar mandi, aku mulai mempersiapkan air di bathub. Untungnya tidak sulit, aku tinggal menuang air dari dalam inventori ke dalam bathub ini.

__ADS_1


Selagi menuang, aku terpikir mungkin akan lebih baik kedepannya jika bisa menggunakan air hangat. Apa di kota ada alat sihir yang bisa membuat air jadi hangat yah? Kalau airnya harus di panaskan dulu di kompor terasa akan memakan waktu.


Selama aku sibuk menuang, Fina masih memilih-milih sabun apa yang akan dia gunakan saat ini. Pada akhirnya, pilihannya jatuh ke sabun dengan aroma manggis.


Aku pun menjelaskan cara pemakaian sabun ini yang hanya di gosok saja di tubuh setelah di basahi.


Namun, saat aku akan beranjak pergi keluar kamar mandi untuk meninggalkan Fina menikmati waktunya, dia menahanku.


“Tunggu Jaya, … aku ingin kamu yang menggosoknya.”


Terdengar sedikit malu, Fina mengatakan keinginannya. Dia sepertinya punya ide yang sungguh cemerlang, ya… ya… bahkan brilian, ya… ya… sambil menahan ekspresi agar tidak sampai terlihat cabul, aku berbalik menghadap Fina.


“Baiklah.”


Aku berkata dengan tenang sambil berjalan menuju ke arah Fina. Hmm… apakah ini salah satu caranya ingin di manja? Atau merupakan caranya ingin memanjakanku? Apa pun itu aku tetap senang karenanya.


Saat bangun di pagi hari, aroma manggis masih memenuhi kamar ini. Tercium aroma segar dan manis yang unik masuk ke dalam hidung dari setiap tarikkan nafasku. Di sebelah kiri terlihat Fina yang menggunakan lengan kiriku sebagai bantal masih tertidur dengan ekspresi damai sambil mendekapku menggunakan tangan kirinya.


Selagi menunggunya bangun, aku memikirkan rencana kedepannya. Kami akan segera tiba di Area sekitar Kerajaan Pangara dalam beberapa hari ke depan. Sepertinya mulai hari ini aku harus menenggelamkan Pulau Bulan.


Aku juga memutuskan untuk membuat sabun lebih banyak lagi hari ini. Dari ingatan Jaya dunia ini, harga sabun sepertinya cukup mahal. Seingat dia di Patgara, harga sabun berada di sekitaran 50 koin tembaga per batang.


Itu hanya sabun biasa saja, yang tidak menggunakan wewangian apapun, bagaimana dengan sabun yang wangi yah… ohohoho… semoga jauh lebih mahal.


Mungkin menjual gerabah alat-alat makan akan menguntungkan juga? Yahh… meski tidak seberapa untungnya aku pikir. Dari ingatan jaya harga gerabah tidak semenguntungkan sabun. Bingung juga kenapa sabun bisa semahal itu, apa cara pembuatannya di rahasiakan yah?


Ah!! Aku juga teringat, tidak lengkap kalau mandi hanya menggunakan sabun. Harus ada samponya juga. Yah… mungkin nanti aku akan coba membuatnya.

__ADS_1


“Nnng… Jaya~”


“Selamat pagi sayang.”


Karena keasikan berpikir ini itu, sepertinya waktu telah lama berlalu. Sampai-sampai Fina sudah bangun membuka matanya. Setelah melihatku saat pertama kali membuka mata, dengan manisnya dia memanggilku sambil mengeratkan pelukannya padaku. Aku membalas sapaannya sambil mengusap kepalanya.


Setelah keluar dari rumah bata, aku mulai menenggelamkan pulau ini. Perlahan-lahan pulau yang luasnya sekitar 50km² tenggelam ke dalam laut. Air laut yang sebelumnya membentuk desiran ombak menghantam pantai, mulai semakin meninggi. Untungnya, air yang meninggi karena tenggelamnya Pulau Bulan seakan tertahan tidak bisa masuk untuk membanjiri keseluruhan pulau.


Ini karena perisai Pulau Bulan yang menahan luapan air tersebut. Sehingga saat Pulau Bulan tenggelam seutuhnya di kedalaman laut, kami serasa berada di dalam akuarium yang di kelilingi oleh air laut.


Pemandangan yang aku lihat di dalam sini dominan berwarna biru, aku bisa melihat bererapa ikan yang mendekat seakan penasaran terhadap pulau ini. mereka mendekat mematuk-matuk perisai seperti sedang ingin mengidentifikasinya.


Cahaya matahari yang terik saat di permukaan juga seakan hilang karena tersaring dengan air laut. Yang tersinar di pulau merupakan cahaya yang agak kebiruan.


Untungnya, meski kami berada di dalam laut, aku tidak perlu mengkhawatirkan tentang oksigen atau tentang karbon dioksida yang di butuhkan tanaman. Pulau Ini bisa mengaturnya sesuai kebutuhan mereka.


Aku juga mengeluarkan perahu dengan layar tanja yang aku buat sebelumnya dan golem yang seakan mengendalikan perahu itu sebagai pengawas di permukaan laut tepat di atas pulau ini.


Jadi sesekali kami bisa naik di atas menikmati pemandangan laut lepas jika sudah bosan dengan pemandangan biru yang ada di dalam laut.


Aku melanjutkan hariku dengan berlatih bersama Fina dan membuat lebih banyak stok sabun untuk di jual nanti.


Pada awalnya aku berpikir untuk menjadi juragan cengkih, tapi setelah dipikir kembali aku harus hati-hati jika ingin menjual itu. Sumber cengkih setau ingatan Jaya hanya berasal dari Kerajaan Namgara, jika aku juga menjualnya, suatu saat Kerajaan Namgara akan sadar tentang keberadaanku dan akan mempertanyakan dari mana asal cengkih yang aku jual.


Kedamaian di hari-hari ku akan hilang jika mereka mulai menargetiku. Jadi sebaiknya untuk saat ini aku jangan dulu terlihat terlalu menonjol. Lebih baik jual sabun saja yang sumbernya berasal dari banyak tempat, berharga tinggi, dan lebih aman.


Pada besok harinya, aku memutuskan untuk naik ke perahu layar. Meski baru satu hari melihat pemandangan biru dalam laut, entah kenapa terasa bosan. Aku merasa seperti terkekang melihat pemandangan seperti itu terus-menerus.

__ADS_1


Jadi untuk hari ini aku menganggapnya sebagai hari libur dan hanya diisi dengan bersantai-santai berjemur di bawah sinar matahari di iringi tiupan angin yang menenangkan.


Tentu saja tidak hanya itu, rasa kenyamananku semakin meningkat karena kepalaku bersandar di tempat sandaran yang hakiki. Fina yang duduk sambil melipat kakinya, memberi paha empuknya sebagai sandaran untuk kepalaku.


__ADS_2