Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Empat Puluh Delapan


__ADS_3

Dari hasil pengumpulan informasi yang di dapatkan golem pengintai, sebagian besar alat sihir berasal dari kekaisaran utara. Peradaban kekaisaran utara terkenal lebih maju dari pada kerajaan-kerajaan kepulauan. Tapi hasil bumi dari kerajaan kepulauan sangat diminati di kekaisaran utara.


Karena aku penasaran dengan alat sihir jadi untuk alat tenunnya aku membeli alat tenun sihir. Selesai dari toko kain, aku juga membeli berbagai macam pakaian di toko baju untukku dan Fina. Selain itu aku juga membeli peralatan menjahit.


Setelah itu kami pergi ke toko yang menjual alat-alat sihir lainnya. Sayangnya dari toko-toko alat sihir, aku hanya bisa menemukan alat sihir penerangan dari alat-alat sihir yang kami butuhkan. Aku mencari alat sihir yang bisa memanaskan air tapi sepertinya tidak ada. Sepertinya aku harus memanaskan air kemudian di simpan pada inventori sebanyak-banyaknya.


Kami juga membeli kapas dan benihnya. Kapas rencananya akan kami gunakan sebagai isian bantal dan tempat tidur.


Selain itu aku membeli berbagai berbagai bahan makanan seperti rempah, buah, dan sayuran, tak lupa juga aku membeli bibit mereka untuk di tanam nanti di Pulau Bulan. Untungnya berbagai bahan makanan yang ada di sini mirip dengan bahan makanan yang ada di bumi. Aku bisa membeli merica, bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, kecap manis, kecap asin, gula, dan sebagainya. Buah-buahan dan sayuran juga sama dengan yang ada di bumi dan bisa aku dapatkan di sini.


Namun, ada beberapa bahan makanan yang sangat familiar bagiku namun tidak aku temukan di sini seperti cabai, tomat, kacang tanah, coklat, kentang, jagung, dan avokad. Terlebih khusus cabai dan tomat, dua bahan itu hampir selalu ada di masakan yang biasanya aku buat dulu. Mungkin bisa lebih dari 75% masakan yang aku tahu biasanya menggunakan salah satu dari kedua bahan itu. Tapi, meski kami sedang berada di Kerajaan Pan-ga-ra yang merupakan pusat perdagangan paling lengkap di antara ke enam kerajaan kepulauan, mereka tidak menjual cabai atau tomat? Apa kedua bahan tersebut tidak ada di dunia ini? Waduh!


Oke, cukup sudah meratapi ketidaktersediaan cabai dan tomat di sini. Sekarang waktunya move on membeli bahan makanan berikutnya. Toko yang kami datangi saat ini terlihat sangat mewah dan berkelas. Berdasarkan barang yang menjadi signature jualan mereka, memang pantas kalau toko ini akan terlihat mewah.


Item


Nama : Kuncup Bunga Syzygium aromaticum Kering


Keterangan : Kuncup bunga Syzygium aromaticum yang sudah di keringkan. Dapat digunakan sebagai rempah dan obat untuk menyembuhkan HP. Syzygium aromaticum spesial, hanya bisa tumbuh di Pulau Punam.


Item


Nama : Biji Buah Myristica fragrans Kering

__ADS_1


Keterangan : Biji buah Myristica fragrans yang sudah di keringkan. Dapat digunakan sebagai rempah, pengawet, dan obat untuk menyembuhkan MP. Myristica fragrans spesial, hanya bisa tumbuh di Pulau Puju


Inilah alasan kenapa Namgara dan Jugara bisa memonopoli dua bahan penting yang diminati oleh semua orang. Bahan-bahan itu hanya bisa tumbuh di pulau mereka. Dari hasil peninjauan golem pengintai, memang ada bahan yang lebih murah dan bisa menyembuhkan HP atau MP, tapi tidak seefektif kedua bahan di atas. Ada beberapa efek yang mengurangi HP maupun MP dan tidak bisa di sembuhkan oleh bahan tersebut tapi bisa di sembuhkan oleh cengkih dan pala.


Kali ini karena cengkih yang kumiliki mempunyai kualitas yang lebih bagus, jadi aku tidak membelinya. Lagi pula, cengkih yang dijual hanya kuncup bunga bukan buahnya. Kalau untuk pala lain cerita, meski bijinya kering, ada kemungkinan kecil masih bisa bertumbuh. Di tambah skill Transformasi Pulau dari Pulau Bulan kupikir ada kemungkinan biji pala ini bisa bertumbuh di Pulau Bulan.


Aku membeli tiga biji pala kering. Haha… aku tidak tahu harus berkata apa atas keherananku. Yang mereka jual bukan per beratnya, melainkan per buah. 1 buah kuncup bunga cengkih kering dengan kualitas yang mereka anggap paling rendah saja dihargai 3 koin perak. Untuk harga kualitas terendah biji pala kering dihargai 2 koin perak. Terasa ganjil membeli rempah seperti ini tapi per buahnya saja. Namun, dengan skill Mata Bulan ini menjadi keuntungan bagiku.


Saat keluar toko langit sudah berwana oranye. Kami berjalan melewati toko-toko lainnya untuk kembali ke penginapan. Tapi tiba-tiba mataku yang sibuk melihat kesana-kemari terhenti karena melihat hal yang ganjil. Kupikir barang seperti ini harusnya belum tercipta, karena di Bumi saja barang ini ditemukan pada masa revolusi industri di akhir abad ke-18 dan nanti populer pada abad ke-19. Akan tetapi di dunia ini barang tersebut sudah tercipta saat ini? Wow!


Barang itu merupakan sebuah vas keramik. Tapi bukan keramik yang biasa di temukan pada peradaban sekarang. Vas keramik ini merupakan keramik bone china. Keramik yang lebih halus dan kuat dari pada keramik yang umum saat ini, ia juga memiliki warna putih kekuningan yang khas.


Saat aku mendekat dan bertanya, harga vas yang tingginya satu meter saja bisa langsung mengosongkan kantongku. 30 koin emas untuk satu buah vas. Hmm… mungkin aku harus segera kembali ke pulau bulan dan membuat keramik seperti ini untuk di jual. Bahan seperti tulang dan kaolin sudah ada di inventori.


Oke, cukup memikirkan tentang uang. Lagi pula uang yang sekarang masih mencukupi kebutuhan kami.


Hadeh… saat perjalanan pulang aku terpaksa harus membuang napas panjang. Padahal aku berusaha untuk tidak masuk radarnya. Tapi sepertinya sia-sia. Yah… selama mereka tidak melakukan konfrontasi langsung dan tidak mengganggu kedamaian kami, aku hanya akan membiarkannya.


Kami tiba dengan selamat tak kurang suatu apa pun di penginapan. Kami memesan tiga kamar, 1 untuk aku sendiri dan Fina yang masih mengaktifkan skill tembus pandang, sementara dua lainnya untuk para golem. Yah sebagai tampilan luar saja biar orang lain tidak merasa ganjil.


Saat sampai di kamar, kami mencoba-coba baju yang baru di beli. Mungkin bukan kami, lebih tepatnya aku yang menyuruh Fina untuk mencoba berbagai pakaian.


“Hmmm… semuanya cocok untukmu Fina, kamu terlihat cantik dengan semua pakaian yang di pakai.”

__ADS_1


“Terima kasih.”



Wajah Fina memerah saat berterima kasih karena pujianku. Tapi sesaat kemudian ekspresi malunya hilang dan berkata.


“Jaya, aku mau keluar sebentar.”


“? Mau kemana?”


“Mau melihat-lihat.”


Sepertinya Fina masih ingin jalan-jalan. Mungkin karena kami hanya berada di pasar hampir seharian jadi Fina ingin melihat-lihat tempat lain.


“Ayo! Mau mulai dari mana? Mau ke taman kota?”


“Tidak apa-apa, aku keluar sendirian saja.”


Hmm… apa dia mau me time? Kalau dia ingin jalan-jalan sendiri sebaiknya aku biarkan saja. Tapi jangan pergi terlalu jauh, repot nanti kalau harus dicari.


“Baiklah, tapi jangan pergi terlalu jauh yah.”


“Tenang saja, hanya sebentar.”

__ADS_1


Setelah tersenyum sambil mengatakan itu Fina melompat keluar dari jendela kamar kami. Selagi itu, aku rebahan di atas kasur sambil memfokuskan diri ke golem pengintai. Aku mencoba untuk mengarahkan golem pengintai ke para sasaran potensial yang memiliki kemungkinan akan mengganggu kedamaian kami.


Namun, saat para golem pengintai tiba di salah satu sasaran, mataku terbuka lebar terkejut sampai mengangkat tubuh dari rebahan karena melihat apa yang sedang terjadi melalui pandangan golem pengintai.


__ADS_2