
*muach*
“Terima kasih Jaya.”
Setelah sampai di penginapan dan menurunkan Fina, dia berterima kasih sambil mencium pipiku. Aku jadi tersenyum bahagia melihat tingkahnya.
Seperti prediksiku, aku kalah dalam taruhan yang kubuat sendiri. Jadi saat perjalanan kembali ke kota aku yang menggendong Fina. Perjalanan kami juga dilakukan dengan santai sambil melihat-lihat pemandangan di sekitaran. Saat kami tiba di penginapan hari sudah gelap dan sudah waktunya untuk makan malam.
Keesokan harinya kami pergi ke galangan kapal. Berkat bantuan sekretaris kapal bekas bajak laut itu bisa bersandar dengan aman. Ditambah lagi berkat koneksi sekretaris, kapal itu bisa langsung docking di galangan kapal untuk dilakukan pemeliharaan.
Selain itu dari informasi yang sekretaris dapatkan, kapal ini tidak dikenali sebagai kapal bajak laut. Bahkan kondisi kapal ini terlalu bagus dibandingkan kapal-kapal bajak laut yang biasa mereka temui. Yah, aku anggap saja ini sebagai keberuntungan kami bisa mendapatkan kapal gratis dan bagus.
Selain melakukan pemeliharaan, pihak galangan kapal juga menyarankan untuk memberi lapisan pelindung untuk menjaga kayu kapal. Kupikir itu saran yang bagus, dengan menggunakan lapisan pelindung, warna kapal menjadi sedikit berbeda dan dengan begitu kapal ini lebih sulit dikenali dari sebelumnya.
Hal yang paling mengejutkan, galangan kapal mengklaim kalau pemeliharaan dan pemberian lapisan pelindung akan selesai dalam waktu dua hari kedepan. Dua hari saja, entah karena pengaruh koneksi sekretaris sehingga kapal kami yang di utamakan ataukah karena ada sihir dsb sehingga prosesnya bisa lebih cepat dari pada pemeliharaan di Bumi yang bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga sebulan untuk pemeliharaan kapal seukuran ini.
Setelah selesai dari galangan kapal, kami berpisah dengan sekretaris karena sekretaris sibuk untuk mempersiapkan pelayaran ke kekaisaran utara. Aku dan Fina beserta para golem melanjutkan kegiatan kami dengan berbelanja lagi ke pasar. Tujuanku ke pasar kali ini ingin membeli berbagai barang agar kami terlihat seperti pedagang yang sah. Aku juga memutuskan untuk menggunakan kapal yang kami ambil dari bajak laut kedepannya. Alasan utamanya juga sama seperti sebelumnya, supaya terlihat lebih ‘sah’.
Pada keesokan harinya, aku memutuskan untuk pergi makan ke tempat yang lebih premium. Sekali lagi karena bantuan sekretaris, kami bisa mendapat reservasi di restoran terbaik di Kota Panga di hari yang sama. Selain itu kami juga mendapatkan reservasi untuk ruangan pribadi. Karena ini restoran terbaik dan ruangan pribadi, kami harus membuang 5 koin emas untuk makan malam. Namun karena aku juga tidak tahu mau diapakan koin-koin ini, lebih baik aku gunakan untuk mendapat pengalaman-pengalaman baru.
__ADS_1
Kami juga menggunakan pakaian yang lebih ramai dari biasanya. Aku dan Fina memakai kain sarung yang motifnya lebih rumit agar terlihat mewah selain itu kami juga menggunakan berbagai aksesoris yang biasa di gunakan orang-orang sini.
Yang Fina pakai merupakan kain berwarna putih dengan motif berwarna emas beserta selendang emas. Dia juga memakai berbagai aksesoris yang terbuat dari emas. Aku bahkan sampai terpukau saat melihatnya selesai berpakaian.
“Penampilanmu malam ini sungguh menawan.”
Melihat Fina seperti ini, seakan membuatku tidak sabar untuk terus memujinya.
“Ini untuk Jaya.”
Pujianku dibalas dengan senyuman memesona Fina sambil berkata seakan usahanya tampil cantik malam ini dilakukannya untukku. Tentu saja aku bahagia mendengar itu.
Saat kami tiba di depan restoran, seperti sudah menunggu kedatangan kami dari tadi, kami disambut oleh pelayan dengan senyum hangat dan pelayan tersebut mengantarkan kami naik ke lantai dua. Lantai dua restoran tersebut terbagi menjadi beberapa lorong kecil dan terdapat banyak pintu di lorong tersebut. Sepertinya lantai dua restoran ini khusus untuk ruangan pribadi.
Saat aku mulai duduk, aku bisa merasakan bagaimana nyaman dan kokohnya kursi yang berada di bawahku. Melihat lagi sekeliling ruangan, terdapat berbagai perabotan yang terlihat estetis dan megah. Dinding dan sudut ruangannya pun dihiasi dengan berbagai karya seni seperti vas, patung, dan lukisan.
Semua hal yang ada di dalam ruangan tersebut seakan menyatu dan memancarkan nuansa romantis saat kami duduk di sana.
Tak berselang lama kemudian, beberapa pelayan kembali datang dan membawa makanan kami. Soal pemilihan menu, semuanya sudah aku katakan kepada sekretaris sebelumnya. Terlihat beragam hidangan-hidangan yang datang, seperti, daging sapi panggang, bebek panggang, ikan bakar, sup ikan, dan sayuran tumis.
__ADS_1
Saat semua hidangan selesai di tata dan para pelayan keluar ruangan. Aku mulai mengamati masing-masing hidangan yang mereka bawah. Semua hidangan yang ditaruh di atas meja terlihat disajikan dengan sangat indah. Hanya dengan penglihatanku saja, aku bisa merasakan keistimewaan daging dan ikan yang mereka masak.
Aku tersenyum puas akan hidangan yang tertata di depanku. Saat aku memperhatikan Fina, dia juga terlihat bahagia saat mengamati hidangan di depannya.
“Selamat makan!”
“Selamat makan.”
Dengan penuh antusiasme, aku mulai mencicipi hidangan daging sapi panggang. Aroma rempah yang digunakan dalam marinasi seakan mengundang selera dan membuatku terpikat. Lapisan luar yang garing dan renyah menghasilkan perasaan yang menyenangkan saat berada di dalam mulutku. Karamelisasi permukaan daging akibat di panaskan menciptakan rasa yang mendalam dan gurih. Rasa smoky yang khas seakan menambahkan dimensi rasa yang kaya dan berbeda. Semua itu memenuhi mulutku saat aku menggigit daging panggang yang lembut.
Melihat Fina, dia juga tampak senang saat menyantap bebek panggangnya. Selama kami menikmati hidangan kami, ruangan ini serasa dipenuhi dengan suasana yang intim dan romantis.
Setelah makanan utama, tiba makanan penutupnya. Ada beberapa makanan penutup yang mereka berikan seperti kolak dan manisan buah-buahan. Kolak yang mereka berikan terbuat dari pisang yang direbus dengan santan, gula, dan berbagai rempah seperti kayu manis.
Sedangkan manisan buah-buahan terdiri dari buah mangga, rambutan, pisang, kelapa, yang diiris tipis kemudian direndam dengan madu untuk meningkatkan rasa manisnya. Saat aku mencicipi manisan buah itu, rasa manis buah yang aku kenal terasa berbeda di hidangan ini. Di sini rasa manisnya menjadi lebih intens dan kompleks karena direndam oleh madu. Selain itu madu juga membuat tekstur buah menjadi lebih lembut sehingga meningkatkan sensasi buah itu saat aku memakannya.
Tidak hanya sampai di situ, aroma khas madu yang harum seakan menyatu dengan aroma buah hingga menciptakan kombinasi yang memikat. Semua campuran buah tersebut menciptakan rasa yang menyegarkan dan memanjakan lidah saat aku makan.
__ADS_1
Setelah kami menyelesaikan semua hidangan, aku berdiri dari meja makan dan berjalan sampai ke depan Fina sambil mengulurkan tanganku mengajaknya untuk berdansa.
Aku mengajak Fina berdansa waltz. Suasana yang intim dan romantis, seakan sempurna jika diiringi dengan dansa waltz berdua. Meski tanpa iringan suara musik, suasana yang tercipta saat ini sudah cukup untuk mengiringi gerakan dansa kami.