Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Delapan Belas


__ADS_3

Meski Som telah tiada, tidak ada saudaranya yang menyadari hal tersebut. Keempat saudaranya masih tertidur pulas. Satu per satu Fina mengunjungi mereka bagai malaikat maut. Dengan metode serupa Fina melakukan hal yang sama kepada Sum, Sim, Sam, dan yang terakhir Sem.


Sampai akhirnya muncul pemberitahuan di kepalaku.


[Syarat terpenuhi]


[Apakah anda ingin menjadi pemilik dungeon?]


Kelima bersaudara itu telah tiada.


Setelah semua selesai, aku berjalan menghampiri Fina untuk bertanya bagaimana keadaannya. “Kamu mengalahkan mereka dengan sangat mudah! Bagaimana keadaanmu?”


“Aku baik-baik saja.” Balas Fina dengan tenang.


“Untung saja mereka tidak menyadarimu, bagaimana kamu tahu cara seperti itu untuk mengalahkan mereka?”


Bagaimana Fina menusuk leher untuk menargetkan pembuluh darah arteri dan menjaga mereka agar tidak bersuara seperti sudah mengetahuinya dengan baik. Apa itu sama dengan yang sebelumnya? kalau informasi itu seperti sudah ada di pikirannya?


“Itu seperti sudah ada di pikiranku saja.”


Yah sepertinya sama dengan sebelumnya. Untuk dunia yang berbahaya seperti ini, kemampuan bela diri sangat penting. Hmm.. Sebaiknya aku meminta Fina untuk mengajarkanku.


“Saat kita kembali bisakah kamu mengajarkanku cara menggunakan belati dan cara bertarung?”


“Dengan senang hati,” balas Fina dengan senyuman.


Hm hm.. aku sedikit mengangguk, melihat dia tersenyum membuat kecantikannya bertambah. Fina memang terlihat lebih baik seperti ini.


Dengan tidak adanya pemilik dungeon, sekarang waktunya mengambil bijih-bijih besi yang kelihatan sepanjang dungeon. Dungoen ini tidak terlalu luas jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk para golem mengambilnya.


Selagi menunggu golem mengambil bijih-bijih besi, kuputar badan ke arah batu menhir. Sekarang saatnya melihat drop dari pemilik dungeon ini. Aku pergi menuju batu menhir dan melihat item apa yang didapat dari dungeon ini.


Item


Nama : Bijih Perak


Keterangan : Material yang mengandung perak


Wow! Bijih Perak yang beratnya sekitar 1 Kg. Mempertimbangkan level dungeon, drop ini sepertinya menguntungkan.

__ADS_1


Setelah melihat drop dungeon, sekarang waktunya melihat perlengkapan tuyul-tuyul bersaudara.


“…” Miskin sekali


Sama dengan Samsun, mereka sebagian besar hanya menggunakan kolor saja. Hanya dua tongkat besi yang bisa kujarah.


Perlengkapan


Nama : Tongkat Besi


ATK : 3


DEF : 1


Kondisi : 87%


Keterangan : Tongkat yang terbuat dari besi.


Kondisi Tongkat lainnya 82%. Yah, meski terlihat biasa saja, mungkin tongkat ini ada gunanya nanti. Lagi pula inventori ku tidak terbatas, simpan berbagai macam sampah juga tidak akan ada masalah.


Melihat mayat-mayat tuyul yang tergeletak di sekitar, aku jadi ingat kolonel tuyul yang tersimpan secara otomatis di inventori saat aku mengalahkannya. Terasa aneh menyimpan makhluk yang serupa dengan manusia di dalam inventori. Aku seperti kamar mayat berjalan saja.


Lebih baik kutinggalkan mayat-mayat tuyul di sini setelah mengambil batu sihir mereka. Dari ingatan Jaya sebagian besar monster memiliki batu sihir.


Aku mengambil kembali belati dari Fina kemudian membelah tubuh tuyul. Ini pertama kalinya aku memotong makhluk yang mirip sekali dengan manusia. Kalau ini di bumi pasti aku akan merasa gugup dan takut, tapi sekarang, meski aku sudah membelah dan mengorek-ngorek organ-organ untuk mencari batu sihir, aku tetap merasa tenang.


Batu sihir yang berwarna merah jambu aku temukan di dekat jantung tuyul. Bentuknya seperti batu-batu pada umumnya hanya saja semakin tinggi level tuyul semakin besar batu sihir yang diperoleh. Ukuran batu sihir para lima tuyul bersaudara mirip seperti ukuran kelereng sedangkan batu sihir dari tuyul Samsun sekitar dua kali lipat ukuran lima tuyul tersebut.


Selesai mengambil batu sihir para tuyul aku meninggalkan mayat mereka di dungeon ini. Sesaat kemudian golem-golem datang membawa bijih besi. Aku menyimpan bijih besi tersebut ke dalam inventori, langkah selanjutnya tinggal melubangi atap ruangan untuk sampai ke permukaan lalu mengambil inti dungeon.


Aku membaca mantera membuat golem tanah dari atap ruangan. Ruangan ini tidak terlalu dalam. Kedalamannya hanya sekitar 10 meter saja dari permukaan. Setelah pelubangan atap ruangan selesai sekarang waktunya mengambil inti dungeon. Tapi sebelum itu.


“Fina kenapa kamu tidak mengambil Bijih peraknya?”


“Untukmu saja.” Balas Fina dengan tenang


Yah aku akan dengan senang hati menerima kalau diberi sesuatu tanpa embel-embel apapun. Mungkin sekarang bijih perak ini tidak ada gunanya tapi saat sampai di kota itu bisa dijual. Sebaiknya aku terima saja pemberiannya dan nanti kubalas dengan membeli apa yang Fina suka saat di kota.


“Baiklah, Terima kasih!” Aku mengambil bijih perak itu dan menyimpannya ke dalam inventori. Aku menghadap Fina lagi setelah itu.

__ADS_1


“Kamu sudah siap? Aku akan segera menghancurkan batu menhir dan mengambil inti dungeon.”


“Ya.”


Kuhancurkan batu menhir lalu mengambil bola yang ada di dalam batu itu kemudian menggendong Fina seperti gendongan pengantin yang sama dengan sebelumnya dan meloncat ke permukaan.


Dungeon: Fe-126a1


Pemilik:


Level: 2


Mpj(Mana per jam): 12


Total Mana: 3.741.280


Monster: 0


Di permukaan, langit sudah berwarna oranye, tanda matahari akan segera terbenam. Dalam satu hari ini kita bisa menjelajahi dua pulau dan satu dungeon. Aku memang berkeinginan untuk segera menyelesaikan ketiga pulau tapi tidak kusangka bisa secepat ini. Jika kita memutuskan untuk segera kembali ke pulau bulan sepertinya masih sempat.


“Fina menurutmu kita segera kembali ke Pulau Bulan atau tidur di sini saja malam ini?” Aku bertanya ke Fina yang masih di gendonganku sambil berlari menuju tepi pantai.


“Terserah kamu, tapi mungkin sebaiknya kita kembali saja.”


Heh. Iya-iya kita kembali saja kalau begitu.


“Kupikir kita kembali saja ke pulau bulan sekarang.” Balasku.


Tiba di tepi pantai, aku mengeluarkan perahu kemudian langsung kukayuh menuju Pulau Bulan.


Kita sampai di pulau bulan jauh sesudah matahari terbenam. Sepanjang perjalanan pulang aku tidak perlu bingung mencari arah, lokasi Pulau Bulan seperti sudah aku ketahui letaknya. Ini pasti karena aku pemilik dungeon Pulau Bulan.


Kita berdua turun dari perahu di gelapnya pinggiran pantai yang hanya disinari cahaya bulan. Berjalan menuju gubuk angin malam terus berhembus. Suara ombak dan angin bagaikan irama yang menemani malam ini. Ditambah bau laut yang menyegarkan. Entah kenapa semua suasana terasa nyaman bagiku. Sepertinya aku mulai menganggap tempat ini rumah.


Sampai di gubuk aku membuat api dengan menggosok kayu sebagai penghangat dinginnya malam. Sambil duduk menghangatkan tubuh di sekitar api unggun aku mengeluarkan daging kasuari dari inventori. Daging itu masih hangat meski sejak di bakar pagi tadi.


Kuberikan sebagian ke Fina yang duduk di sampingku sambil berkata.


“Silahkan. Besok aku akan mencoba memberikan inti dungeon ini ke dungeon Pulau Bulan semoga saja ada pengaruhnya.”

__ADS_1


“Terima kasih. Aku juga berharap begitu.” Setelah mengambil makanan dan mengucapkan terima kasih, Fina membalas ucapanku sambil melihat ke api unggun.


“Selamat makan”


__ADS_2