Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Empat Puluh Empat


__ADS_3

Cukup lama aku menikmati liburanku bersama Fina sambil terombang-ambing di atas perahu layar. Sebelum datangnya para kelompok pengganggu. Awalnya aku sudah melihat ada kapal dari kejauhan, dan karena kita memang sudah dekat dengan kerajaan Pangara aku pikir sudah wajar melihat beberapa kapal di sekitar sini. Tapi karena kapal itu berbalik menuju ke arah kami, ditambah informasi-informasi penumpangnya dari mata bulan, besar kemungkinan mereka datang untuk mengganggu.


Akan tetapi lagi, karena mereka yang datang kemari manusia dan bukan berarti informasi status mereka selalu mencerminkan perbuatan mereka jadi aku coba tunggu saja mereka mendekat untuk memastikan apa tujuannya. Yah… meski skill deteksi bahaya memperingatiku seakan mereka mempunyai niat jahat. Tapi mari kita tunggu saja.


Saat jarak diantara perahu kami sekitar 50 meter, penumpang dari kapal sebelah mulai berteriak ke arah kami.


“KALIAN TIDAK AKAN BISA LARI!!”


Hadeh… siapa juga yang mau lari. Kita juga lagi di atas perahu sekarang, mau lari bagaimana?


“Budak baru! Budak baru!”


Terdengar suara girang penumpang lainnya seakan sudah mendapat buruannya.


Ahh… ternyata mereka benar-benar bajak laut dan ingin menangkap kami berdua. Niatan mereka sudah jelas, sekarang aku harus menentukan bagaimana cara yang bagus untuk membersihkan butiran-butiran debu ini. Apa dilempari batu saja biar kapalnya bocor dan tenggelam? Atau suruh golem hancurkan dari dalam air kapalnya? Mungkin dengan begitu mereka bisa tobat.


Aku yang sedang berpikir bagaimana cara terbaik untuk bersih-bersih tiba-tiba berpaling melihat Fina yang mulai berdiri. Sejak para bajak laut itu datang mendekat, aku sudah merubah ke posisi duduk untuk memerhatikan mereka dan tidak lagi bersandar di tempat yang hakiki.


“Aku tidak akan membiarkan mereka menculikmu.”


*wooshhh*


Eh??? Salah karakter! Aku yang harusnya ngomong begitu! Fina yang sudah berdiri dan berkata ingin melindungiku langsung melompat ke arah kapal bajak laut.


*slash*

__ADS_1


Bajak laut yang sebelumnya kegirangan seakan telah mendapatkan buruan tiba-tiba membeku. Ekspresi girang masih menempal di wajahnya namun perlahan-lahan sebagian wajahnya mulai menyerong berpisah dari tubuh utama.


*plak*


Bunyi daging basah jatuh ke geladak kapal dibarengi dengan darah yang menyemprot keluar dari tubuh yang masih berdiri. Fina menebas Sebagian kepala bajak laut secara menyerong sehingga sebagian kepala dan satu mata bajak laut itu terpisah dari tubuh utamanya. Fina tidak berhenti di situ saja, dia langsung menuju ke target selanjutnya untuk disudahi.


Melihat Fina yang sudah maju duluan, aku juga mengikutinya untuk berjaga-jaga. Rencana awalku hanya ingin membuat mereka jera dengan menghancurkan kapal yang mereka tumpangi dan membiarkan takdir yang menentukan nasib mereka. Siapa tahu nanti mau bertobat kalau selamat.


Tapi apa memang akan bertobat? Kalau di Bumi ada hukum dan fasilitas untuk membina orang yang pernah melanggar hukum agar bisa memperbaiki diri. Memang mungkin belum terlalu efektif tapi setidaknya orang-orang masih mempunyai kesempatan.


Kalau di sini? Dari ingatan Jaya jika melanggar hukum yang berat kemungkinan besar akan di hukum mati atau dijadikan budak untuk kerja rodi di tempat-tempat yang berbahaya seperti di tambang. Hmm… mungkin dengan kerja rodi mereka akan sadar dengan kesalahan mereka dan bertobat. Jadi, apa sebaiknya aku bawah saja sebagian dari mereka untuk di serahkan ke Kerajaan Pangara? Seharusnya aku juga bisa mendapatkan hadiah tambahan kalau ternyata mereka ini buronan kelas kakap.


Tapi sepertinya tidak bijak, testimoni-testimoni para bajak laut ini hanya akan membawa masalah saja nanti. Yah… sebaiknya aku mengikuti apa yang Fina lakukan sekarang.


Mengeluarkan batu kecil dari inventori, aku menyentil batu-batu tersebut ke setiap bajak laut yang kulihat.


*snap*


*snap*


Tapi khusus untuk tipe entitas ini, aku tidak mengaktifkan fitur mengoleksi otomatis dari inventori.


Karena kecepatan kami, sebagian besar bajak laut tidak sempat menarik senjatanya. Bahkan tidak sampai bertukar kata untuk bernegosiasi. Hanya sesaat, sudah tidak ada lagi bajak laut yang bergerak.


Untungnya lagi semua yang ada di atas kapal ini adalah bajak laut dan tidak ada sandera, jadi aku tidak perlu khawatir ke Fina yang seakan main serang sana-sini sesuka hatinya.

__ADS_1


Ada 31 mantan bajak laut yang aku dan Fina kalahkan. Dari skill Mata Bulan, mereka tidak mempunyai barang-barang yang berguna untuk kami, yah… kecuali kapal yang mereka tumpangi dan persenjataan mereka seperti panah, belati, keris, dan tombak tapi kualitasnya sungguh rendah. Stok bekal mereka juga hanya sedikit dan kebanyakan merupakan potongan daging yang di awetkan, sepertinya markas mereka tidak jauh dari tempat ini. Tapi aku tidak tertarik mengitari area ini hanya untuk mencari markas bajak laut. Kerajaan Pangara yang mempunyai barang-barang lebih menarik sudah dekat soalnya.


Mubasir meninggalkan kapal yang mereka pakai, kapal yang mereka gunakan terlihat terurus dan cukup bagus, mungkin bisa aku gunakan nanti. Tapi lihat situasinya dulu, mungkin kapal ini sudah dikenal sebagai kapal bajak laut, kan berbahaya pas kita baru sandar di Pangara dan langsung ditodong dengan senjata.


Selagi berpikir sambil melihat isi kapal, Fina yang sudah selesai mengalahkan para bajak laut datang mendekat dengan ekspresi penuh keyakinan.


“Aku melindungi Jaya.”


Hmmm… ni anak terkadang elegan, terkadang bringas, terkadang dewasa, terkadang kekanakan. Hmmm… Ah… mungkin itu yah.


“Kerja bagus sayang…”


Sambil memeluk dan mengusap kepalanya, aku memuji Fina.


Setelah selesai melihat-lihat isi kapal, aku menyimpan kapal dan barang lainnya ke dalam inventori dan meninggalkan penumpang-penumpang sebelumnya di tempat kami bertarung.


Kembali lagi di atas perahu layar yang aku buat sebelum bertemu dengan Fina, aku melanjutkan kegiatanku seperti yang sebelumnya. Bersandar melihat langit di tempat sandaran yang hakiki.


Sambil bersandar, malah terpikirkan olehku kejadian barusan. Tidak aku sangka pertemuan pertama kaliku sebagai Jaya yang punya ingatan dari Bumi dengan manusia dari dunia ini di awali dengan kekerasan.


Tapi dari ingatan Jaya masih banyak orang-orang yang baik, penolong Jaya dari Kerajaan Patgara jadi salah satu contohnya.


Yah… semoga saja kami bisa bertemu dengan orang-orang yang baik saat tiba di Pangara nanti.


Hmmm… tunggu dulu, aku berharap bertemu dengan orang-orang baik tapi apa aku ini merupakan orang baik? Ya meski aku menganggap diriku seperti orang baik atau orang jahat, bisa saja akan di anggap sebaliknya dari pandangan orang lain.

__ADS_1


Oke, cukup berpikir hal yang tidak berbobot, sebaiknya aku menikmati sisa hari liburan ini sepenuhnya.


Sambil menikmati terik matahari dan tiupan angin, aku memejamkan mata untuk beristirahat.


__ADS_2