Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Tamatlah riwayatku!


__ADS_3

Setelah ciuman panas itu selesai, Ema dan Fika menuju lantai bawah untuk makan siang.


Sampai di dapur sudah ada Bibik yang sedang menyiapkan makan siang dan tidak berselang lama Bondan juga ikut bergabung dengan pasangan itu.


Ema mengernyitkan dahinya ketika melihat penampilan Bondan, yang memakai sweater dan juga syal dilehernya.


"Ayah sakit?" tanya Fika, sembari menatap lekat Ayahnya yang duduk bersebrangan dengannya.


"Ehm iya, uhuk ... uhuk ... ." jawab Bondan gugup, sambil terbatuk agar aktingnya lebih meyakinkan.


"Apa parah? Sebaiknya Ayah segera berobat ke dokter, apa perlu aku panggilkan dokter kesini?" tawar Ema, kepada Ayah mertuanya dengan rasa cemas.


"Ah, tidak, tidak perlu, Ayah hanya batuk ringan saja, uhuk .. uhuk ..." jawab Bondan, di selingi dengan batuk yang sedikit keras.


"Ringan apanya, itu parah banget batuknya. Ayah harus secepatnya pergi kedokter," ucap Fika sangat cemas. "Yank, nanti panggil dokter Ricky kesini ya."


"Mau buat apa?" tanya Ema mengernyitkan dahinya.


"Ya, buat periksa Ayahlah."


"Ricky 'kan dokter kandungan? Memangnya Ayah hamil apa!" ketus Bondan, dan menggeleng pelan.


"Oh iya ya," Sahut Fika, tersenyum konyol, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Dasar Oon," ucap Ema, namun hanya mampu mengucapkannya di dalam hati. 😆


Bibik yang sejak tadi menjadi pendengar setia, hanya bisa tersenyum geli.


Dasar Bocah, pada tidak tahu apa kalau Pak Bondan sedang menyembunyikan sesuatu di balik syalnya itu. Batin Bibik, sembari cekikikan sendiri. Kemudian Bibik segera menghidangkan makan siang di meja makan.


"Makan bareng, Bik," ajak Fika, lalu menepuk tempat duduk yang di sebelahnya.


"Tidak usah, Neng. Bibik lagi diet, he hee," jawab Bibik cekikikan, dan juga merasa tidak enak jika makan satu meja dengan majikannya.


"Lagaknya diet, tapi badan masih segede drum," cibir Ema, membuat Bibik cemberut kesal. "Makan bareng, Bik. Kalau tidak mau nanti pot—"


"Iya ya, Bibik mau tapi jangan potong gaji, Den," jawab Bibik lalu segera menduduki kursi yang ada di sebelah Fika.


"Uhuy, berasa duduk di kursi sultan yak," canda Bibik, Dan semua orang disana pun tergelak saat melihat tingkah Bibik yang lucu.


Setelah selesai makan bersama, Bibik segera membereskan piring kotor yang baru saja di gunakan untuk makan siang.


"Pak Bondan, hebat sekali," celetuk Bibik, membuat mereka yang disana seketika menatapnya dengan alis yang berkerut.


"Maksud Bibik apa?" tanya Ema, penasaran.


"Itu loh, Den. Ibu nggak bisa jalan karena itu, hi hi hii malu mau ngomongnya," Bibik tersenyum malu sembari mengibaskan tangannya.

__ADS_1


Sedangkan Bondan sudah sangat tegang dan memberikan kode kepada Bibik agar diam, tapi sepertinya Bibik tidak mengerti akan kodenya.


"Ngomong saja Bik, jangan malu biasanya juga malu-maluin," canda Fika, membuat Bibik tersenyum kecut.


"Ya pokoknya, Pak Bondan mah hebat sekali, perkasa dan kuat." jawab Bibik ambigu, membuat Fika dan Ema semakin bingung di buatnya.


Dan Bondan kini meraup wajahnya dengan kasar.


"Yang jelas dong Bik! Bikin penasaran saja," ucap Ema, lalu ia melirik Ayahnya yang terlihat gelisah.


Tamatlah riwayatku! Batin Bondan, lalu mengambil gelas yang berisi air putih dan langsung menenggaknya, guna mengusir kegugupannya.


'"Itu Bapak sama Ibu, kikuk-kikuk," jawab Bibik terkekeh geli.


BYUR


Bondan terkejut dan langsung menyemburkan air minum yang sudah ada di dalam mulutnya.


"AYAH!!!!" geram Ema dengan penuh penekanan dan menatap tajam Bondan.


"Kabur!!!" Bondan langsung melarikan diri untuk menghindar dari amukan menantu sekaligus anak sambungnya itu.


🤣🤣🤣

__ADS_1


Kasih dukungannya ya, jangan lupa ya seyeng😘


__ADS_2