Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Dasar bajingan!


__ADS_3

Setelah kejadian beberapa waktu yang lalu, dimana Bondan dan Rima sudah di bebaskan dari masa hukuman. Dan mulai hari itu juga Bondan dan Rima berpindah dari rumah putranya dan memilih tinggal di rumah Bondan untuk sementara waktu. Dan untuk Emanuel dan Fika, tentu saja mereka masih ada di rumahnya sendiri dan merasa bebas karena tidak ada yang mengawasi. Dan kandungan Fika pun sudah kuat, juga sudah beraktifitas seperti biasa lagi, walaupun begitu Ema masih mengawasi dengan ketat dan Ricky juga akan datang kerumahnya dua minggu sekali, untuk mengontrol kandungan Fika.


Rencana home schooling Fika juga ditunda terlebih dahulu. Emanuel pun masih wfh, kecuali jika ada urusan yang sangat penting maka dirinya dengan terpaksa berangkat kehotelnya. Seperti siang ini, Ema sedang bersiap karena ia harus bertemu kliennya.


"Maaf ya, Yank," ucap Ema, lalu mengecup kening dan bibir istrinya itu dan beralih mengecup perut istrinya yang sudah terlihat menonjol.


"Iya," jawab Fika dengan terpaksa dan memanyunkan bibirnya kesal.


"Ih, kok manyun begitu? Yang ikhlas dong." Ema menatap istri dengan rasa bersalah, kemudian ia memeluk Fika dengan erat.


"Habisnya kamu ganteng banget sih! Bagaimana nanti jika ada wanita di luar sana yang suka sama kamu?" Fika mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Ia rasanya tidak ikhlas kalau suaminya itu di lihat oleh wanita lain.


Nggak pakai baju aja ganteng banget, apa lagi memakai jas seperti ini, duh ketampananmu bertambah 1000 persen,Bang. Batin Fika, menganggumi ketampanan suaminya.


Ema terkekeh ketika mendengar gerutuan istrinya, lalu ia mengurai pelukannya dan tersenyum lembut sembari menangkup wajah cantik istrinya dengan dengan kedua tangannya.


"Biarkan mereka suka, jangan pernah memperdulikannya karena itu hak mereka. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, disini hanya ada kamu dan selamanya hanya kamu," ucap Ema, sembari menunjuk dada sendiri.


"Si elang saja, bangunnya sama kamu saja kok," lanjut Ema terkekeh, sembari menarik salah satu tangan istrinya dan mengarahkannya ke bagian bawah bawahnya yang terlihat menonjol itu.


"Mesum!" kesal Fika, namun juga tersenyum menanggapi perkataan suaminya itu.

__ADS_1


"Love You," bisik Fika, lalu menarik tengkuk suaminya.


"Me too," jawab Ema dan menatap sayu istrinya itu, kemudian ciuman panas di siang hari yang cukup terik itupun terjadi, keduanya saling menyesap dan membelit lidah, membuat suhu ruangan tersebut menjadi semakin panas, apa lagi tangan Ema sudah menjalar kemana-mana, membuat Fika terus melenguh dan ingin melanjutkan cumbuan itu ke area ranjang panas mereka.


Dering suara ponsel yang berada di dalam tas kerja Ema, membuat pasangan yang sedang bercumbu panas itu menghentikan kegiatannya.


"Sebentar Yank," Ema melepas pagutannya dan mengambil nafas sebanyak mungkin, kemudian ia mengambil ponselnya.


Fika membenarkan dressnya yang sudah tersingkap keatas dan merapihkan rambutnya yang berantakan karena ulah suaminya.


Ema mengangkat panggilan telepon tersebut yang ternyata dari asistennya Ruri.


"Ya?" jawab Ema, dengan nafas yang masih terengah.


"Belum tapi baru akan," jawab Ema enteng, membuat Ruri mendengus kesal.


"Ada apa?" tanya Ema.


"Oh God! Kamu lupa jika akan bertemu klien?"


"Lalu?" tanya Ema.

__ADS_1


"Astaga! Kamu membuatku dalam masalah! Kliennya berada di restoran dan saat ini menunggu dirimu!" omel Ruri di seberang sana, dengan nafas yang memburu menandakan jika wanita itu sedang kesal setengah mati dengan Bosnya.


"Aku sudah menolak kerja sama itu Ruri, tapi kenapa orang itu masih ngotot untuk bertemu dengan ku." jawab Ema tak kalah kesal.


"Aku juga tidak tahu, tapi lebih baik kamu menemuinya lebih dulu agar kamu tahu maksud dan tujuannya apa," saran Ruri, kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Huh, dasar bajingan! umpat Ema dalam hati, kemudian ia menoleh keistrinya yang sedang menatapnya dengan heran.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Fika, lalu beranjak dan memeluk suaminya.


"Tidak, tapi sepertinya aku harus berangkat sekarang. Maaf ya." Ema membalas pelukan itu dengan erat.


"Iya," jawab Fika, mendongak dan tersenyum lalu ia berjinjit sedikit dan mengecup bibir suaminya.


"Ah, kalau begini terus bisa-bisa aku tidak jadi berangkat," keluh Ema, lalu melepaskan tangan Fika yang melingkar di pinggangnya.


Fika hanya tersenyum genit sembari menatap suaminya, membuat Ema berdecak kesal karena istrinya itu terus menggodannya.


"Aku janji pulang cepat, dan kita akan melanjutkan kegiatan panas kita, oke!" dan Fika mengangguk penuh semangat.


Hem kira-kira siapa ya kliennya itu? Yang membuat Ema emosi tingkat dewa.

__ADS_1


Kasih dukungannya yuk! Dengan cara like, vote, komentar dan kasih gift seikhlasnya ya😘


__ADS_2