
Setelah berputar-putar mengelilingi jalanan kota sambil bernolstagia bersama. Kini Bondan menghentikan motornya di taman kota.
"Kenapa kita berhenti disini?" Tanya Rima, dengan keheranan. Kemudian ia turun dari motor dan di ikuti Bondan, lalu keduanyanitu memilih duduk di kursi panjang yang ada di tengah taman itu.
"Apa kamu tidak ingat, di taman kota ini kita bertemu dulu." Ucap Bondan tersenyum.
"Oh." Jawab Rima singkat, lalu memalingkan wajahnya, karena ia tidak ingin menatap pria yang ada di dekatnya itu terlalu lama.
"Hanya Oh saja?" tanya Bondan.
"Lalu aku harus menjawab apa? Semua sudah berlalu dan kita juga sudah memiliki kehidupan masing-masing, jadi lupakan masa lalu kita yang menurutku menyakitkan." Ucap Rima, pelan.
"Yang lebih terluka disini adalah aku, kamu paham!" Ucap Bondan, penuh penegasan.
"Hei, kenapa kamu marah? Ini sudah berlalu jadi jangan pernah mengungkitnya lagi." Jawab Rima, sedikit kesal.
"Ya, aku paham dan sangat paham sekali. Status sosial, umur, dan juga pekerjaankulah yang membuat keluargamu tidak merestui hubungan kita. Tapi, aku bersyukur karena berpisah dengan mu, aku menemukan wanita yang mencintai dan menerimaku apa adanya dan begitu pula aku sangat mencintainya." Ucap Bondan.
Rima menghela nafasnya sejenak dan memejamkan matanya erat seraya memijat pangkal hidungnya pelan.
"Haruskah ini di bahas lagi." Ucap Rima, sedikit geram.
"Apa kamu tahu, permintaan terakhir dari mendiang istriku adalah menyuruhku menikah lagi." Balas Bondan, menatap wanita cantik yang duduk di sebelahnya itu.
"Ya sudah menikah saja lagi." Jawab Rima, menatap Bondan sambil mengulas senyum.
"Tapi, apa kamu tahu jika wanita yang di pilihkan mendiang istriku adalah kamu!" Ucap Bondan tegas.
DEG
Senyum yang membingkai wajah Rima langsung lenyap, saat mendengar perkataan Bondan.
"Ngarang kamu!" Ucap Rima, sembari menggelengkan kepalanya.
"Terserah, kamu mau percaya atau tidak!" Jawab Bondan, lalu beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Rima.
Rima mendongak dan menatap tangan kekar itu sesaat, kemudian ia berdiri sendiri tanpa menyambut uluran tangan itu.
Bondan mengepalkan tangannya dan menghembuskan nafasnya kasar saat Rima mengabaikan uluran tangannya.
Kemudian keduanya itu berjalan menuju motor RX king yang terparkir di pinggir taman tersebut. Keduanya kini sudah menaiki motor dan sudah mengenakan Helm, setelah itu Bondan memacu kendaraannya membelah jalanan kota menuju rumah Rima. Tidak memerlukan waktu lama, Motor yang di kendarai Bondan kini sudah sampai di depan pintu gerbang yang tinggi dan kokoh.
"Terimakasih." Ucap Rima, saat sudah turun dari motor kemudian ia melepaskan helm dan menyerahkannya kepada Bondan.
__ADS_1
"Hem." Jawab Bondan singkat, dan menerima helm yang di berikan Rima. Lalu Bondan segera melajukan motornya tanpa melihat Rima yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Hati-hati." Lirih Rima dan melambaikan tangannya pelan, saat melihat Motor yang di kendarai Bondan sudah menjauh.
*
*
*
*
Bondan melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dan ia mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Rima saat di taman kota puluhan tahun yang lalu.
Flasback On
Seorang pria memakai sweater berwarna putih gading dengan membawa tas slempang yang bertengger di bahu kanannya sambil memegang sebuah payung agar dirinya terlindungi dari air hujan. Pria itu berjalan tergesa di tengah taman kota yang terguyur oleh hujan yang lumayan deras di sore hari itu. Ia berjalan tergesa dan tidak sengaja payung yang ia pegang bersenggolan dengan payung milik seorang wanita yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Maaf." Ucap Pria itu yang tak lain adalah Bondan.
"Iya." Jawab wanita itu, dan tersenyum manis hingga membuat Bondan terpesona dengan senyuman manisnya. Setelah itu keduanya melanjutkan langkahnya lagi, namun keduanya itu saling menoleh dan melemparkan senyum.
Love at the first sight, itulah yang di rasakan oleh Bondan saat itu. Jantungnya berdetak sangat cepat saat mengingat wajah cantik dan senyuman manis wanita tersebut.
Setelah kejadian itu Bondan selalu datang setiap hari ketaman kota itu karena ia berharap bisa bertemu dengan wanita itu lagi. Harapan tinggalah harapan setiap hari selama hampir satu bulan ia mendatangi taman tersebut, tapi ia tidak pernah bertemu dengan wanita itu lagi hingga pada akhirnya ia menyerah. Dan hari-harinya ia lalui seperti biasa dan dengan perlahan ia mulai melupakan wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
Namun pada suatu ketika saat ia pulang kerja dan melewati taman kota ia melihat wanita cantik yang sedang sendirian di taman itu, padahal hari sudah hampir tengah malam. Karena penasaran dan juga wanita itu terlihat tidak baik-baik saja, ia pun berjalan mendekatinya. Pada saat itu ia tidak memiliki kendaraan jadi mau kemanapun ia berjalan kaki atau naik angkutan umum.
"Mbak?" Panggil Bondan, saat sudah berada di dekat wanita itu. Terdengar isak tangis yang lirih dari wanita berbaju biru dan sedang menangkup wajahnya dengan kedua tangannya itu.
"Iya." Jawab Wanita itu dan mendongakkan kepalanya. Kemudian wanita itu menghapus air matanya dengan cepat dan menatap Bondan dengan mata sembabnya.
Bondan tersenyum lebar saat ia melihat wanita itu. Wanita yang beberapa bulan yang lalu menghantui pikirannya dan telah mencuri hatinya.
Bondan hari itu sangat bahagia sekali karena di pertemukan kembali dengan wanita tersebut. Tapi, sepertinya wanita itu tidak mengingatnya.
"Mbak kenapa?" Tanya Bondan.
"Tidak apa-apa Mas." Jawab Wanita itu singkat.
"Cerita mbak, siapa tahu dengan bercerita bisa membuat hatimu lega." Ucap Bondan, lalu tanpa di suruh ia mendudukan diri di samping wanita itu.
"Aku Bondan, kamu siapa?" Ia memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Aku Rima." Jawabnya dan menjabat tangan Pria yang duduk di sampingnya.
"Sekarang ceritakan masalah Mbak, siapa tahu aku bisa membantu." Ucap Bondan, seperti pahlawan yang kemalaman.
Sepertinya wanita itu terlihat ragu, namun pada akhirnya wanita itu menceritakan masalahnya kepada Bondan.
"Sebulan yang lalu suamiku meninggal dunia, dan aku disini hanya ingin meluapkan kesedihanku saja." Ucap Rima, dengan pelan.
"Jadi Mbak jan—" Bondan terlihat syok sekali.
"Iya saya Janda punya anak dua." Jawab Rima, menundukan kepalanya.
"Tapi, mbaknya masih terlihat sangat muda."
"Iya, saya nikahnya umur 15 tahun itupun dijodohkan dan suamiku meninggal karena kecelakaan mobil." Jawab Rima, menjelaskan statusnya.
"Masnya kaget ya?" tebak Rima.
"Iya sih, he he hee." Bondan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena ia tidak menyangka jika wanita yang sudah mencuri hatinya adalah seorang janda punya buntut dua lagi.
Tapi yang namanya cinta, mau seperti apapun statusnya, Bondan tetap ingin mengejar cintanya. Karena menurut Bondan, mau janda ataupun perawan sama saja.
Setelah kejadian ia di pertemukan lagi dengan Rima, Bondan tidak menyiakan kesempatan. Mereka saling bertukar nomer Ponsel dan sering bertemu saat ada kesempatan. Rima yang sering curhat dengan keadaannya yang menjadi single parent dan Bondan menjadi pendengar yang baik, dan lama kelamaan Rima mulai nyaman dengan Bondan dan disaat Rima sudah merasa nyaman dengannya, ia memberanikan diri untuk mengungkapkan cintanya yang selama ini ia pendam. Dan ia sangat bersyukur dan bahagia karena Rima menerima cintanya.
Tapi, kebahagiaannya yang mereka rasakan hanya sesaat, karena cinta mereka terhalang oleh restu keluarga Rima.
Flashback Off
Udah nggak penasaran lagi kan, perjalanan cinta Ayah Bondan itu nggak mulus seperti jalan tol🤧
Yang mau lihat pertemuan Bondan dan Rima, bisa cek IG emak yak😘
Kasih dukungan semampu kalian yak😘
Emak udah up 3 bab loh.
bonus Visual
Bondan
Rima, aslinya memang sudah tua ya guys dan wajahnya asli awet muda. Jadi Emak kalau milih visual nggak asal comot ya.😘
__ADS_1