
Tidak terasa sudah satu minggu Fika berada di rumah sakit, dan hari ini ia sudah di perbolehkan pulang oleh dokter karena keadaannya sudah berangsur membaik begitu pula dengan kandungannya, akan tetapi masih di sarankan untuk bedrest sampai kandungannya benar-benar kuat.
"Ingat pesanku, Nue. Jaga istrimu lebih ekstra lagi." Ucap Ricky, mengingatkan.
"Ya, aku akan selalu menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku." Balas Ema, lalu mengucapkan banyak terimakasih kepada Ricky.
Ricky tersenyum lebar, kemudian ia berkata. "Ibumu cantik sekali, jomblo nggak ya?" Ricky berkata dengan suara pelan sembari melirik Rima yang sedang berbincang dengan Fika dan juga Bondan.
"Mau di boxing sama calonnya, lo?" Tanya Ema sembari melirik Bondan, dan Ricky mengikuti tatapan mata Ema.
"Gila! Serius?" Tanya Ricky, sedikit tergelak dan menggelengkan kepalanya pelan, karena yang Ricky tahu jika Bondan dan Rima adalah besan, tapi siapa sangka jika diantara keduanya itu ada hubungan lain, sedikit tidak bisa di percaya memang, tapi itulah yang namanya cinta.
"He'em, CLBK bro." Jawab Ema, ikut tergelak.
"Lagian kamu itu sudah tua dan sudah kepala 4, kenapa nggak cari pasangan dan nikah?" Tanya Ema, kepada Ricky.
"Sok tahu lo! Gue ini duren sawit! Pernikahan gue cuma bertahan 2 tahun karena mantan istri gue selingkuh." Jelas Ricky, lalu menghela nafasnya pelan.
"Nggak tahu aku, aku kira kamu itu jomblo abadi eh ternyata nasibmu lebih para dari kaum jomblo, ha ha haa." Ema meledek Ricky lalu tergelak keras, membuat ketiga orang yang sedang berbincang itu menatap heran kearah Ricky dan Ema.
__ADS_1
"HUH! Sudah sana pulang! Eneg gue lihat muka lo yang glowing itu!" sungut Ricky dan mendengus kesal.
"Sirik ya!" Balas Ema dan masih tergelak keras, kemudian Ema mengajak istrinya pulang kerumah.
*
*
*
Setelah sampai dirumah, Ema langsung menggendong Fika menuju kamarnya.
"Iya, kamu juga. Pasti kamu sangat lelah karena menjagaku selama di rumah sakit." Ucap Fika, lalu menarik tangan suaminya agar merebahkan diri di sampingnya.
"Nggak lelah kok, justru aku malah seneng karena aku menjaga junior dan juga istriku yang cantik ini." Ucap Ema, lalu merebahkan dirinya disamping Fika dan memeluk erat Fika dari samping.
"Terimakasih." Ucap Fika tulus, dan mengecup bibir suaminya dengan lembut.
"Sama-sama sayang." Balas Ema, tersenyum lalu menarik tengkuk istrinya dan mellumat bibir istrinya itu dengan penuh kelembutan dan penuh cinta. Fika pun terhanyut dan membalas setiap pagutan dari suaminya itu. Dan ciuman yang awalnya lembut kini semakin menuntut.
__ADS_1
Ema mellumat rakus dan penuh damba bibir istrinya yang sudah sangat ia rindukan selama satu minggu ini. Saat dirumah sakit, Ema menahan sekuat tenaga agar tidak mencium bibir istrinya yang ranum itu.
"Eugh, Nue." Fika melenguh ketika ciuman panas Ema sudah berpindah kelehernya dan memberi jejak kemerahan disana.
Ema terus mencumbu istrinya, dan kedua tangannya kini sudah meloloskan baju beserta br* yang di kenakan istrinya, hingga menyembullah dua bulatan kenyal yang juga sangat ia rindukan. Bulatan kenyal itu terlihat kenyal dan semakin membesar.
"Aku sangat merindukan mereka, sayang. Kenapa mereka semakin bertambah besar." Ucap Ema serak, sembari meremat dua benda kenyal itu dan memelintir pucuk bulatan kenyal itu bergantian, membuat Fika melenguh dan mendesaah nikmat.
Ema menundukan kepalanya, kemudian ia menghisap pucuk bulatan kenyal itu bergantian dan sangat rakus.
"Eugh, Nue! Hentikan." Dessah Fika sudah tidak tertahankan lagi, dan ia semakin menekan kepala Ema agar suaminya itu menghisap pucuk bulatan kenyal miliknya lebih dalam dan kuat lagi.
"Aku sudah tidak bisa menahannya." Ucap Ema serak, kemudian ia beranjak dari atas tubuh Fika lalu ia melepaskan celana panjangnya dan juga Boxernya.
"Bantu si elang muntah, Yank." Pinta Ema dengan suara beratnya, bertanda jika dirinya sangat bergairah.
Aku traveling😆
Kasih dukungannya dengan cara tekan like, vote, komentar dan kasih gift semampu kalian😘
__ADS_1