Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Kunyit berulah lagi!


__ADS_3

Seharian itu Emanuel menunggu istrinya yang tidak kunjung kembali padahal hari sudah semakin sore.


Kamu ada di mana, Sayang? Kenapa tidak kembali lagi, aku mohon jangan pergi meninggalkan aku. Batin Ema sangat resah, dan terus menatap pintu ruangan itu, berharap jika istrinya datang.


"Sudah waktunya badanmu di lap," ucap Rima, membuyarkan lamunan Ema.


"Tidak mau, Mam," tolak Ema, sembari menutupi dada dan juga bagian bawahnya. "Ish! jangan seperti anak kecil! Mami dulu sudah terbiasa memandikan kamu," kesal Rima, lalu berjalan mendekati putranya untuk melepaskan yang dikenakan Ema.


"Itu 'kan dulu saat aku masih berusia lima tahun! Sekarang berbedalah!" sungut Ema, wajahnya kini terlihat memerah karena malu. Bagaimana mungkin dirinya yang sudah dewasa ingin di lap oleh ibunya. Ya, walaupun Rima ibunya sendiri akan tetapi rasa malu itu masih ada bukan?


"Ayolah, jangan membuang waktu Mami!" kesal Rima lalu melepaskan baju Ema dengan paksa.


"BIG NO!" tolak Ema, dan berusaha untuk mempertahankan bajunya yang akan diloloskan Rima dari tubuhnya. Dan aksi tarik menarik baju pun terjadi, hingga Ema lah pemenangnya.


"Huh! Sebenarnya kamu itu kenapa, sih?" kesal Rima sembari mengembuskan nafasnya dengan kasar.


"A aku malu," cicit Ema, lalu menundukan wajahnya.


Bibir Rima berkedut ingin tertawa keras ketika mendengar pengakuan putranya.


"Ada apa dengan kalian ini?" tanya Bondan yang baru memasuki ruangan itu, melihat istrinya berkacak pinggang seperti sedang memarahi Ema.


"Ayah, dimana Fika?" tanya Ema,tanpa menjawab pertanyaan Bondan.

__ADS_1


"Fika sedang beristirahat di rumah, dia kelelahan," jawab Bondan, lalu berjalan menghampiri istrinya dan mencium pipi Rima dengan mesra, membuat Ema yang melihatnya pun mendengus kesal.


"Benarkah?" tanya Ema, tidak percaya dan diangguki Bondan dengan pasti. Dan akhirnya Ema bernafas lega, namun hatinya masih tidak tenang dan masih merasa bersalah dengan istrinya.


"Yah, antar aku ke kamar mandi," pinta Ema, kepada Bondan.


Kemudian Bondan mengiyakan dan mengangkat badan Ema dengan hati-hati masuk kedalam kamar dan mendudukannya diatas closet, lalu meletakkan kaki kiri Ema yang masih di perban itu diatas kursi yang sudah di sediakan disana.


"Apa kamu memerlukan bantuan?" tanya Bondan, ketika melihat Ema melepaskan bajunya. "Tidak, aku bisa melakukannya sendiri," jawab Ema.


"Baiklah, jika sudah selesai panggil Ayah," ucap Bondan dan diangguki Ema. Kemudian Bondan segera keluar dari kamar mandi.


*


*


*


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


Pintu diketuk dari luar dan masuklah beberapa polisi kedalam ruang rawat Ema.


"Mam?" Ema dan Rima tegang ketika melihat pihak kepolisian mendatanginya.


"Ini dia Pak, pelakunya! Dia yang membuat putraku koma!" teriak Pria tua dengan keras saat memasuki ruangan tersebut, sembari menunjuk Ema yang mematung diatas tempat tidur.


"Hei!! Apa-apaan ini? Apa matamu buta, kalau anakmu lah yang mulai lebih dulu! Lihat putraku juga terluka dan kakinya retak!" teriak Rima tidak kalah keras, dan menatap tajam pria tua itu, membuat Ayah kunyit terkesiap dan langsung menyembunyikan diri dibelakang polisi tersebut.


"Tenang, Bu, tenang. Berdasarkan CCTV yang ada di restoran tersebut jika putra ibulah yang bersalah dan memukul putra Tuan Turmeric lebih dulu," jelas Polisi tersebut sekaligus menenangkan situasi yang memanas.


"Enak saja! Anakku tidak besalah! Salahkan saja si kunyit itu yang ingin merebut istri anakku!" teriak Rima lagi. "Sini kamu! Dasar pria tua tidak tahu diri! Aku penyet kamu biar jadi kunyit asam!" ucap Rima dengan nada berapi-api, membuat pria tua itu takut lantaran ia masih mengingat betapa beringasnya Rima memukili kepalanya sampai bocor.


"Tapi, tetap saja jika anakmu salah! karena beraninya main keroyokan!" pria tua itu tidak terima jika putranya disalahkan.


"Bohong dia pak polisi, dia yang keroyokan pakai membawa banyak bodyguard lagi!" tegas Rima.


Polisi tersebut melirik Tuan Turmeric dengan tajam. "Jika anda ketahuan menyabotase bukti yang ada, maka anda yang akan ditangkap, Pak!" tegas Polisi tersebut, karena saat ia melihat bukti rekaman CCTV, hanya ada Ema yang melakukan penyerangan sampai Antoni terkapar.


"Tidak pak! bukti sudah asli dan sekarang bawa saja anak itu dan masukan kedalam jeruji besi!" ucap pria tua itu tanpa ada keraguan.


"Silahkan tangkap Emanuel, tapi kamu akan berhadapan dengankku!" suara bariton itu terdengar sangat tegas dan menakutkan.


"Tuan?!" pekik mereka bersamaan, saat melihat seorang pria yang baru memasuki ruangan itu.

__ADS_1


Hayo siapa ya? yang datang?🤭


Kasih dukungannya Mak, nggak semangat nih🤧


__ADS_2