
Ema berjalan keluar dari rumah minimalis itu dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya.
"Nue, apa yang terjadi?" Tanya Fika, saat ia melihat wajah suaminya terlihat kusut.
Ema tidak menjawab, kemudian ia segera masuk kedalam mobil dan duduk di balik kemudi, begitu pula Fika mengikuti suaminya.
"Nue?" Fika mengeluk pundak suaminya dengan lembut.
"Ternyata benar jika mereka masih saling mencintai." Ucap Ema, dengan pelan bahkan air matanya kini turun membasahi pipinya.
"Benarkah? Dan kita menjadi penghalang kisah cinta mereka." Lirih Fika, ia terkejut bercampur dengan sedih.
"Kita bukan penghalang, kita sudah ditakdirkan untuk bersama, pasti ada jalan keluarnya. Agar kita semua tidak tersakiti." Jawab Ema, ia menoleh kepada istrinya, kemudian ia mengelus tangan istrinya dengan sangat lembut.
"Bagaimana caranya?" Lirih Fika, kemudian ia mengusap lembut rahang suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar itu dengan lembut, kemudian beralih menghapus air mata suaminya yang menetes di pipi.
Ema mengambil tangan Fika yang menghapus air matanya itu, kemudian ia mengecup punggung tangan Fika dengan lembut dan penuh cinta.
"Nanti akan aku pikirkan, kamu tidak boleh stres karena sedang dalam proses pencetakan Nue Junior." Jawab Ema, membuat Fika melotot sempurna.
"Jadi kamu sudah merencakan semuanya? Tidak pernah memakai si dur*x." Amuk Fika dengan menggebu, bahkan kini ia memukuli lengan suaminya dengan kuat.
"Sayang, sakit!" Pekik Ema, saat mendapatkan serangan bertubi-tubi dari istrinya.
__ADS_1
"Rasakan pembalasanku!" Ucap Fika, masih memukuli lengan Ema.
"Iya, aku minta maaf. Semua itu aku lakukan karena aku ingin segera memiliki baby." Jawab Ema.
Fika langsung terdiam saat mendengar kata 'Baby' keluar dari mulut suaminya. Dan tangannya juga terhenti memukuli suaminya.
"Benarkah?" Tanya Fika.
"Iya, usiaku sudah tidak muda lagi dan kita juga sudah pernah membahasnya, bukan." Ucap Ema, lalu merengkuh tubuh istrinya kedalam dekapannya, kemudian ia mencium pucuk kepala istrinya dengan mesra.
"Iya." Jawab Fika, sembari mengangguk pelan.
"Aku mencintaimu." Ucap Ema, lalu mengurai pelukannya dan kemudian ia mencium bibir istrinya itu dengan lembut dan menyesapnya bergantian.
*
*
*
*
Bondan menyenderkan punggungnya di dinding dekat jendela ruang keluarga, kemudian ia mendongakkan kepalanya dan ia menggeleng pelan disana.
__ADS_1
Aku tidak bisa egois. Dan aku harus bisa membuang rasa ini. Ya tuhan, sanggupkah aku? Batin Bondan, pedih.
Cinta buta itu tidak memandang usia, hal itu yang dirasakan Bondan dan Rima saat ini. Akan tetapi, rasa cinta yang sudah lama terpendam itu kini mulai tumbuh kembali dan sudah bersemi, namun keduanya itu harus merelakakan rasa cinta itu layu dan membiarkannya mati, karena tidak sanggup untuk mempertahankannya. Sangat sulit untuk di pertahankan karena ada pembatas yang kuat diantara keduanya.
Sedangkan Fika dan Ema baru saja melepas pagutannya, keduanya kini terlihat bahagia dan melupakan sejenak permasalahan yang ada.
"Aku juga sangat mencintaimu." Ucap Fika tersenyum manis dan menatap suaminya itu penuh dengan cinta.
"Terimakasih, karena sudah mencintai segala kekuranganku." Ucap Ema sembari, mengusap bibir Fika yang terlihat basah karena ulahnya.
"Terimakasih juga karena sudah mencintai gadis bar-bar sepertiku." Balas Fika.
"Kita saling melengkapi, maka dari itu kita di takdirkan bersama." Ucap Ema tersenyum manis, dan membuat Fika langsung menghambur ke pelukkannya.
"I Love You, so much." Lirih Fika, di pelukan suaminya.
Ada bahagia dan nyeseknya juga...🤧
Dukung terus karya Emak ya, kasih dukungan seikhlasnya😘
Mampir yuk ke karya temen aku 🤗
__ADS_1