
Bondan semakin mempercepat gerakannya, tanpa memperdulikan ketukan pintu di luar kamar sana.
"Bon, pelan," pinta Rima disela desaahannya, dan kedua tangannya mencengkram punggung Bondan.
"Sebentar lagi, sebentar lagi," racau Bondan dan semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya tubuh keduanya menegang dan mencapai pelepasan bersama.
Nafas keduanya terengah dan peluh membasahi baju keduanya. Kemudian Bondan mencabut senjatanya dan berjalan jalan menuju kamar mandi di ikuti oleh Rima, keduanya itu membersihkan sisa percintaan mereka.
"Terimakasih, sayang." ucap Bondan, lalu mengecup kening Rima dan memeluk tubuh ramping itu sesaat.
"Iya, tapi kakiku lemas sekali," keluh Rima, sembari menahan kakinya yang terasa bergetar.
Bondan menatap kaki Rima yang terlihat bergetar, kemudian ia tergelak keras. "Maaf, aku terlalu kasar ya," ucap Bondan, lalu memapah istrinya keluar dari kamar mandi.
Tok
Tok
Tok
"Mamii!!" teriak Ema dari luar kamar dan masih terus mengetuk pintu.
"Astaga anak itu, sudah seperti anak ayam yang kehilangan induknya," gerutu Bondan, lalu ia mengambil pakaian Rima dari dalam lemari.
Rima yang mendengar gerutuan Bondan hanya terkekeh pelan.
"Ini ganti pakaianmu, bajumu basah karena keringat percintaan kita," bisik Bondan, sembari menyerahkan dress berwarna pink kepada Rima.
__ADS_1
"Makasih," ucap Rima malu, menerima dress tersebut lalu segera memakainya berikut dengan underwarenya.
Sedangkan Bondan membuka bajunya yang basah itu dan terlihatlah badannya yang kekar yang di penuhi tatto itu.
Rima menatap tubuh atletis bondan yang atletis itu sampai tidak berkedip.
Benarkah itu suamiku?
Kemudian Bondan membuka pintu kamar tersebut, membuat orang yang di balik pintu tersebut berdecak kesal sembari berkacak pinggang.
"Kamu ini berisik sekali!" kesal Bondan.
"Kalian ini habis enak-enak ya?!" tanya Ema dengan nada sewot, ketika melihat Bondan bertelanjang dada ditambah lagi dada Bondan di penuhi dengan keringat.
"Menurutmu, jika pasangan halal di dalam kamar sedang apa?" tanya Bondan balik dan menyeringai licik.
"Apa kamu bilang!" pekik Bondan, tidak terima dengan keputusan menantunya itu.
"Sudah! kalian ini selalu bertengkar. Ayo antar Mami pulang," sela Rima dan menarik tangan putranya. Tidak lupa, Rima berpamitan dengan Bondan dan juga Fika. Dan ia berjalan dengan perlahan karena saat ini sedang manahan kakinya yang bergetar hebat.
Ya ampun, rasanya aku ingin pingsan.Tenaga Bondan seperti badak padahal hanya lima menit, bisa membuat badanku lemas dan kakiku bergetar seperti ini. Apa kabar diriku jika satu kamar dengannya setiap hari, mungkin aku akan kesulitan berjalan. Batin Rima bergidik ngeri sendiri.
"Mami tidak apa-apa?" tanya Ema, ketika melihat ibunya berjalan sangat pelan.
"Tidak, ini tadi kaki Mami sedikit keseleo," bohong Rima, sedangkan tersangka utamanya, hanya menahan senyumannya.
__ADS_1
Jangan sampai Nue tahu jika kakiku bergetar karena ulah Ayahnya. Batin Rima.
"Mau aku gendong?" tanya Bondan, saat ini ketiganya itu akan menuruni tangga. Dan tanpa mendengar jawaban dari istrinya, Bondan langsung menggendong Rima menuju halaman rumah dimana mobil Ema sudah terparkir disana.
"Hih, sok romantis!" dumel Ema, mengikuti Ayah dan ibunya itu dari belakang.
*
*
*
*
Saat ini Rima dan Emanuel sudah berada di dalam mobil.
"Mami, aku tidak mau punya adik," celetuk Ema, tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang fokus menyetir mobil.
"Hah?!" Rima menoleh dan terkejut ketika mendengar ucapan putranya.
Ema menoleh dan menatap ibunya dengan intens, Rima yang ditatap seperti itu langsung menundukan pandangannya dan salah tingkah.
Bagaimana ini?
Hayoloh, Mami😆
__ADS_1
Kasih dukungannya ya, seikhlasnya, hari ini udah up 4 bab😚