
Disisi lain Fika yang sedang berada di ruang tamu bersama Ayah Bondan dan Mami Rima. Fika merasakan perutnya kram sejak beberapa saat yang lalu dan langsung meminta kedua orang tuanya itu datang kerumahnya.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Bondan dengan cemas.
"Belum, ini perutnya masih terasa kencang," Rima yang menjawab sembari mengusap-usap perut menatunya itu. Wajah Rima terlihat sangat cemas dan perasaannya juga tidak enak sejak tadi.
"Seharusnya kamu melarang suamimu untuk pergi," ucap Bondan, menghembuskan nafasnya dengan resah.
"Apa terjadi sesuatu dengan Nue? Perasaan Mami sejak tadi tidak enak," ucap Rima dengan sangat cemas.
"Iya, aku juga merasa seperti itu Mam, perasaanku sejak tadi juga tidak enak. Dan aku sudah menghubungi Nue tapi tidak diangkat," jelas Fika dengan wajah yang tampah resah, sembari mengusap perutnya yang sudah terlihat membuncit itu.
Tidak berselang lama ponsel Fika yang tergeletak di atas sofa berdering menandakan jika ada panggilan masuk. Fika mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Ruri?" gumam Fika, kemudian dengan cepat ia mengangkat telepon tersebut.
"Iya Ruri? APA!" pekik Fika, sangat terkejut ketika mendengar kabar dari Ruri, jika suaminya tidak baik-baik saja. Tubuh Fika langsung lemas seperti tidak bertulang. Bondan dan Rima juga tampak panik, kemudian Bondan meraih ponsel putrinya dan berbicara dengan Ruri.
"Kami akan segera kesana," tegas Bondan, rahangnya mengeras dan juga sangat geram. Kemudian ia segera mematikan telepon tersebut.
Setelah mendapatkan kabar dari Ruri, Bondan, Rima dan Fika berangkat menuju restoran dimana Ruri dan Ema berada. Dan tidak membutuhkan waktu lama, ketiganya itu tiba di restoran tersebut.
Di dalam restoran tersebut tampak kacau apalagi ada beberapa orang berbaju hitam yang sedang bertarung melawan seorang pria berbadan kekar.
__ADS_1
Ditambah lagi ada seorang pria tua yang duduk di salah satu kursi dengan santai sembari menyaksikan aksi duel tersebut, dan pemandangan menyayat hati adalah saat melihat Emanuel terlihat tidak berdaya di atas kursi. Apa lagi Ruri dan Ema juga kepung beberapa pria yang memakai baju serba hitam.
"Pak Bondan, tolong suami saya," mohon Ruri dengan sangat ketika ia melihat Bondan sudah mendekat. Bondan menganggukan kepalanya kemudian ia ikut melawan beberapa pria yang sedang mengepung suami Ruri.
Fika menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya kuat, ketika melihat suaminya tidak berdaya, apa lagi saat ia mengetahui jika yang mencelakai suaminya adalah si kunyit.
"Mami disini saja," titah Fika, kepada Rima.
"Tapi—"
"Bahaya Mom!" tegas Fika dan Rima menganggukan kepala patuh dan memilih bersembunyi dulu disudut restoran tersebut.
Kemudian Fika berjalan mendekati suaminya, tapi dirinya di cegah oleh pria yang berbaju serba hitam itu.
"Siapa kau gadis kecil? Berani melawan kami?" ejeknya lalu menahan tangan Fika, sedangkan Fika yang sudah meradang pun langsung menarik tangan pria tersebut lalu memelintir tangan itu dengan kuat, membuat pria itu meringis kesakitan.
"Minggir kalian semua!" teriak Fika dengan sangat keras.Hatinya terasa sangat sakit ketika melihat suaminya tidak berdaya disana dan semua ini karena dirinya.
"Ternyata gadis ini yang membuat putraku tergila-gila denganmu?" tanya pria tua, yang berjalan mendekati Fika. Ruri yang menyaksikan itu semua merasa ketakutan ditambah lagi kondisi Fika sedang mengandung.
Disisi lain Bondan dan Suami Ruri sedang bertarung melawan para Bodyguard yang di kerahkan oleh Ayah Antoni.
Fika menoleh dan menatap sinis pria tua yang berjalan kearahnya itu.
__ADS_1
"Oh, jadi ini orang tua Kunyit? Apakah anda tuan Kunyit?"
"Tutup mulutmu itu! Apa spesialnya dirimu hingga membuat seorang Antoni bisa terobsesi dengan gadis rendahan sepertimu?" tanyanya dengan geram dan menatap tajam gadis yang ada di hadapannya itu. Ia sangat marah saat mengetahui putranya menjadi tranding topik di media sosial hanya karena memperbutkan istri seseorang. Dan yang membuatnya lebih marah lagi adalah ketika ia melihat putranya sudah tergeletak tidak sadarkan diri dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
"Sekarang aku tahu, dari mana sifat angkuh dan kesombongan Kunyit itu berasal." ucap Fika menatap sinis pria yanga di hadapannya itu.
"Beraninya kau!!" pria itu mengangkat tangannya dan ingin melayangkan tamparan ke pipi Fika, namun gerakannya tertahan ketika tangannya di pukul oleh seseorang.
"Berani ingin menyakiti putriku!! Rasakan ini!" teriak Rima, lalu melepaskan sepatu heelsnya dan memukulkannya kearah pria tua itu berulang kali, sehingga membuat pria tua itu meringis kesakitan.
"Sakit .. Sakit ... Sakit ..." teriak pria tua itu sembari menutupi kepala botaknya dengan kedua tangannya, agar tidak terkena pukulan heels tersebut.
"Rasakan!! Mamam heels ku ini!" maki Rima dan terus memukulkannya sepatunya kearah pria tua itu.
"Kalian bodyguard bodoh, kenapa diam saja?!" maki pria tua itu kepada beberapa Bodyguardnya yang hanya melihat dirinya kesakitan.
"Jika kalian berani menolong Bos kalian! Maka bersiaplah untuk merasakan heels ku ini!" sentak Rima, lalu melepaskan sepatunya yang sebelahnya lagi dan menunjukan heelsnya yang rucing itu.
Gleg
Masih gemes beud, pokoknya..
Kasih dukungannya ya sezeng, terimakasihh 😘
__ADS_1