
Hubungan Fika dan Ema yang sedang tidak baik, tentu saja berimbas kepada Rima dan Bondan. Pasangan suami istri yang sudah berumur itu, juga saling diam dan mereka berbicara seperlunya saja. Bondan yang merasa kesal dengan sikap menantunya, sedangkan Rima merasa malu dan tidak enak hati kepada Bondan karena ia merasa gagal mendidik putranya.
"Ayo kita segera kerumah sakit, gantian menjaga Nue," ajak Bondan, saat melihat istrinya sudah selesai berdandan. Bondan sangat khawatir dengan kondisi putrinya.
Ya, Fika bersikeras untuk menjaga suaminya sendiri, dan selalu menyuruh Bondan dan Rima untuk beristirahat dirumah.
"Iya," jawab Rima singkat, lalu mengambil tasnya dan berjalan mengikuti suaminya yang sudah keluar kamar lebih dulu.
Sampai dirumah sakit, Rima dan Bondan berjalan tergesa. Namun pada saat ia akan melintasi lorong menuju kamar rawat Ema, mereka melihat ada beberapa orang yang sedang menolong ibu hamil yang pingsan.
Bondan dan Rima mendekat, lalu melihat kondisi ibu hamil yang pingsan tersebut.
"Astaga!" pekik Bondan dan Rima bersamaan.
"Biar saya saja!" ucap Bondan, saat melihat wanita tersebut akan di gendong salah satu orang yang ada disana.
"Kamu temani, Nue, dan masalah ini biar aku yang menangani," ucap Bondan kepada istrinya.
"Tapi—"
"Kamu jangan khawatir," potong Bondan dan berusaha untuk meyakinkan istrinya. Dan dengan sangat terpaksa, Rima menganggukan kepalanya pelan.
*
*
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Bondan cemas, setelah Dokter memeriksa wanita hamil itu. Ya, Bondan membawanya ke UGD agar segera ditangani oleh dokter.
__ADS_1
"Pasien sepertinya sedang tertekan baik pikiran maupun batinnya, dan itu sangat berpengaruh kepada kandungannya, beruntung babynya sudah sangat kuat. Hanya saja pasien harus istirahat total dulu. Dan apakah bapak ini suami pasien?" jelas Dokter sekaligus bertanya.
"Bukan, tapi saya Ayahnya," jawab Bondan, dan dokter itupun menganggukan kepalanya berulangkali, kemudian dokter tersebut pamit undur diri.
"Kenapa kamu menjadi seperti ini, Nak?" tanya Bondan, sembari meraih tangan putrinya. Hatinya tentu saja sangat sakit saat melihat putrinya lemah tidak berdaya diatas tempat tidur pasien itu.
"Ayah? Aku dimana?" panggil Fika lemah, saat sudah membuka kedua matanya, ia melihat ayahnya yang berdiri di dekatnya dan juga ia berada ditempat yang asing.
"Iya, sayang? Kamu tadi pingsan," ucap Bondan dan tersenyum menatap putrinya. "Jangan banyak pikiran dulu, kamu harus fokus dengan kandunganmu dan juga kesehatan kamu dulu," lanjut Bondan.
"Tapi Yah—"
"Ayah mohon, ini semua demi kebaikan kamu dan juga calon baby kalian," mohon Bondan dengan sangat.
"Tapi Nue?"
*
*
*
Disisi lain Ema sedang menunggu kedatangan istrinya, dan ia terus menatap pintu kamar ruang rawatnya.
"Kamu sedang menunggu siapa?" tanya Rima, saat melihat putranya terus menatap pintu.
"Istriku, Mam," jawab Ema tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Kalian bertengkar lagi?" tanya Rima penuh selidik dan menatap tajam putranya.
"Sedikit," cicit Ema, dan tentu saja jawabannya itu membuat Rima meradang.
"Kalau begitu jangan berharap untuk bisa bertemu dengannya lagi!" seru Rima.
"Apa maksud mami?"
"Tidak ada maksud apa-apa, biasanya kalau wanita kecewa dengan pasangannya itu akan mencari pasangan baru dan lebih baik lagi tentunya!" jawab Rima santai.
"Mom! Istriku tidak seperti itu!" kesal Ema, mulai emosi.
"Bisa saja 'kan, karena Fika sudah terlalu kecewa dengamu," mendengar perkataan ibunya tentu saja membuat Ema resah dan juga takut jika yang diucapkan ibunya benar. Ia tidak bisa membayangkan jika istrinya pergi meninggalkannya.
Sabar ya untuk Fika dan Nue❤
Kasih dukungannya ya.
Like!
Vote!
Komentar!
Favorit!
Dan kasih Gift❤
__ADS_1