Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Ada soang


__ADS_3

Pagi harinya, Fika, sudah siap untuk berangkat sekolah dan Ema pun sama sudah siap untuk bekerja, sedangkan Bondan masih bersantai di rumah sambil menikmati kopi di teras rumah.


"Sudah siap, sayang?" Tanya Ema, sembari memakai Jasnya, karena ia hari ini akan mengadakan meeting yang tertunda kemarin.


"Sudah." Jawab Fika, lalu mengambil tasnya yang ada di atas meja belajar kemudian memakainya.


"Sebentar, bibir kamu kering. Harusnya kamu pakai pelembab bibir, sini." Ema menarik tangan istrinya, kemudian ia mengambil pelembab bibirnya di atas meja rias Fika, kemudian ia mengoleskannya pelembab bibir itu di permukaan bibir istrinya.


"Nah, sudah lembab bibir kamu, tapi ada yang kurang." Ucap Ema, sembari meneliti wajah istrinya yang terlihat manis dan cantik itu.


"Apa yang kurang?" Tanya Fika, dan mengerutkan keningnya.


Bukannya menjawab, Ema, malah tersenyum penuh arti kemudian ia menarik tengkuk istrinya lalu ia mengecup bibir itu dan menyesapnya dengan lembut.


Fika membulatkan matanya dengan lebar, karena ia terkejut saat mendapat serangan mendadak itu. Melihat tidak ada respon dari istrinya, Ema menggigit bibir bawah Fika, agar istrinya itu membuka mulut. Dan benar saja Fika, langsung membuka sedikit mulutnya dan dengan cepat Ema memasukan lidahnya kedalam mulut Fika dan selanjutnya adegan perang bibir dan lidah pun tidak terelakan lagi.


"Eugh." Fika melenguh dan mencengkram pundak suaminya, saat Ema semakin memperdalam ciumannya dan meremat kedua gudukan kenyal miliknya bergantian.


Mendengar suara lenguhan Fika, membuat Ema tersadar dan melepaskan ciuman panas itu. Kemudian Ema menarik Fika kedalam pelukannya, dan mengecup kening istrinya dengan mesra. Nafas keduanya memburu menandakan jika keduanya itu tengah dilanda gairah yang membara.


"Kebiasaan." Kesal Fika, lalu mengurai pelukkannya.


"He he he, bikin candu sih. Sekarang bibir kamu sudah lembab sempurna." Ucap Ema terkekeh pelan, lalu ngusap pemukaan bibir Fika dengan ibu jarinya.


"Modus ah modus!!!" Sungut Fika, lalu keluar dari kamar dengan perasaan kesal.


"Yang di modusin juga mau, perasaan tadi kamu juga menikmati deh." Ucap Ema pelan, saar sudah berjalan di belakang Fika.

__ADS_1


"Huh." Fika hanya mendengus kesal saja, dan mengabaikan suaminya.


Jantungku, ya ampun. Batin Fika, sambil mengelus dadanya, lantaran jantungnya berdegup dengan cepat saat di perlakukan seperti itu oleh Ema.


"Ayah, kita berangkat ya." Ucap Fika, saat berada di hadapan Bondan.


"Iya, hati-hati." Jawab Bondan, lalu mengulurkan tangannya dan dengan sigap, Fika mencium punggung tangan Ayahnya, begitu pula dengan Ema melakukan hal yang sama.


"Eh, tunggu. Kenapa bibirmu terlihat bengkak? Dan kenapa juga itu seragammu terlihat berantakan?" Tanya Bondan, kepada putrinya, namun matanya menatap tajam Ema.


"Em, itu tadi ada—"


"Soang!" Bondan memotong ucapan Putrinya.


"He he hee, ketahuan lagi." Ucap Ema, sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal dan pasangan pengantin baru itu nampak salah tingkah.


"Iya, nanti di mobil." Jawab Fika pelan, dan wajahnya kini terlihat bersemu merah.


"Heran, gayanya aja gemulai. Tapi, doyan nyosor terus ya." Celetuk Bondan.


"Sirik Bilang Bos!" Sahut Ema, lalu berjalan menuju mobilnya dan di ikuti Fika.


"Yeh, ngapain sirik. Sudah pernah merasakan." Gerutu Bondan, sembari menyesap kopinya.


Ema segera memacu mobilnya menuju sekolahan Fika, setelah itu ia baru menuju hotelnya.


"Kamu bikin malu saja." Kesal Fika, sembari merapikan seragamnya.

__ADS_1


"Iya, maaf kebabalasan." Jawab Ema, menoleh sesaat dan tangan kirinya terulur untuk mengusap lembut pucuk kepala Fika.


*


*


*


Sementara itu, Bondan masih berada di teras rumah, sambil memainkan ponselnya dan tidak berselang lama ada ibu-ibu komplek yang menyapanya.


"Pagi, Ayah. Duh, seger banget sih pagi-pagi sudah ngopi." Sapa salah satu ibu yang memakai daster berwarna pink.


"Pagi juga Bu." Jawab Bondan, tersenyum tipis.


"Duh, senyumannya bikin hatiku cenat-cenut, Yah." Goda salah satu ibu-ibu lainnya.


"Bisa aja." Jawab Bondan.


"He'em bisalah, Ayah Bondan ini 'kan pria tergagah dan tertampan di komplek ini, mana duda lagi. Nikah yuk Yah, aku sebentar lagi jadi jendes loh." Ucap salah satu ibu yang berdandan menor.


Bondan yang mendengarnya pun bergidik ngeri dan segera memasuki rumah. Sudah hal biasa bagi Bondan, jika setiap hari ia di goda para kaum hawa dari kalangan ibu-ibu hingga anak ABG.


"Kamu sih gatel, jadi masuk rumah deh pemandangan seger kita." Ucap salah satunya dengan nada sewot dan menyalahkan calon jendes itu.


Oh Ayah, sama aku aja deh 😚


Kasih dukungan semampu kalian yak😘

__ADS_1


__ADS_2