
Waktu berputar dengan cepat, dan tidak terasa penikahan Fika dan Emanuel sudah memasuki bulan ke empat. Fika juga sudah naik kelas, dua bulan yang lalu. Kedua pasangan yang mempunyai banyak perbedaan itu menjalani hari-harinya dengan penuh warna dan saling melengkapi satu sama lain dan hubungan keduanya itu semakin mesra.
Berbeda dengan hubungan Bondan dan Rima yang semakin menjauh. Ya, setelah kejadian di taman beberapa bulan yang lalu, keduanya itu saling menjaga jarak. Menyedihkan? Memang, karena Bondan dan Rima tidak ingin mengorbankan perasaan anak mereka, lebih baik yang tua yang mengalah.
*
*
*
*
Pagi hari itu Fika tampak lesu dan tidak bersemangat untuk berangkat sekolah.
"Nue, bisakah hari ini aku membolos saja?" Rengek Fika, kepada suaminya yang menyisir rambutnya di depan meja rias.
"Sayangku, kamu kenapa sih? Belakangan ini aneh banget?" Tanya Ema dengan dahi yang berkerut. Pasalnya istrinya itu adalah wanita yang mempunyai semangat yang tinggi, namun beberapa hari ini istrinya itu berubah drastis, menjadi pemalas, tukang tidur, dan menjadi sangat manja dan cengeng.
Kemudian Ema berjalan menghampiri istrinya yang tengah duduk di tepian tempat tidur, lalu ia duduk di sebelah istrinya.
"Aneh bagaimana?" Bukannya menjawab, Fika malah melontarkan pertanyaan lainnya.
"Ya aneh saja, beberapa hari ini kamu kelihatan tidak bersemangat, kamu sakit?" Tanya Ema lagi, sembari menyentuh kening dan leher Fika dengan punggung tangannya.
"Aku tidak apa-apa, hanya saja tubuhku terasa sangat lemas." Jawab Fika, sembari memegang tangan suaminya lalu menggenggamnya dengan erat.
"Kita kedokter ya." Ajak Ema, dan saat ini ia terlihat sangat khawatir dengan kondisi istrinya itu.
__ADS_1
"Tidak perlu." Jawab Fika, lalu melepaskan tangan suaminya kemudian menyambar tas sekolahnya dan mengenakannya.
"Ayo kita berangkat." Ucap Fika, dan diangguki Ema.
Kemudian keduanya itu berjallan keluar dari kamar dan menuju garasi mobil.
"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu, Yank. Muka kamu jadi pucat begitu." Ucap Ema cemas, saat sudah berada di dalam mobil bersama Fika, kemudian ia mengelus pipi istrinya dengan sangat lembut.
"Tidak apa-apa." Jawab Fika pelan, kemudian ia menyenderkan punggungnya di sandaran jok mobil lalu ia mulai memejamkan mata. Entah kenapa beberapa hari ini, ia merasakan ke anehan pada tubuhnya.
Ema menghela nafas, kemudian ia memakaikan seatbelt ke istrinya, setelah itu ia mengecup kening dan bibir istrinya bergantian.
"Wajah kamu pucat banget loh, Yank." Ucap Ema, lagi. Namun sepertinya istrinya itu sudah terlelap jadi tidak mendengarkan ucapannya.
Apa gula darahnya turun ya? Atau jangan-jangan karena beberapa hari ini aku meminta jatahnya kelewat batas? Batin Ema bertanya-tanya, pasalnya ia beberapa hari ini terus menggempur istrinya kecilnya.
Di dalam perjalanan, Fika masih memejamkan matanya dan itu semakin membuat ema sangat khawatir.
Fiks, gula darah istriku turun makanya jadi lemas begini. Batin Ema, sembari menoleh istrinya yang masih terlelap.
Dan tidak tidak berselang lama., mobil yang di kendarai Emaa sudah sampai di depan pintu gerbang sekolahan tersebut. Dan Ema segera membangunkan istrinya itu.
"Sayang, bangun. Sudah sampai di sekolah." Ucap Ema, sembari mengusap lengan istrinya.
"Heum." Fika hanya berdehem pelan, lalu ia segera membuka kedua matanya yang terasa sangat berat.
"Maaf aku ketiduran. Aku ngantuk banget." Jawab Fika, setelah nyawanya terkumpul.
__ADS_1
"Iya, tidak apa." Balas Ema, dan tersenyum manis.
"Aku ke kelas dulu ya." Ucap Fika, lalu mencium punggung tangan suaminya.
"Kok aku tidak di beri Vitamin dulu." Ucap Ema, sembari memonyongkan bibirnya.
"Sini." Fika menyuruh suaminya agar lebih mendekat lagi.
Ema langsung melepaskan seatbeltnya kemudian ia menarik tengkuk istrinya dan mencium bibir manis istrinya itu dengan penuh kelembutan dan penuh cinta. Setelah puas memakan bibir istrinya, Ema langsung melepaskan tautan bibir mereka, dan membuat Fika menggerutu kesal.
"Kebisaan kamu tuh, tidak pernah puas apa ya!" Kesal Fika, membuat Ema tergelak.
"Kamu bikin candu sih, apa lagi si terowongan bikin aku mabuk kepayang." Jawab Ema tergelak.
Sedangkan Fika mencebikkan bibirnya kesal, kemudian ia segera turun dari dalam mobil.
"Semangat belajarnya." Ucap Ema, saat istrinya akan menutup pintu mobil.
"Iya." Jawab Fika, kemudian melayangkan Kiss Bye untuk suaminya.
"Owh, kamu membuatku meleleh." Ucap Ema, sembari menggoyang-goyangkan badannya, lalu ia menangkap Kiss Bye istrinya itu dan menempelkannya di dadanya.
"Dasar gemulai." Ledek Fika, kemudian segera menutup pintu mobil tersebut, lalu berlari kedalam gedung sekolahan tersebut.
"Untung cinta." Gumam Ema, gemas dengan tingkah istrinya itu, kemudian ia memacu kendaraannya lagi menuju hotelnya.
Fika sakit apa ya? Atau memang benar gula darahnya turun? Atau mungkin juga kelelahan karena si elang minta hok a hok e terus? 😂
__ADS_1
Terus dukung karya emak ya, semampu kalian yak😘