Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Bukan hanya cinta tapi sudah Bucin!


__ADS_3

Rima memejamkan matanya sembari bergumam pelan. "Semoga benihnya Bon bon tidak jadi, ya ampun kenapa aku begitu bodoh! Tidak membatasi diriku lebih dulu dengan pil kontrasepsi." Rima masih mengingat jelas, sudah dua kali Bondan menyemburkan benihnya kedalam rahimnya. Rima terus merutuki dirinya sendiri di dalam hati.


"Mam?" panggil Ema dengan pelan sembari menepuk pundak ibunya.


Tepukan dibahunya membuat Rima tersadar dari lamunannya, kemudian ia menoleh dan tersenyum menatap putranya.


"Ayo turun, dari tadi melamun," ucap Ema, kemudian ia turun lebih dulu dari mobil. Sedangkan Rima menoleh kekiri dan kekanan, dan ternyata mobil yang di tumpanginya sudah sampai di halaman rumah mewahnya.


*


*


*


"Nue, ucapanmu saat di mobil tadi apa serius?" tanya Rima dengan perasaan yang tidak menentu, bahkan ia meremat kedua tangannya sendiri bergantian. Saat ini Rima dan Emanuel sudah berada di dalam rumah tersebut dan keduanya itu duduk berhadapaan di ruang keluarga.


"Tentu saja serius, apa jangan-jangan kalian main tidak memakai sarung?" tanya Ema dengan kedua mata yang membola, lalu ia menegakkan pungungnya karena sebelumnya Ema duduk bersender di sofa.


Rima mengangguk pelan dengan raut wajah yang tampak lesu, menandakan jika ia membenarkan ucapan putranya.


"OH! MY GOD!" Ema berucap pelan namun penuh penekanan dan ia menyugar rambutnya kebelakang dengan kasar ketika melihat jawaban dari ibunya sendiri.


"Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran kalian!" Ema berucap dengan nada yang sedikit tinggi, menandakan jika dirinya saat ini marah kepada ibunya.


"Kalian ini sudah saling berpengalaman, apakah hanya karena Nafs* sesaat membuat kalian lupa?! OH! kalian benar-benar amazing!" sentak Ema, Rima yang menundukan kepalanya kini terkejut lalu mendongakkan kepalanya dan menatap Ema yang sangat marah kepadanya.


"Nue, Mami minta maaf. Mami khilaf tapi bagaimana jika Mami nanti hamil?" ucap Rima dengan nada bergetar.


"Resiko!" jawab Ema dengan cepat.


"Apa kamu benar tidak menginginkan adik?" tanya Rima dengan lirih.


Ema menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian ia beranjak dari duduknya dan berpindah ke samping Rima. Tidak seharusnya ia berkata kasar kepada ibunya.

__ADS_1


"Mam." Ema berkata lembut, sembari merangkul pundak Rima. "Aku tidak masalah jika mempunyai adik lagi, tapi yang aku takutkan adalah usia Mami yang sudah tidak muda lagi dan mempunyai resiko yang tinggi jika mami mengandung. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada Mami," ucap Ema lembut, lalu membawa ibunya kedalam dekapan hangatnya.


Hati Rima merasa tercubit dan juga merasa menghangat ketika ia mendengar perkataan putranya. Rima tidak menyangka jika putranya sangat menyayanginya. Kini air matanya semakin luruh dan tidak bisa di bendung lagi.


"Kamu memang anak yang baik, maafkan Mami. Mami merasa berdosa sekali karena berburuk sangka kepadamu," ucap Rima semakin terisak, di dalam pelukan Ema. Dan ia akan membicarakan masalah ini dengan Bondan nanti.


Ema menipiskan bibirnya, kemudian ia mendongakkan kepalanya dan menerjabkan kedua matanya, agar air matanya yang sudah menggenang itu tidak jatuh kepipinya. Dan kedua tangannya semakin mengeratkan pelukannya itu.


"Mami juga minta maaf karena dulu mami sangat kejam kepadamu, hingga membuatmu seperti ini. Mami bukan ibu yang baik untukmu, tapi lihatlah kamu sangat baik dan menyayangi Mami. Maafkan Mami Nue, maaf," ucap Rima penuh penyesalan, kemudian ia mengurai pelukannya dan mengecup kening putranya dengan penuh kasih sayang.


Air mata Ema sudah tidak terbendung lagi, ketika Rima mengecup keningnya dengan lembut. Merasa terharu dan bahagia bercampur menjadi satu. Ia mendapatkan rasa kasih sayang dari seorang ibu yang sudah lama hilang dari hidupnya.


"Mam," lirih Ema terisak, lalu ia memeluk ibunya dengan erat lagi, begitu dengan Rima juga membalas pelukan putranya tak kalah erat.


"Maafkan Mami," ucap Rima pelan, sembari mengusap punggung putranya yang terasa bergetar.


"Emh," jawab Ema singkat, dan mengangguk pelan.


Keduanya berpelukan cukup lama, dan setelah itu Ema melepaskan pelukannya lebih dulu, lalu ia menatap wajah cantik ibunya itu.


"Terimakasih, Nak." Rima sangat terharu dengan sikap putranya.


"Putraku sangat baik sekali, pantas saja Fika sangat mencintaimu," puji Rima, lalu memeluk putranya lagi dengan erat namun hanya sesaat.


"Bukan hanya cinta, Mam. Tapi sudah bucin akut," jawab Ema tergelak.


"Ih, kamu juga sama bucinnya," ledek Rima, kemudian keduanya itu tergelak bersama.


"Mami juga bucin sama Ayah," ledek Ema balik.


"Eh, nggak ya! Dari dulu Ayahmu yang mengejar Mami terus. Lihat Mami masih sangat cantik dan awet muda," sangkal Rima, sdan pura-pura kesal kepada putranya.


"Iya tapi kenapa ada kerutan di area mata Mami?" ucap Ema, sembari menunjuk sudut mata ibunya.

__ADS_1


"Ah, benarkah?" Rima menangkup wajahnya sendiri dengan ekspresi yang sangat cemas. "Nue, besok Mami harus perawatan kesalon, hubungi asistenmu ya! Mami harus selalu cantik, agar mengimbangi Ayahmu yang masih sangat tampan itu."


Ema tergelak keras ketika melihat respon ibunya itu. "Ha ha haa, tuh 'kan bucin! Aku hanya bercanda Mam. Wajah Mami masih terlihat mulus dan juga sangat cantik, bahkan lalat saja iri melihat wajah Mami," ucap Ema di iringi gelak tawa yang sangat keras, kemudian ia segera kabur melarikan diri dari amukan ibunya.


"NUE!!!!" teriak Rima, lalu mengejar putranya yang melarikan diri kelantai atas.


*


*


*


*


Setelah menangis dan tertawa bersama ibunya, kini saatnya Ema pulang kerumahnya sendiri dengan membawa dua box yang cukup besar dan meletakkannya di dalam mobilnya.


"Jaga anak-anak Mami dengan baik ya," pinta Rima, kepada putranya yang sudah duduk di balik stir mobil.


"Heh! Mimi dan Momo akan baik-baik saja dengan ku," sungut Ema, karena sikap ibunya itu terlalu berlebihan.


"Iya percaya, tapi jangan lupa memberikan makan dan memandikannya tepat waktu, dan juga susunya." pesan Rima, membuat Ema memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Ah dan satu lagi, katakan kepada Ayahmu jika dia harus memperlakukan anak-anakku dengan baik."


"Astaga Mam!" keluh Ema lagi.


"Aku yang akan mengurusnya sendiri, karena Mimi dan Momo akan menemani Fika yang masih bedrest dirumah, agar istriku tidak terlalu jenuh." lanjut Ema dengan bersungut-sungut.


"Apa Mami harus menyewa baby sitter untuk Mimi dan Momo?" tanya Rima. Karena ia masih khawatir jika Ema tidak mengurus anak asuhnya dengan baik.


"Jangan berlebihan Mam!" kesal Ema sudah tidak tertahan lagi dan tidak habis pikir dengan ibunya itu.


Menyewakan baby sitter? Memangnya mereka bayi?!

__ADS_1


Senin woy senin!! Vote mana Vote? Sama kasih kopi yak! 😚


Peluk onlen dari Emak gesrek 🤗🤗


__ADS_2