
"Yes!! Nanti kamu diatas ya." Ucap Ema senang, dan menaik turunkan alisnya.
Hah, diatas? Mau ngapain? Batin Fika polos.
"Sayang ... sayang." Panggil Ema, sembari menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah istrinya yang terlihat melamun itu.
"Eh, iya." Fika tersadar dari lamunannya.
"Mikirin apa sih?" Tanya Ema, sembari menyipitkan matanya dan menatap istrinya itu penuh selidik.
"Enggak, aku cuma memikirkan Ayah dan Mami saja." Ucap Fika, memberi alasan yang tepat kepada Ema.
"Hem, begitu ya. Aku pikir kamu sedang bertraveling bermain diatas." Goda Ema, membuat Fika menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
Apasih? Justru itu yang sedang aku pikirkan dengan keras. Berada diatas dan bermain diatas? Bingung deh. Batin Fika, bertanya-tanya.
"Sudah jangan bingung, nanti langsung praktek saja." Ucap Ema, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya itu.
"Hah, maksud kamu?" Tanya Fika.
"Sttt, diam. Nanti kamu juga tahu sendiri." Ucap Ema, tersenyum manis menatap istrinya. Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya dan langsung menekan pedal gasnya, menuju rumah Ayah mertuanya.
Duh, kok perasaanku jadi tidak enak ya. Batin Fika, sembari melirik suaminya yang tengah fokus menyetir.
Polosnya istriku, jadi makin gemes dan nggak sabar pengen makan dia. Batin Ema. Dan otaknya kini sudah bertraveling ria, membayangkan Fika bergoyang diatas tubuhnya.
*
__ADS_1
*
*
*
Tidak membutuhkan waktu lama, Mobil yang di kendarai Ema kini sudah terparkir di halaman rumah minimalis bercat putih itu.
Ema turun lebih dulu dari mobil, setelah itu ia membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya, bahkan Ema melindungi kepala Fika dengan telapak tangannya agar tidak terbentur, saat Fika akan keluar dari Mobil.
"Terimakasih, Nue ku." Ucap Fika, saat ia sudah berada di luar mobil.
"Sama-sama, sayang." Jawab Ema, lalu menutup pintu mobil, kemudian ia merengkuh pinggang istrinya dan mengecup bibir istrinya sekilas.
"Bayaran untuk suamimu." Ucap Ema, tersenyum manis lalu melepaskan tangannya dari pinggang Fika.
Kemudian keduanya itu berjalan menuju pintu rumah, lalu Fika mengambil kunci yang ada di dalam tasnya dan membuka pintu tersebut.
"Mau mandi dulu atau makan siang dulu?" Tanya Fika, kepada Ema, saat sudah di dalam rumah.
"Em, mau makan kamu dulu boleh nggak?" Tanya Ema.
"Apaan sih." Sungut Fika, lalu berjalan mendahului suaminya menuju kamar, namun langkahnya itu tertahan saat tangannya di cekal oleh Ema.
"Nue!!!" Kesal Fika.
"Apa sayang? Hem?" Ucap Ema, lalu mendorong tubuh Fika hingga membentur dinding, kemudian ia menghimpit tubuh ramping itu.
__ADS_1
"Minggir! Aku gerah mau mandi." Kesal Fika, berusaha menyingkirkan kedua tangan Ema yang tengah mengungkungnya, tapi usahanya tidak berhasil.
Ck, kenapa aku jadi lemah sih kalau berhadapan dengan dia. Gerutu Fika kesal.
"Sama aku juga gerah." Balas Ema, tersenyum miring dan menatap tajam fika.
"Nue! Kamu kerasukan apa sih? Kamu menyeramkan." Ucap Fika, lalu memejamkan matanya, karena ia tidak kuat jika harus menatap mata tajam itu terlalu lama.
"Aku kerasukan setan cinta." Jawab Ema, lalu mengecup kedua pipi istrinya bergantian dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Nuā"
CUP
Ucapan Fika terhenti saat bibirnya di bungkam dengan ciuman panas dari suaminya.
"Aku mencintamu, biarkan siang ini kita menyatu. Please." Bisik Ema lembut, tepat di depan bibir istrinya dan matanya itu menatap sayu mata indah istrinya.
Fika menganggukan kepalanya pelan, karena ia tidak kuasa menolak permintaan suaminya itu.
Dan selanjutnya
Bersambungš
Senin ya! Vote dan kasih dukungan semampu kalian yak..
Berbagi itu indah, kalau pelit, nanti Emak juga pelit update juga!
__ADS_1