Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Tentang kita?


__ADS_3

"Aku tidak tahu, tapi apa kita harus mengalah?" Fika balik bertanya, membuat Ema mengeraskan rahangnya dan menatap tajam istrinya.


"Sayang, jangan menatapku seperti itu." Ucap Fika takut, ketika melihat aura kemarahan suaminya.


"Kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan?!" Tanya Ema, dengan nada tegas dan masih menatap tajam istrinya.


"Aku hanya bertanya saja, sayang. Jangan menyudutkanku seperti itu! Aku tidak ingin mereka terluka karena hubungan kita, itu saja." Jawab Fika, lalu ingin meraih tangan suaminya, tapi dengan cepat Ema menepis tangan Fika.


"Itu saja kamu bilang?! Apa kamu tidak sadar, jika ucapanmu itu menandakan kalau kamu ingin mengalah! Ingat Fika! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu!" Tegas Ema, lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar.


"Nue! dengarkan aku." Fika mengejar suaminya.


"Jangan berbicara omong kosong, Fika!" Ucap Ema, berkacak pinggang dan menatap tajam istrinya yang sudah berada di dalam kamar.


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu itu!" Ema menggelengkan kepalanya pelan dan menatap istrinya dengan rasa kekecewaan yang mendalam.


Sedangkan Fika menatap suaminya dengan berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jika ucapannya itu menjadi masalah besar seperti ini.


"Sekarang aku bertanya kepadamu, apa kamu mencintaiku!" Tanya Ema, kepada istrinya yang terlihat menundukan kepalanya itu.


"Sangat! Aku sangat mencintaimu." Ucap Fika, kini menatap suaminya dengan berlinang air mata. Ema memejamkan matanya dan memijat pangkal hidungnya, saat ia melihat istrinya menangis seperti itu. Perasaan bersalah kini menyelimuti hatinya, karena ia baru saja membentak Fikanya.

__ADS_1


"Kemarilah." Ucap Ema, kepada istrinya.


Fika berjalan mendekati Ema, kemudian ia langsung memeluk tubuh suaminya itu dengan erat.


"Maafkan aku, maaf karena perkataanku telah menyakitimu." Ucap Fika, terisak di dalam pelukan suaminya.


"Iya, jangan pernah mengatakan hal itu lagi." Ucap Ema, lalu mengecupi seluruh wajahnya berulang kali.


"Aku lebih mencintaimu, sayang. Aku tidak sanggup jika kehilanganmu, membayangkannya saja aku tidak sanggup." Ucap Ema, kemudian ia mengecup dan menyesap bibir manis itu dengan lembut dan penuh cinta.


Fika tersenyum lembut saat ciuman itu terlepas, kemudian ia mengusap air mata suaminya dengan ibu jarinya, lalu ia mengecup kedua mata suaminya itu dengan rasa cinta dan kasih sayang.


"Jangan bersedih lagi, kita akan menua bersama hingga yang maut memisahkan kita." Ucap Fika tulus, lalu diangguki Ema. Kemudian Ema merengkuh tubuh istrinya lagi dengan erat.


*


*


*


*

__ADS_1


Disisi lain, Bondan kini tengah berada di taman kota sembari duduk di salah satu bangku panjang yang ada di sana sendirian, ia mengendarkan pandangannya di seluruh sudut taman tersebut yang terlihat sepi.


"Dia belum datang?" Gumam Bondan, sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Suasana malam di taman itu terasa sangat dingin, ditambah lagi angin malam berhembus sepoi-sepoi, membuat Bondan merasa sangat kedinginan. Kemudian Bondan memakai hoodienya, lalu ia memasukan kedua tangannya kedalam kantong jaketnya.


"Kamu sudah lama menunggu?" Suara wanita yang terdengar sangat lembut di indra pendengaran Bondan dan memecah keheningan di taman itu.


Bondan mendongak kemudian ia tersenyum, saat melihat kedatangan wanita tersebut,


"Sekitar 10 menit yang lalu." Jawab Bondan, lalu ia mempersilahkan wanita itu duduk di sebelahnya.


"Sepertinya ada hal penting yang akan kamu bicarakan?" tanyanya, dengan nada yang serius.


"Iya, aku ingin berbicara serius denganmu." Ucap Bondan, menatap wanita yang ada di sampingnya itu.


"Apa ini ada hubungannya dengan anak-anak kita?"


"Tidak ada, tapi ini tentang kita." Jawab Bondan, membuat Rima mengerutkan keningnya.


"Tentang kita?"

__ADS_1


Aku deg-degan terus bawaannya, apa karena aku jatuh cinta sama Ayah Bondan? Atau karena alurnya yang bikin tegang?😆


Kasih dukungannya ya, please. Biar ratingnya naik lagi.🙏


__ADS_2