
"Sekarang katakan, apa mau kalian?!" Tanya Ema tegas dan menatap tajam kedua orang itu.
"Maksudmu apa?" Bondan dan Rima bertanya bersamaan.
"Heh." Ema tersenyum miring dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Bukankah kalian saling mencintai?" Ucap Ema, menatap kedua orang itu bergantian.
"Ngomong apa sih, kamu." Ucap Rima, karena ia belum tahu jika putranya sudah mengetahui hubungannya dengan Bondan.
"Ya, kami saling mencintai." Jawab Bondan, tegas.
"Bondan!" Sentak Rima dan menggelengkan kepalanya. Ema tersenyum, saat mendengar jawaban tegas dari Ayah mertuanya itu.
"Aku beri dua pilihan untuk kalian! Menikah atau saling menjauh!" Ucap Ema, membuat Bondan dan Rima terkejut.
"Kamu gila!" Bentak Rima.
"Ya aku gila dan aku akan lebih gila lagi jika istriku nanti akan memikirkan hubungan kalian terus menerus." Ucap Ema, dengan emosi. Membuat kedua orang itu terdiam kaku. "Ya, Fika seperti ini karena terlalu memikirkan kalian, setiap hari dan sepanjang malam, hingga aku merasa lelah dan tanpa sengaja aku membentaknya." Ucap Ema penuh sesal. Bondan dan Rima sangat terkejut dengan pengakuan Emanuel.
"Jadi, tentukan pilihan kalian sekarang!" Ucap Ema lagi.
__ADS_1
"Aku akan menjauh." Jawab Rima, dengan berat hati.
"Aku akan menikahi ibumu." Jawab Bondan, membuat Rima membelalakkan matanya dan menoleh kearah Bondan.
"Apa yang kamu katakan? Aku tidak setuju." Tolak Rima dengan tegas, kemudian ia memasuki ruangan rawat Fika, dengan perasaan yang tidak menentu.
*
*
*
*
"Buktikan kesungguhanmu kepada Mami." Ucap Ema, lalu meninggalkan Ayah mertuanya.
Bondan terdiam kaku, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum lebar.
Aku akan membuktikan kesungguhan ku kepadamu, dan meyakinkan jika hubungan ini tidak salah. Batin Bondan bersorak bahagia. Dan ingin rasanya ia berguling-guling di atas lantai saking bahagianya.
Rima mengusap lembut pipi Fika lalu beralih mengusap perut menantunya itu. Tanpa terasa air matanya keluar tanpa diminta dan dengan cepat ia segera menyeka air matanya itu.
__ADS_1
Maafkan Mami. Batin Rima, merasa sangat bersalah. Karena bagaimana pun juga Fika seperti itu karena dirinya.
"Mam, semua sudah terkendali. Urusan Fika sekarang menjadi tanggung jawabku." Ucap Ema pelan, saat sudah berada di samping ibunya.
"Mami tahu, kamu adalah pria yang bertanggung jawab seperti mendiang papimu. Mami bangga padamu." Balas Rima.
"Mam, aku sekarang sudah dewasa dan sudah mempunyai keluarga sendiri. Dan aku juga sudah bahagia dengan kehidupanku yang sekarang." Ucap Ema tersenyum, sembari menatap istrinya yang masih terlelap.
"Jadi, kini saatnya Mami juga harus bahagia." Pinta Ema.
Rima yang menundukan kepalanya, kini menoleh dan menatap putranya dengan kening yang berkerut.
"Mami sudah bahagia, Nak. Melihatmu tersenyum dan bahagia bersama istrimu, itu sudah cukup bagi Mami." Jawab Rima, tersenyum lembut kearah putranya.
"Mam, aku mohon jangan mengelak lagi." Ucap Ema, berkata lembut dan meraih salah satu tangan wanita yang sudah melahirkannya itu, lalu mengusap tangan itu dengan lembut.
"Mami, tidak ingin ada yang tersakiti disini. Kamu paham bukan? Apa lagi jika membina rumah tangga itu bukan hanya menyatukan dua hati tapi juga menyatukan dua keluarga, lalu apa kata orang-orang di lingkungan kita nanti." Jawab Rima, berusaha untuk memberikan pengertian kepada putranya.
"Mami tidak bisa, maaf." Ucap Rima, lalu menarik tangannya.
Pilihan yang sulit,😔
__ADS_1
Kasih dukungannya ya, jangan lupa. Ratingnya turun lagi🙏