
Seperti yang sudah di rencanakan oleh Emanuel sejak siang tadi, jika malam ini Juna akan tidur bersama Opa dan Omanya.
Dan sekarang Ema sedang bersiap untuk memulai malam panasnya.
"Ih! Kamu kenapa sih? Dari tadi pantat kamu itu maju mundur terus!" ketus Fika, begitu risih melihat suaminya yang berdiri di didepan tepian tepat tidur sembari memaju mundurkan pantatnya.
"Mau coba gaya baru, biar adiknya Juna cepat jadi," jawab Ema, mengerling nakal kearah istrinya.
"Dasar ganjen! Gayanya masih gemulai tapi seperti Herkules kalau di atas ranjang," cibir Fika, menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Hem, yang gemulai gini yang bikin kamu klepek-klepek. Ya, nggak?" Ema berjalan mendekati istrinya yang sedang rebahan diatas tempat tidur, kemudian ia segera menindih tubuh istrinya itu.
Cup
Ema mengecup dan melumaat bibir manis yang sudah menjadi candunya itu dengan sangat rakus, ia melepaskan pagutannya sejenak, kemudian Ema melepaskan seluruh kain yang melekat ditubuh keduanya hingga polos tanpa sehelai benang pun.
"Yank," rintih Fika, ketika tangan Ema meremat dua bulatan kenyalnya bergantian.
Ema membungkam bibir istrinya dengan ciuman panasnya lagi, dan salah satu tangan Ema kini menjalar kebawah, berhenti di area perut ramping itu dan mengusapnya dengan gerakan sensual dan tangan itu semakin turun lagi kebawah, berhenti tepat di belahan daging yang berwarna pink merekah, di usapnya permukaan daging itu dengan lembut hingga membuat sang pemiliknya mendesaah dan merintih nikmat.
__ADS_1
"Eughhh." Fika mendesah tertahan ketika salah satu jari tangan milik suaminya masuk kedalam bagian intinya dan keluar masuk dengan gerakan tertatur.
Fika semakin membuka kedua pahanya dengan lebar, memberi ruang untuk suaminya agar lebih leluasa menikmati surga dunianya.
"Nue." Fika memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya ketika gerakan jari-jari itu semakin cepat menusuk kedalam intinya.
Ema tersenyum, ia mengecupi seluruh wajah istrinya dengan penuh cinta dan gairah yang membara. Tangannya masih aktif di bagian inti istrinya, hingga pada akhirnya Fika mencapai pelepasan pertamanya.
"Sudah basah, Sayang," bisik Ema, dengan sensual.
"Cepat masukan, aku sudah tidak tahan, please," pinta Fika memohon.
"As you wish, sayang." Ema langsung menuntun si elang menuju sarangnya yang sudah banjir itu.
Dengan sekali hentakan, seluruh leher si elang terbenam sempurna di dalam intin istrinya.
"Ughh, enak banget sih," racau Fika, ketika merasakan hujam demi hujaman yang di berikan oleh suaminya dengan tempo yang cepat.
Rasa nikmat itu menjalar keseluruh persendian tubuhnya, dan berhenti tepat di relung hatinya.
__ADS_1
"Kamu sangat nikmat, Yank." Kali ini Ema yang meracau, saat merasakan pijatan lembut dari sarang istrinya. Kemudian Ema melumaat bibir istrinya dengan sangat rakus, seiring dengan hujaman yang dia berikan ke dalam sarang kenikmatan itu.
"Ah ah ah." Fika terus mendesah di bawah kungkungan suaminya, kedua tangannya melingkar di leher kokoh suaminya.
Berbagai gaya mereka coba, dari gaya laba-laba meloncat, gaya cicak Freestyle, gaya katak nungging hingga keduanya merasa puas dan lelah, lalu kembali ke gaya sebelumnya yaitu Gaya katak terlentang. Suara khas percintaan itu terus terdengar, deru nafas yang semakin memburu bertanda jika keduanya akan mencapai pelepasan.
"Arghh!" racau Ema, menghentakkan pinggulnya dengan kuat dan dalam saat si elang memuntahkan cairan panas kedalam rahim istrinya.
Cup
"Terimakasih, Sayang. Semoga usaha kita kali ini berhasil," ucap Ema, mengecupi seluruh wajah istrinya dengan lembut.
"Amin," jawab Fika, yang sudah terkulai lemas di bawah kungkungan suaminya.
"Sudah cabut milikmu."
"Tidak mau, aku mau minta tambah lagi," ucap Ema, mengecup bibir istrinya dan menyesapnya lembut.
"Nue!" kesal Fika, saat merasakan si elang sudah mengembang lagi.
__ADS_1
Dab ronde kedua pun akan di mulai... 🔥
Jangan lupa kasih like, vote, komentar dan gift seikhlasnya, 😘😘