
"Hem? Bolehkah aku melakukan hal yang lebih? Aku akan segera menikahimu," tanya Bondan, lalu memanggut bibir Rima lagi dengan rakus.
"Ada CCTV," ucap Rima mengingatkan, lalu mendorong dada bidang itu dengan kuat. Nafas Rima terengah karena ciuman Bondan yang begitu rakus dan membuatnya kesulitan untuk bernafas.
"Tidak ada," jawab Bondan, dan menekan tengkuk Rima lagi kemudian ia mellumat bibir manis itu lagi dengan rakusnya.
"Emphhh, Bon!" Rima merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah sana, dan ia berusaha untuk melepaskan diri dari terkaman singa jantan yang sedang kelaparan.
"Kenapa? Kamu bukan wanita remaja dan pasti kamu tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang," jelas Bondan, dengan nafas tersengal dan wajah yang terlihat merah karena saat ini dirinya tengah menahan gairah yang membakar tubuhnya.
Bondan menekan pinggul Rima kebawah dengan kuat, hingga membuat Rima merasakan tonjolan yang ada di bawah titik sensitifnya. Merasakan hal itu, tentu saja sebagai wanita yang tidak pernah di belai oleh pria selama puluhan tahun membuat hasrat Rima bergejolak.
Kemudian Rima menarik tengkuk Bondan dan mellumat bibir seksih itu dengan rakus dan Bondan dengan senang hati membalas ciuman panas itu dengan penuh gairah.
Bondan lalu menggendong Rima seperti bayi koala dan berjalan menuju kamar di lantai bawah dengan bibir yang masih bertaut. Setelah sampai kamar, Bondan langsung merebahkan Rima dengan perlahan diatas tempat tidur. Dan tidak lupa Bondan mengunci pintu kamar itu terlebih dahulu.
"Bon." Rima merasakan malu ketika Bondan mengungkungnya dan menatap wajahnya dengan intens.
"Kenapa? Kamu cantik sekali," puji Bondan, mengusap pipi Rima dengan punggung tangannya.
Rima memejamkan matanya, saat tangan Bondan mengusap pipinya dengan sangat lembut, dan tangan itu semakin turun membelai halus lehernya dan semakin turun lagi sampai dadanya dan melepaskan kancing kemeja yang ia kenakan satu persatu dengan slow motion.
Rima mencengkram erat sprei dibawah tangannya, ketika Bondan berhasil membuka seluruh kancing kemejanya dan kini Bondan tengah menatap kagum tubuh molek yang ada di bawah kungkungannya itu. Walaupun sudah tua tapi tubuh Rima masih sangat kencang dan sangat putih mulus.
"Buka matamu," bisik Bondan, lalu mengecup kening Rima.
Rima membuka matanya perlahan dan pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Bondan yang berjarak tidak jauh dari wajahnya.
"Bon—" ucapan Rima terputus ketika Bondan mengecup bibirnya sekilas, kemudian Bondan melepasakan bajunya dan terlihatlah tubuh kekar yang di penuhi banyak tatto itu, membuat Bondan semakin terlihat sangat HOT di mata Rima.
__ADS_1
"Are you ready?" tanya Bondan, dengan suara seraknya dan kini mulai mencium seluruh wajah Rima dengan lembut.
Rima mengangguk pelan sebagai jawaban, membuat Bondan tersenyum kemudian ia mulai mencium bibir Rima dengan penuh kelembutan. Dan tangan kanannya menelusup ke balik punggung Rima untuk mencari sesuatu disana.
Tak
Terlepaslah kaitan penutup bukit kembar itu, setelah itu Bondan melepaskannya penutup itu dan melemparkannya dengan asal.
Lagi-lagi Bondan menatap kagum dua benda kenyal itu, yang terlihat bulat dan ranum walaupun sedikit mengendur, tapi tidak mungurangi keindahannya.
Rima sangat malu dan segera menutupi kedua asetnya itu dengan kedua tangannya, tapi Bondan langsung menyingkirkan tangan Rima.
"Aku mencintaimu," bisik Bondan, lalu mengecup bibir Rima dengan sangat lembut. Tangan kanannya menjalar dan menyentuh dua benda kenyal itu bergantian dan tangan kirinya menyangga tubuhnya agar tidak telalu menindih tubuh Rima.
"Bon," lirih Rima, ketika merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan.
"Aku mencintaimu," lirih Rima, sembari memejamkan matanya dan mendongakkan kepalanya, memberi akses untuk Bondan menjelajahi lehernya.
"Katakan lagi," pinta Bondan, dan kini ciumannya semakin turun lagi dan sampai di bagian dada Rima.
"Aku mencintaimu, ah Bon," racau Rima, ketika Bondan bermain di bagian dadanya.
"Aku juga sangat mencintaimu, Rima. Sangat," ucap Bondan, dan terus melanjutkan aktifitasnya, hingga membuat Rima tidak berhenti mendessah enak.
"Bon...." racau Rima, dan menelesupkan jari-jari tangannya di rambut tebal Bondan dan sedikit menekan kepala Bondan yang sedang asik di area dadanya.
Sentuhan dan cumbuan Bondan membuat Rima semakin tidak bisa mengotrol dirinya. Dan gairah keduanya kini semakin membara dan membakar iman mereka.
Keduanya kini saling menyentuh dan saling memberikan kenikmatan yang sudah lama tidak mereka rasakan. Biarlah hari itu menjadi milik mereka berdua, yang sedang mencurahkan rasa cinta, kasih sayang, dan gairah yang melebur menjadi satu.
__ADS_1
"Bondan." Rima melenguh dan membusungkan dadanya ketika Bondan semakin aktif di area dadanya. Dan tangan tangan Bondan semakin turun mengusap perut rata Rima dan turun lagi hingga ia melepaskan kancing celana Rima. Kemudian dengan gerakan cepat, Bondan meloloskan celana berikut segitiga berwarna putih itu yang menutupi sesuatu keindahan yang di miliki oleh Rima.
Dan Bondan pun melakukan hal yang sama, ia melepaskan celananya dan tersembulah burung rajawali yang siap untuk terbang kedalam sarangnya.
Rima sangat malu dan juga terkesima saat melihat milik Bondan yang begitu gagah dan juga kekar.
Nafas keduanya sangat memburu, jantung keduanya berdetak sangat cepat. Lalu Bondan membuka kedua kaki Rima dengan lebar dan ia saat ini berada di celah kedua kaki itu dengan posisi tubuh mengungkung Rima.
Bondan menatap wajah Rima senjenak, kemudian ia mellumat bibir Rima dengan sangat rakus dan Rima pun membalasnya tak kalah rakus. Keduanya sudah saling bepengalaman dan sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Rima mengalungkan kedua tangannya di leher Bondan, dan Bondan sendiri menangkup wajah Rima dengan kedua tangannya dan kemudian salah satu tangan Bondan menyentuh titik sensitif milik Rima dengan tangan kanannya.
"Bondan—" Rima melenguh dan mendessah tidak beraturan ketika tangan kekar itu bermain di bawah sana. Rasa kenikmatan yang menjalar sampai ke relung hatinya dan membuat Rima semakin tidak berdaya.
"Yeah, Honey?" balas Bondan, kemudian ia mellumat lagi bibir mungil Rima yang sudah terlihat bengkak karena ulahnya.
"Aku sudah tidak tahan," lirih Rima, memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Bondan tersenyum ketika mendengar ucapan Rima.
"Jangan menggigit bibirmu seperti itu, sayang. Hanya aku yang boleh menggigitnya," ucap Bondan, lalu menggigit bibir Rima dengan lembut, membuat Rima membuka sedikit mulutnya dan dengan cepat Bondan menelusupkan lidahnya kedalam rongga mulut Rima. Dan bersamaan dengan itu, Bondan menuntun si Rajawali menuju saraangnya yang sudah lembah dan basah.
"Pelan-pelan," lirih Rima, saat merasakan benda tumpul dan perkasa itu memasuki bagian intinya. Terasa sakit, nikmat dan juga enak bercampur menjadi satu.
Bondan memaksa masuk kedalam sarang yang sudah lama tidak berpenghuni itu dengan sekali hentakan, membuat Rima memekik keras.
"Aku mencintaimu," ucap Bondan dan terus mengatakan cinta ketika ia meneguk kenikmatan dari tubuh Rima yang membuatnya mabuk kepayang.
"Aku juga mencintaimu," balas Rima dengan susah payah dan menatap Bondan sayu. Melihat mata sayu Rima, membuat Bondan semakin bergairah dan semangat untuk mempercepat gerakannya. Dan selanjutnya hanya terdengar dessahan yang bersahutan di setiap sudut kamar itu, hingga keduanya mencapai puncak bersama.
Maafin emak yang khilaf juga, huaahhhh terpotek hatiku.😭
Jangan lupa dukungannya, dengan cara tekan like, vote, komentar, favorite dan kasih gift semampunya aja, love you😘
__ADS_1