
Emanuel diam membisu saat mendengar ucapan istrinya itu, namun hanya sesaat lalu ia berjongkok di depan trio centil itu.
"Kalian sangat menjijikan! Dan jangan pernah merendahkan seseorang yang terlihat lemah atau buruk di mata kalian, karena kalian sendiri tidak lebih baik dari orang itu sendiri. PAHAM!" Ema pelan namun terdengar sangat tegas dan begitu menohok di hati ketiga gadis itu.
Kemudian Ema segera beranjak dan berjalan menuju ruangan kepala sekolah.
*
*
*
Setelah menyelesaikan urusannya dengan kepala sekolah dan Fika mulai hari itu resmi di keluarkan dari sekolah. Lalu Fika berjalan menuju kelasnya untuk berpamitan kepada teman-temannya, dan juga memperkenalkan Ema sebagai suaminya, agar tidak timbul fitnah lagi di lingkungan sekolah tersebut maupun di luar sekolah.
"Semoga kalian berbahagia." Fika merasa terharu ketika teman-temannya mendoakannya dan juga mengucapkan selamat kepadanya.
"Fika, aku akan kesepian tanpamu dan aku minta maaf karena berita itu bocor karena trio centil mendesak dan juga mengancamku." Ucap Irfan kepada Fika.
"Hem, sudah aku duga. Kamu ini cemen jadi cowok." Ucap Fika, lalu mengelus bahu Irfan membuat Ema melotot dan berdehem keras.
"Ehem, jangan pegang dia." Ucap Ema, lalu menarik tangan istrinya yang masih bertengger di bahu Irfan.
Kemudian Ema membawa Fika keluar dari kelasnya dan menuju mobilnya.
*
__ADS_1
*
*
*
"Setelah ini aku akan mengurus home schoolingmu." Ucap Ema.
Saat ini keduanya itu sudah berada di dalam mobil dan menuju kerumah.
"Hem." Fika hanya berdehem tanpa menoleh.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Tanya Ema lagi.
"Tidak." Jawab Fika singkat, membuat Ema mendesah frustasi.
"Kamu menyumpahiku?" Tanya Fika, menoleh dan menatap tajam suaminya.
"Ah, tidak bukan seperti itu."
"Aku sangat membencimu!" Ucap Fika, membuat Ema terkejut lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan raya.
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku minta maaf kalau aku salah." Balas Ema, dan menatap istrinya dengan lembut.
"Kamu memang salah! Kamu egois dan kamu juga membentakku!" Ucap Fika keras, lalu terisak perih.
__ADS_1
Sungguh hatinya saat ini masih merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan mengalahkan rasa sakit saat dirinya di hina oleh trio centil beberapa saat yang lalu.
"Aku minta maaf, sayang. Aku minta maaf." Ucap Ema penuh sesal, lalu melepaskan seat beltnya dan merengkuh tubuh istrinya.
"Lepaskan aku! Kamu menyebalkan, dan aku sangat membencimu!" Ucap Fika, meronta dalam pelukan suaminya.
"Hei, maaf jika aku menyakitimu sangat dalam. Aku menyesal." Ucap Ema, sembari mengelus punggung istrinya dengan lembut, agar istrinya itu tenang.
Dirinya sungguh bodoh, karena membentak istrinya yang sedang mengandung anaknya, dan membuat emosi istrinya itu tidak stabil.
"Sayang, tenang ya. Jangan emosi dan jangan banyak pikiran karena bisa berdampak ke anak kita." Ema berucap selembut mungkin.
"Kamu yang membuatku seperti ini. Hiks hiks." Fika terisak dan terus berusaha mendorong Ema, namun dorongan tangan itu melemah ketika merasakan perutnya sakit luar biasa.
"Sakit." Lirih Fika, menggigit bibir bawahnya.
"Apa yang sakit?" Ema melepaskan pelukkannya. Menatap wajah Fika yang terlihat merah.
"Perutku sakit sekali, sangat sakit." Ucap Fika terisak, lalu memegangi perutnya. Ema yang melihat istrinya kesakitan pun menjadi sangat panik dan juga takut.
"Sayang bertahan ya, kita kerumah sakit." Ucap Ema, berusaha untuk tenang lalu mulai memacu kendaraannya menuju rumah sakit terdekat.
"Nue!! Sakit!"
Cuma dikit kok konfliknya, ringan lagi 😁
__ADS_1
Kasih dukungannya ya 😘