
Seorang Dokter pria terlihat sedang membetulkan kaca matanya, saat melihat pasangan yang duduk bersebrangan dengannya, tepatnya di ruang prakteknya.
"Em..." Dokter pria itu berdehem dan menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuknya, terlihat jelas sekali jika dokter itu bingung dan juga terkejut saat melihat pasangan di hadapannya itu adalah pasangan suami istri.
"Kebanyakan bengong! Mau duit nggak!" Kesal Ema dan menatap kesal Dokter tersebut, sedangkan Fika menoleh kearah suaminya dengan tatapan kesal karena menurutnya sikap suaminya itu sangat tidak sopan karena membentak Dokter yang duduk di depan mereka.
"Tunggu, kalian benar suami istri?" Tanya Dokter, dengan tatapan yang terlihat serius.
"Tentu saja benar!" Sahut Ema cepat, membuat Dokter itu mendelik kesal.
"Kalian tidak menikah kontrak, kan?" Tanya Dokter itu lagi, masih tidak percaya.
"Sembarangan! Haruskan aku membawa foto pernikahanku dan menempelkannya di jidatmu!" Sungut Ema.
"Kamu apaan sih, nggak sopan tahu!" Akhirnya Fika angkat bicara.
"Adek manis apa dia benar suamimu? Atau kau di paksa olehnya?" Tanya Dokter itu lagi, tanpa memperdulikan Ema yang tengah menatapnya tajam.
"Iya tentu saja benar, ini bukti cincin pernikahan kami." Jawab Fika, sembari menganggukkan kepalanya pelan, dan menunjukan dua cincin berlian yang melingkar di jari manis dan jari tengahnya.
"Cincin saja tidak bisa membuktikan jika kalian itu adalah pasangan suami istri sungguhan." Ucap Dokter itu, masih tidak percaya.
"Ciki!! Krenyess!!!!!" Bentak Ema.
"Ricky! Kau itu sudah tertular kegresekan Oma ya?!" Sungut Ricky.
"Terserah!! Kalau kau tidak percaya dengan pernikahanku, tanyakan saja kepada keluarga Clark. Ayo, kita pergi saja, lebih baik cari dokter kandungan yang lain." Ucap Ema, mulai beranjak dan menarik tangan Fika. Namun, gerakkannya tertahan saat Ricky bersuara.
"Hei ... hei ... begitu saja marah. Ayo duduk lagi." Ucap Ricky, kepada Ema. Dan akhirnya Ema pun duduk lagi di kursinya dengan perasaan kesal dan melepaskan tangan istrinya dengan lembut.
"Aku percaya dan aku minta maaf. Lalu kenapa kau tidak mengundangku kepernikahanmu? Sedangkan keluarga Clark saja kau undang." Tanya Ricky, kepada Ema.
"Karena aku lupa, he he hee." Jawab Ema tekekeh, membuat Ricky mendengus kesal.
"Sekarang katakan, apa yang membuat kalian sampai kemari?" Tanya Ricky lagi, kemudian Ema menjawab dan menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Hem, ternyata kau tertular oleh keluarga Clark ya? Suka daun muda, ha ha ha ha." Jawab Ricky tergelak, kemudian Ia menghentikan tawanya saat melihat tatapan tajam Fika.
Ih, tatapannya bikin merinding. Batin Ricky.
"Ehem, jadi karena istrimu ini masih sangat muda lebih baik menggunakan pengaman saja, atau yang biasa di sebut Kon*om." Jelas Ricky mulai serius.
"Apa tidak di perbolehkan meminum pil kontrasepsi? Skin to skin itu lebih enak... Awwww sakit, Yank." Pekik Ema, saat pinggangnya di cubit keras oleh Fika.
"Makanya mulutnya di jaga!" Sungut Fika.
__ADS_1
Sedangkan Ricky melihat semua itu, hanya bisa menahan tawanya saja. Kemudian Ricky memberikan pengertian dengan sangat detail tentang alat kontrasepsi dan juga memberikan tips gaya dan teknik ber kikuk-kikuk ria.
Wajah Fika merona saat mendapat penjelasan mendetail itu, berbeda dengan Ema yang mendengarkannya dengan sangat antusias.
Setelah hampir satu jam berkonsultasi, akhirnya Fika bisa keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk antara malu dan kesal dan ditambah lagi perasaaan cemburu kepada suaminya saat di salon beberapa saat yang lalu masih membara di hatinya.
"Ayo sayang, kita ke apotik di rumah sakit ini saja. Buat beli itu tuh" Ajak Ema, dan menggandeng tangan istrinya, tapi dengan cepat Fika menarik tangannya yang sudah di nggenggam suaminya itu.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Ema, menatap wajah istrinya yang enggan melihatnya.
"Yank, please jangan kekanakan kayak gini! Kasih tahu salah aku apa?" Ucap Ema sedikit kesal.
"Aku memang kekanakan! Seharusnya kamu jangan menikahi gadis di bawah umur sepertiku." Jawab Fika tak kalah kesal, lalu berjalan meninggalkan suaminya, menuju pintu keluar Rumah sakit tersebut.
Ema meremat rambutnya frustasi lalu mengusap wajahnya dengn kasar, kemudian ia mengejar istrinya.
"Yank, sayang! Please, dengerin aku. Aku nggak tahu salah aku apa? Dan aku minta maaf jika aku punya salah dan membuat hatimu terluka." Ucap Ema, memeluk istrinya dari belakang saat mereka sampai di perkiran rumah sakit. Ema tidak memperdulikan jika menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang di sekitar parkiran sana.
"Lepasin nggak!" Sentak Fika.
"Nggak!!!" Jawab Ema tegas.
"Jangan membuatku berbuat kasar kepadamu, Nue!" Ucap Fika tegas.
Fika memejamkan matanya saat pelukannya itu terlepas, dan ia juga tidak tahu kenapa ia menjadi semarah ini kepada suaminya.
Ema menatap punggung istrinya yang terlihat naik turun dan sepertinya istrinya itu sedang meredam amarahnya.
"Kesalahan apa yang membuatmu semarah ini, sayang. Dan semenjak di salon tadi kamu berubah seperti ini, apa karena—" Ucapan Ema, terhenti saat ia mendengar suara pria yang memanggil nama istrinya.
"Afika." Panggil pria tersebut, tersenyum cool dan menghampiri Fika yang berdiri tak jauh dari Ema.
"Antoni?" Ucap Fika, saat menatap pria tersebut adalah pria yang ia kalahkan beberapa minggu yang lalu demi dua juta.
Ema mengernyitkan keningnya dan juga sedikit kesal, saat melihat pria tampan dan gagah yang menyapa istrinya.
"Kamu sedang apa disini?" Tanya Antoni.
"Menurutmu?" Tanya Fika sedikit ketus, dan menaikan sebelah alisnya.
"He he he, tidak mungkinkan jika kamu sakit, secara kamu adalah wonder women dan lihat tulang rusukku retak akibat ulahmu." Bukannya marah, Antoni malah terkekeh dan menatap kagum gadis yang ada hadapannya itu.
Antoni membuka sedikit bajunya keatas dan memperlihatkan bagian dadanya terlihat di perban.
"Baguslah tapi akan lebih bagus lagi jika tulang rusukmu itu patah dan hancur lebur!" Jawab Fika ketus.
__ADS_1
"Ayolah, cantik, kenapa sih marah terus dengan ku?" Antoni tersenyum dan menatap genit Fika.
"Hei, apa urusanmu dengan Fika?" Tanya Ema, yang sejak tadi geram kini mulai berbicara.
"Wah, kamu mempunyai teman gemulai seperti dia?" Olok Antoni dan menatap remeh Ema.
Membuat Ema geram dan mengepalkan kedua tangannya di bawah sana, namun ia tidak berbuat banyak karena itulah kenyataannya jika dia adalah pria gemulai.
"Kau bilang apa tadi?" Fika maju kedepan dan menarik kerah baju Antoni dengan keras.
"Wohoho, Clam down Girl. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya jika dia adalah pria gemulai." Antoni mengucapkannya dengan santai dan tergelak keras.
BUGH
BUGH
Tanpa ampun Fika langsung mendaratkan bogem ke wajah tampan pria itu berulang kali, hingga wajah Antoni babak belur.
Ema saja sangat syok dan menjerit saat melihat kebrutalan istrinya.
"Sayang sudah!" Ema sekuat tenaga menarik tubuh istrinya yang seperti kerasukan setan itu,
"Shitt!" Umpat Antoni.
"Biarkan aku menghabisinya! Beraninya dia menghinamu!!" Ucap Fika, dengan deru nafas yang memburu.
''Apa istimewanya dia untukmu, heh?" Tanya Antoni, sembari memegang pipiya yang sudah lebam dan mengeluarkan darah itu.
"Dia sangat istimewa untukku." Jawab Fika, di dalam dekapan Ema.
"Oh, jangan-jangan dia adalah kekasihmu? Cih, aku tidak menyangka jika tipe priamu sangat di bawah standar. Apa dia bisa melindungimu? Tidak bisa 'kan? Karena dia adalah pria gemulai yang tidak bisa melakukan apapun! Tinggalkan dia dan kemarilah bersamaku karena aku dapat melindungimu kapan pun." Ucap Antoni, membuat Fika semakin murka.
Sedangkan Ema merasa insecure, karena yang diucapkan pria itu semua benar.
"Pertimbangkan ucapanku." Ucap Antoni tersenyum sinis, lalu berlalu dari sana tanpa rasa malu, disaat orang-orang disana menatap sinis kepadanya.
"Kenapa kamu mencegahku, hah!" Kesal Fika, saat Ema sudah melepaskan dekapan kuat di pinggangnya.
"Karena yang di katakan pria itu benar, aku tidak pantas untukmu." Ucap Ema pedih, membuat Fika memejamkan matanya kemudian ia memeluk suaminya dengan erat.
Nyesekk nggak sihh😭
Perjuangan cinta mereka baru akan di mulai, akankah keduanya itu sanggup menjalaninya?
Vote vote vote!!!!!
__ADS_1