
Ema merebahkan dirinya di sofa ruang keluarga dengan badan yang terkulai lemas, sudah lama ia tidak melakukan olah raga berat dan terakhir ia olah raga berat ketika ia masih duduk di bangku SMA. Nafas Ema masih terasa naik turun dan keringat bercucuran membasahi tubuhnya.
"Arggh, tanganku rasanya ingin patah." Gumam Ema, sembari memijit lengannya sendiri yang terasa sangat linu karena habis mengangkat Barbell untuk menguatkan otot tangannya.
"Ayah sungguh kejam sekali." Gumam Ema, sembari terus memijat lengannya bergantian.
"Dasar lemah." Cibir Bondan, yang mendengar menantunya bergumam.
Ema yang mendengar suara Bondan pun langsung mendudukan diri. "Eh, Ayah... he he hee." Ema tersenyum kecut saat melihat Ayah mertuanya menatapnya kesal.
"Besok latihan lagi. Perkuat otot lengan kamu itu dengan mengangkat barbell dan sejenisnya biar tangan kamu tidak gemulai lagi!" Ucap Bondan.
"Iya Yah." Jawab Ema tersenyum.
Tidak berselang lama Fika datang dari dapur sembari membawa nampan yang diatasnya ada beberapa cemilan dan air dingin, kemudian Fika meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja ruang keluarga, setelah itu Fika duduk di samping suaminya.
"Capek?" Tanya Fika kepada Suaminya.
"Hu,um capek banget." Jawab Ema manja dan memperlihatkan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Cih, lebay." Cibir Bondan, saat melihat tingkah menantunya itu, kemudian Bondan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Setelah Bondan tidak terlihat, Ema merengkuh pinggang istrinya dan mengecup pipi istrinya derngan mesra.
"Pijitin, Yank." Pinta Ema dengan manja.
"Apanya yang di pijitin?" Goda Fika.
"Semuanya juga boleh termasuk itu tuhh, hi hi hi, apa masih sakit?" Tanya Ema, memajukan wajahnya berniat untuk mencium bibir istrinya namun bibirnya langsung di bekap oleh istrinya.
"Jangan main cium sembarangan apa, nanti ada yang lihat." Fika mengingatkan, apalagi saat ini mereka tengah berada di rumah Ayah Bondan. "Dan sudah nggak sakit lagi kok." Jawab Fika malu-malu.
"Hu'um, boleh, tapi pengamannya?" Tanya Fika.
"Gampang, nanti kita beli supermarket sekalian beli ayam kampung buat Ayah." Jawab Ema, tersenyum bahagia karena burung elangnya malam ini tidak menganggur.
"Baiklah. Tapi kamu harus mandi dulu." Ucap Fika, dan menarik tangan suaminya menuju kamar.
Saat sudah sampai kamar, Ema langsung menutup pintu kamar dan menguncinya lalu Ema melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya hingga menyisakan boxer berwarna hitam yang menutupi sesuatu yang menonjol di bawah sana.
__ADS_1
Fika yang melihat tubuh suaminya yang sudah setengah polos itupun menjadi salah tingkah sendiri.
"Ini diletakkan dimana baju kotornya?" Tanya Ema kepada istrinya.
"Di keranjang baju kotor, tuh di situ." Jawab Fika, menunjuk keranjang yang terletak di dekat lemari.
Setelah meletakkan baju kotornya Ema berjalan mendekati istrinya dan merengkuh pinggang ramping itu hingga tubuh keduanya tak berjarak.
"Sayang." Fika gugup sekali, jika Ema sudah menatapnya tajam.
"Kenapa, hem?" Ucap Ema tersenyum manis, kemudian ia memajukan wajahnya dan mencium bibir manis yang sudah menjadi candunya itu. Ema memagut bibir istrinya penuh gairah dan menuntut.
"Eugh, Nue." Dessah Fika, saat tangan Ema meremat bulatan kenyal miliknya dan bibir suaminya itu kini berpindah di lehernya.
"Makan kamu boleh ya?" Ucap Ema dengan suara seraknya dan menatap istrinya sayu, dan Fika mengangguk malu saja disana karena ia juga menginginkannya.
Dan selanjutnya yang terjadi adalah...
Bersambung 😜
__ADS_1
Kasih dukungan seikhlasnya yukk, biar emak makin semangat😘