Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Apa kita harus mengalah?


__ADS_3

Bondan menatap menantu dan putrinya dengan penuh keheranan. Pasalnya, saat ini mereka sedang makan malam di ruang makan, akan tetapi Bondan melihat jika pasangan pengantin baru itu terlihat saling diam dan tidak menyentuh makanan mereka.


"Kenapa kalian diam? Ayo makan." Ucap Bondan, kepada pengatin baru itu.


Namun baik Fika dan Ema masih saling diam. Bahkan keduanya itu kini menatapnya dengan intens.


"Hei, kalian ada masalah? Atau kalian sedang bertengkar?" Tanya Bondan, menatap menantu dan putrinya itu bergantian. Kemudian ia melanjutkan makan lagi.


"Kami baik-baik saja, Yah. Hanya saja kami sepertinya besok harus kembali kerumah." Jawab Ema, menatap Ayah mertuanya yang terlihat lahap memakan Ayam kampung bakar.


"Kenapa cepat sekali? Apa kamu tidak betah berada disini? Dan kamu juga belum begitu pandai meninju, lihat tanganmu saja masih gemulai begitu." Ucap Bondan panjang lebar.


Ema mendengus kesal, saat mendengar kalimat terakhir Ayah mertuanya itu.


"Nue, betah disini, Yah. Hanya saja kami sudah terlalu lama meninggalkan rumah kami." Jawab Fika, tersenyum lembut menatap Ayahnya.


"Lama apanya, kalian disini baru tiga hari, nanti Ayah kesepian lagi dong." Ucap Bondan, dan kini ia menghentikan makan malamnya.


"Kami janji akan sering mengunjungi Ayah, di setiap akhir pekan." Lanjut Ema.

__ADS_1


"Ya, baiklah. Lagian kalau kalian disini membuat jiwa jomblo Ayah meronta." Jawab Bondan, sekaligus menyindir pasangan yang duduk di depannya itu.


"Kenapa perkataan Ayah, selalu berakhir tidak enak ya." Ucap Ema , membuat Bondan tergelak keras.


"Lagian kenapa Ayah tidak menikah lagi?" Tanya Fika, menatap intens Ayahnya.


"Mana ada yang mau sama Ayah yang tua ini." jawab Bondan terkekeh geli.


Ema dan Fika saling pandang, kemudian keduanya itu menganggukkan kepala bersamaan.


"Ayah masih muda kok, sedangkan Mami ku saja yang sudah 52 tahun banyak yang menyukai bahkan banyak yang ingin melamar Mami." Ucap Ema, sedikit berbohong karena ia ingin melihat reaksi Bondan.


"Apa?!" Bondan memekik keras, saat ia mendengar ucapan Menantunya itu. Jantungnya berdetak sangat cepat dan juga dadanya kini terasa sangat panas.


"Eh, siapa yang kaget. Sepertinya tadi ada kecoa yang berjalan di kaki Ayah." Bohong Bondan, sembari melihat kolong meja dan menghentakkan kakinya berulang kali.


"Kecoa? Masa sih?" Tanya Ema, ikut melihat di kolong meja.


"Eh iya, Ayah hampir lupa, tadi mempunyai janji sama teman, Ayah permisi dulu ya. Kalian lanjutkan saja makan malamnya." Ucap Bondan sedikit gugup, lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar rumah.

__ADS_1


"Iya hati-hati, Yah. Salam buat temannya itu." Sahut Fika sedikit berteriak, dan kemudian terkikik geli sendiri.


*


*


*


*


"Kamu yakin kalau rencana kita ini berhasil?" Tanya Fika, kepada suaminya. "Apa tidak sebaiknya kita bertanya langsung kepada Ayah?" Tanya Fika lagi.


"Aku yakin akan berhasil, dan jika kita bertanya langsung kepada Ayah, pasti beliau punya seribu alasan untuk menyangkal, tapi melihat tingkah Ayah tadi sepertinya Ayah masih ada rasa sama Mami." Jelas Ema.


"Nue, sebenarnya sebelum bundaku meninggal dunia. Bunda berpesan kepada Ayah, untuk menikah lagi sama mantan kekasih Ayah. Apakah yang di maksud bunda itu adalah Mami?"


"Jika iya, lalu hubungan kita bagaimana?" Tanya Ema, menatap intens istrinya.


"Aku tidak tahu, tapi apa kita harus mengalah?" Fika balik bertanya, membuat Ema mengeraskan rahangnya dan menatap tajam istrinya.

__ADS_1


Oh tidak! Nue Fika kalian tidak boleh berpisah.😭


Emak minta sajen!! Kasih kopi yang banyak. 🙏


__ADS_2