
Bondan memasuki rumah sembarin menggerutu kesal.
"Ada apa Yah?" Tanya, Fika yang baru saja keluar dari kamar sembari membawa tas sekolahnya.
"Itu punya tetangga julid banget." Kesal Bondan, kemudian ia menceritakan semuanya kepada putrinya.
"itu bertanda, kalau Ayah sudah waktunya untuk menikah lagi. Aku tidak melarang Ayah menikah lagi, justru aku malah senang." Ucap Fika, menatap lembut Ayahnya.
"Tidak, ayah tidak mau menikah." Jawab Bondan.
Kecuali kalau sama Rima. Lanjut Bondan, dalam hati.
Fika menghembuskan nafasnya pelan, saat mendengar jawaban Ayahnya padahal dalam hati kecil Fika, ia sangat berharap jika Ayahnya itu mau menikah lagi.
"Eh, kamu mau pulang sekarang?" Tanya Bondan, kapada putrinya sekaligus untuk mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Yah." Jawab Fika, tersenyum dan tidak berselang lama Ema keluar dari dalam kamar sembari membawa tumpukan buku sekolah Fika, yang harus dibawa kembali kerumahnya.
"Ya sudah hati-hati." Ucap Bondan, lalu ia mengulurkan tangannya dan dengan sigap pasangan itu mencium punggung tangan Bondan bergantian.
"Sayang, kamu ke mobil dulu ya, dan maaf sekalian buku ini." Ucap Ema, sembari memberikan buku dan konci mobil kepada istrinya.
"Iya." Jawab Fika, lalu segera beranjak dari sana.
*
*
__ADS_1
*
*
"Apa yang ingin kamu biacarakan?" Tanya Bondan, yang kini duduk di ruang keluarga, berhadapan dengan Ema.
"Pertama aku ingin mengucapkan terimakasih kepada Ayah, karena sudah menerima ku di keluarga Ayah." Jawab Ema, dan menjeda ucapannya sejenak.
"Dan ini, semoga ini bermanfaat untuk Ayah." Ucap Ema, lalu menyerahkan amplop berwarna coklat kepada Bondan.
"Apa ini?" Tanya Bondan, saat menerima amplop tersebut kemudian ia membukanya.
"Ya Tuhan, Ayah tidak memerlukannya." Ucap Bondan, lalu menyerahkan amplop berisi uang tersebut kepada Ema lagi.
"Yah, aku ikhlas memberikannya. Aku akan sangat marah jika Ayah menolaknya." Ucap Ema, sembari mendorong tangan Bondan yang memegang amplop tersebut.
"Buat Ayah, kamu memberikan kebahagiaan, menyayangi dan mencintai putriku, itu sudah sangat cukup untukku." Jawab Bondan, masih mengembalikan amplop tersebut.
"Terimakasih, tapi lain kali kasih duit yang lebih banyak lagi." Ucap Bondan, lalu tergelak.
"Tentu saja." Balas Ema, tersenyum senang.
"Kamu memang suami dan menantu yang baik. Jaga Fika dengan baik ya, jika anak itu salah di tegur dan di berikan pengertian." Ucap Bondan, dan diangguki Ema.
"Pasti Yah, aku akan selalu menjaga dan mencintai istriku sampai akhir hayatku." Jawab Ema, dengan mantap.
"Aku percayakan semua padamu." Ucap Bondan.
__ADS_1
"Dan satu lagi, ada hal yang aku ingin tanyakan kepada Ayah." Ucap Ema, menatap ayah mertuanya itu dengan intens.
"Ya, tanyakan saja." Jawab Bondan, menipiskan bibirnya.
"Apa Ayah masih mencintai Mami?" Tanya Ema tanpa keraguan.
DEG
Jantung Bondan berdetak dengan cepat saat ia mendapat pertanyaan itu dari menantunya.
"Maksud kamu apa? ha ha ha." Bondan berusaha untuk menutupi perasaanya dan juga rasa terkejutnya itu.
"Aku sudah tahu semuanya, Yah. Dan aku mengingat Ayah yang datang ke rumah Oma untuk melamar Mami, 25 tahun yang lalu. Aku masih mengingatnya." Ucap Ema, membuat Bondan terdiam.
Bondan menundukan kepalanya dan mengusap kepalanya dengan kasar, kemudian ia mendongak dan menatap Ema, lalu berkata. "Sudah aku katakan sebelumnya, jika aku dan mamimu tidak akan bisa bersatu." Jawab Bondan, sambil menatap menantunya itu.
"Jadi benar, jika Ayah masih mencintai Mami?" Tanya Ema pelan, dan Bondan mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Kamu sudah tahu jawabannya bukan? Jadi jangan pernah mengungkitnya lagi." Ucap Bondan, tegas.
"Tapi, kenapa kalian tidak bersatu saja?" Tanya Ema.
"Lalu mengorbankan pernikahan kalian bergitu?!"
DEG
Kali ini, jantung Ema yang berdetak dengan cepat saat mendengar ucapan Ayah mertuanya.
__ADS_1
Oh No! Ayah dan Nue jangan bikin tegang Emak dong, cukup si elang saja yang tegang.😂
Kasih dukungan semampu kalian yak