Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Kamu Egois!


__ADS_3

Pagi hari telah tiba


Di kamar utama, Fika dan Emanuel sedang bersiap berangkat kesekolahan Fika untuk memenuhi panggilan dari pihak sekolah.


"Kamu sudah cantik, dan kenapa wajahmu semakin bersinar ya, apa karena kamu sedang mengandung junior?" Ucap Ema, sembari menatap kagum istrinya yang semakin terlihat cantik. Apa lagi saat ini Fika mengenakan seragam sekolah, dan terlihat semakin imut dan menggemaskan.


"Memangnya sebelumnya wajahku terlihat kusam ya?" Ketus Fika.


"Eh, aku tidak bilang seperti itu." Balas Ema.


"Tapi, ucapanmu mengatakan yang sebaliknya!" Balas Fika masih dengan nada ketus.


"Aduh, bukan begitu, Yank." Ucap Ema, bingung dengan sikap istrinya yang sering berubah-ubah.


"Sudahlah, ngomong sama kamu percuma tidak pernah membuat hati istri kamu senang." Ucap Fika sewot, lalu keluar dari kamar.


"Hah, fitnah ini namanya. Kapan aku tidak pernah membuatnya senang." Ucap Ema, segera mengejar istrinya.


Sampai diruang tamu, Fika dikejutkan dengan perkataan Ayahnya.


"Loh, katanya Ayah mau disini sampai aku melahirkan nanti?" Tanya Fika, dengan raut wajah yang kecewa.


"Iya tapi setelah dipikir, rumah kita nanti kosong dan berhantu lagi." Ucap Bondan, tidak sepenuhnya memberi alasan karena yang ia ucapkan itu apa adanya.


"Lagi pula, disini sudah ada ibu mertuamu yang akan menjagamu." Ucap Bondan, melirik Rima yang menundukan kepala.


"Tapi, aku tidak ingin berjauhan dengan Ayah." Ucap Fika, lalu memeluk Ayahnya yang duduk diatas Sofa .

__ADS_1


"Hih, jangan manja. Kamu bisa mengunjungi Ayah kapan pun atau Ayah juga bisa main kesini kapan saja. Jarak dari sini kerumah hanya 20 menit." Jelas Bondan, sembari mengelus punggung putrinya.


"Ada apa ini?" Tanya Ema yang baru sampai di ruang tamu dan ia melihat pemandangan yang tidak biasa.


"Ayah mau pulang kerumah." Jawab Fika, lalu mengurai pelukkannya dan menatap suaminya itu dengan memohon agar Ema mencegah keputusan Ayahnya.


Ema menghela nafasnya. Ia sudah yakin jika ini akan terjadi. Dan dirinya juga tidak bisa memaksa Ayah mertuanya untuk tetap tinggal, karena semua ini demi kebaikan bersama.


"Tapi, jika Ayah pulang nanti sendirian dan tidak ada yang menemani." Ucap Fika, lalu memeluk lagi Bondan dengan erat.


"Ayah tidak sendirian, ada bundamu yang selalu menemani." Ucap Bondan, sembari menunjuk dadanya. Hati Rima berdenyut nyeri saat melihat hal itu.


Ternyata dia masih mencintai istrinya, lalu untuk apa dia berbuat seperti itu kepadaku? Atau dia hanya ingin melampiaskan hasratnya saja. Batin Rima berkecamuk dan terasa perih.


"Ayah pulang dulu ya, kalian hati-hati berangkatnya nanti." Ucap Bondan, lalu melepaskan pelukan putrinya.


Bahkan dia tidak berpamitan dan menoleh kepadaku. Dia hanya mempermainkanku. Batin Rima, teriris perih. Bahkan air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya, namun dengan cepat ia menerjabkan matanya berulang kali agar air matanya itu tidak jatuh.


"Kita akan mengunjungi Ayah sesuka hatimu." Ucap Ema, lalu merangkul istrinya saat melihat Bondan sudah mengendarai motornya keluar dari pintu gerbang rumah tersebut.


"Iya, janji ya." Ucap Fika, dan Ema menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


"Mam, kita berangkat dulu ya." Ucap Ema kepada ibunya yang terlihat melamun di sofa ruang tamu tersebut.


"Eh, Iya." Jawab Rima sedikit terkejut, lalu berdiri menghampiri anak dan menantunya.


"Jangan ngebut, ingat istrimu sekarang sedang hamil." Rima mengingatkan.

__ADS_1


"Iya." Jawab Ema, lalu mencium punggung tangan ibunya dan di ikuti oleh Fika.


*


*


*


*


Setelah itu Ema dan Fika berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya itu.


"Apa kamu tadi melihat wajah sedih Mami? Pasti beliau saat ini sangat terluka." Ucap Fika, saat sudah di dalam mobil.


"Hem, aku tahu. Tapi, mau bagaimana lagi." Jawab Ema, lalu mulai menekan pedal gas mobilnya dan memacu mobilnya itu menuju sekolahan Fika.


"Apa tidak ada cara lain untuk mempersatukan mereka?" Tanya Fika, menoleh dan menatap suaminya yang terlihat fokus menyetir mobil.


"Jangan membahasnya!" Tegas Ema.


"Tapi yang aku baca di internet jika hubungan mereka tidak terlarang dan mereka bisa menikah." Jelas Fika lagi.


"Aku bilang jangan membahasnya!" Bentak Ema dengan keras sembari memukul stir mobilnya dengan kuat, membuat Fika beringsut mundur dan ketakutan.


"Kamu egois!" Lirih Fika, sudah terisak.


Bang jangan kasar bang.. kasian adek Fika😢

__ADS_1


Kasih dukungan seikhlasnya ya.😘


__ADS_2