Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Teramat sakit!


__ADS_3

Sedangkan dirumah sakit, Fika masih saja terus menangis di pelukan Ruri. Dan Ema sudah di tangani oleh dokter di ruang operasi, karena salah satu kaki Ema mengalami keretakan yang cukup parah.


"Ruri bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak mau kehilangan suamiku." Fika terus menangis.


"Ini semua karena si Kunyit itu, kamu yang tabah ya dan kita berdoa semoga Nue baik-baik saja," ucap Ruri berusaha menenangkan Fika yang terlihat sangat terpukul.


Kemudian Ruri menceritakan awal kejadian dimana Ema dan Antoni berkelahi. Tangis Fika semakin menjadi ketika mendengar cerita Ruri dari awal sampai akhir. Dirinya tidak menyangka jika Antoni bisa berbuat sekeji itu, dan lebih parahnya lagi dirinyalah akar dari permasalahan ini.


Nue, terimakasih cinta dan kasih sayang yang kamu berikan kepadaku. Kamu pria yang kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini, dan maafkan aku karena diriku, kamu menjadi terluka seperti ini. Mungkin aku tidak bisa membalas semua yang kamu berikan selama ini, tapi percayalah jika cintaku padamu lebih besar darimu. Sayang, Papanya anak-anakkiu, aku mencintaimu sangat mencintaimu. Batin Fika, teramat pedih dan air matanya terus mengalir deras di pipinya.


Bondan, Rima dan Jack sudah tiba di rumah sakit.


"Ruri, Fika, bagaimana keadaan Nue?" tanya Rima dan Bondan bersamaan ketika mereka sampai didepan ruang operasi.


"Entah, aku tidak tahu Mam. Kata dokter salah satu kakinya retak, hikss hiks. Mami aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada Nue." Fika terus manangis terisak lalu ia beralih memeluk Rima dengan erat, kemudian Ruri beranjak dan memeluk suaminya dengan erat lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu untuk menumpahkan tangisnya yang sejak tadi tertahan.


Sedangkan Bondan memeluk dua wanita yang di cintainya, dan memberi kekuatan agar mereka kuat menghadapi semua ini.


"Semua akan baik-baik saja," kata itu terus diucapkan Bondan untuk menguatkan diri sendiri, juga Anak dan istrinya.


*


*


*

__ADS_1


*


Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya operasi itu selesai dan Ema juga sudah di pindahkan keruang rawat VIP.


"Kakinya kirinya mengalami keretakan parah, dan beruntung kami masih bisa menyelamatkan kakinya dengan memasang Pen di kakinya itu," jelas Dokter, kepada keluarga pasien.


Tentu saja mendengar pernyataan dokter itu membuat hati mereka hancur berkeping. Termasuk Ema yang sejak tadi meneteskan air matanya.


"Tapi masih bisa berjalan 'kan, Dok?" tanya Rima, sembari menghapus air matanya.


"Masih bisa hanya saja masa peyembuhannya memerlukan jangka waktu yang lama. Namun, sebelumnya pasien disarankan untuk fisioterapi untuk mempertahankan kekuatan otot sehingga ketika pasien sudah siap untuk berjalan tidak ada kendala yang bermakna." jelas Dokter tersebut.


"Jika tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi ya," ucap Dokter itu lagi, kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Senyum Fika yang terkembang pun langsung memudar, lalu ia menarik tangannya kembali dan berusaha untuk tersenyum lagi.


Mungkin Nue, masih terpukul. Batin Fika.


Semua orang yang menyaksikan kejadian itu pun saling pandang dan mereka cukup mengerti jika Ema pasti terpukul dengan keadaan ini. Kemudian Bondan, Rima, Ruri dan Jack keluar dari ruangan tersebut untuk memberikan ruang kepada Fika dan Ema.


"Nue, kamu lapar? Aku suapi ya, sudah waktunya meminum obat," ucap Fika, lalu mengambil sepiring nasi yang sudah disajikan oleh pihak rumah sakit tersebut.


"Aku tidak mau makan!" ucap Ema, tanpa menatap istrinya itu.


"Tapi, kamu harus makan karena kamu harus minum obat biar cepat sembuh," lirih Fika, sembari menyendokkan nasi dan mengarahkannya kebibir suaminya.

__ADS_1


"Kenapa, apa kamu takut jika aku akan cacat?" desis Ema tertahan, dan matanya terlihat berkaca-kaca.


"Nue, bagaimana pun kondisimu aku akan tetap mencintaimu dan menerimamu apa adanya, apa kamu tidak mengingta janji suci kita? Kita akan selalu bersama dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan kita." jelas Fika, menatap nanar suaminya.


"Sekarang makan ya," bujuk Fika, dan menyodorkan sesendok nasi itu kebibir suaminya.


Prang


"Aku bilang aku tidak mau makan! Keluar kamu dari sini!" bentak Ema dengan kuat, sembari menepis piring yang di pegang istrinya, dan alhasil piring berserta nasinya itu pecah dan berceceran diatas lantai.


Fika menitihkan air matanya, kemudian ia berjongkok memunguti nasi yang berserakan dilantai.


"Apa yang kamu lakukan? Keluar kamu dari sini!" ucap Ema, ketika melihat istrinya masih berada disana sedang memunguti nasi yang beserakan tersebut.


Namun Fika tidak mengindahkan ucapan suaminya, dan ia tetap meneruskan kegiatannya itu.


"AKU BIILANG KELUAR!!" bentak Ema, dengan suara yang sangat keras.


"Aku akan keluar dari sini. Jika kamu marah dan membenciku karena akulah penyebab semua ini, maka aku minta maaf kepadamu, satu hal yang harus kamu tahu. Aku mencintaimu sangat mencintaimu." setelah mengatakan itu, Fika benar-benar keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang teramat sakit dan menahan sesak didadanya.


"ARGGHHH!!!!" teriak Ema dengan keras, sembari menarik rambutnya dengan kuat, setelah Fika sudah keluar dari ruangan tersebut.


Very sad😭


Jangan lupa kasih dukungannya ya, dengan cara like, vote, komentar dan kasih gift yang banyak❤

__ADS_1


__ADS_2