Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Gagal 1


__ADS_3

Setelah pernikahan sederhananya yang di langsungkan di hotel mewahnya, Ema dan Fika menginap di hotel itu untuk semalam tanpa melakukan adegan malam pertama yang biasa di lakukan oleh pengantin baru pada umumnya, mereka hanya bercumbu mesra dan yang tersiksa di sini adalah Ema karena ia harus menahan hasratnya yang sudah membara dan ia juga harus bolak-balik kekamar mandi untuk menenangkan Si elang yang sudah akan mengepakan sayapnya.


Sepertinya malam-malam berikutnya Ema akan tersiksa seperti ini, tapi mau bagaimana lagi jika semua sudah keputusan mereka berdua.


Setelah melewati malam pertama di hotel mewah itu, paginya pengantin baru itu sudah chek out dari hotel, begitu pula Bondan dan Rima juga melakukan hal yang sama dan pulang kerumah masing-masing. Sedangkan pengantin baru itu sedang menuju rumah barunya yang ada di kawasan Elit di kota tersebut.


"Apa nanti kita akan tinggal berdua saja disana?" Tanya Fika, kepada suaminya yang sedang fokus menyetir.


"Memang kenapa? Bukankah itu bagus jika kita hanya berdua saja." Jawab Ema, melirik sekilas istrinya yang sedang menatapnya.


"Ish, itu sih mau kamu." Fika mencebikan bibirnya kesal sedangkan Ema sudah tergelak, lalu tangan kirinya mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut, membuat jantung Fika berdetak tidak beraturan.


Duh, kenapa sih masih deg-degan saja kalau dia bersikap manis kayak gitu. Batin Fika meleleh.


Tidak berselang lama, keduanya kini sudah sampai ketempat tujuan mereka. Mobil yang dikendarai Ema sudah terparkir di halaman rumah mewah berlantai dua yang di yakini jika itu adalah rumah baru yang akan mereka tinggali.


"Wow, apa ini tidak terlalu besar jika untuk kita berdua?" Tanya Fika saat mereka sudah turun dari dalam mobil.


"Tentu saja tidak, karena akan ada anak-anak kita nanti yang akan meramaikan rumah ini." Jawab Ema, sembari merangkul pundak istrinya.


Blush


Wajah Fika memerah saat suaminya membahas masalah anak-anak.


Ah ya ampun dia bilang tadi anak-anak? Berarti dia ingin lebih dari satu anak? Apa aku sanggup. Batin Fika.


"Ayo kita masuk." Ema menggandeng tangan istrinya dengan mesra, melangkah bersama kedalam rumah itu.


"Rumah ini sangat besar sayang, apa aku sanggup untuk membersihkannya?" Tanya Fika, saat sudah di dalam rumah itu tepatnya di ruang tamu.


"Aku menikahimu itu untuk menjadi istriku dan juga menjadikan ratu dalam hati dan hidupku, jadi aku tidak akan membiarkanmu mengerjakan pekerjaan rumah, nanti akan ada ART dari rumah mami yang akan membersihkan rumah ini setiap harinya dari pagi sampai sore hari." Jelas Ema, sembari menatap istrinya dengan lembut dan penuh cinta.


Ya ampun, kenapa kata-katanya manis sekali dan aku lama-lama jadi diabetes benaran ini. Batin Fika meronta.


Fika tidak menyangka jika suaminya itu penuh perhatian kepadanya, sepertinya ia adalah gadis yang beruntung di dunia ini karena mendapatkan cinta Emanuel.

__ADS_1


Ema mendudukan diri di sofa yang ada di ruang tamu tersebut, ia sedikit mendongak dan menatap istrinya yang masih berdiri di dekatnya dengan kening yang berkerut.



"Jangan menatapku seperti itu." Ucap Fika, wajahnya kini sudah bersemu merah.


Duh, tatapan matanya dan bibir manisnya itu loh, bikin orang khilaf terus. Batin Fika.


"Memangnya kenapa?" Tanya Ema, tersenyum manis.


Ah tuh kan, jangan tersenyum seperti itu. Eneng nggak kuat bang. Keluh Fika dalam hati.


Hi hi hi, istriku gemesin banget sih. Pengen gigit pipinya. Batin Ema.


"Nggak apa-apa, kita belum melihat ruangan lainnya." Ucap Fika, sudah mulai gugup saat suaminya menatapnya dengan intens.


"Nanti saja, ada hal lain yang harus di kerjakan." Jawab Ema lalu menarik tangan Fika, hingga membuat istrinya itu jatuh kedalam pangkuannya. dan tentu saja gerakan cepat suaminya membuat Fika terkejut dan memekik tertahan.


"Kamu kebiasaan deh." Kesal Fika. "Katanya ada hal yang mau di kerjakan?" Tanya Fika, lalu ingin beranjak dari pangkuan suaminya namun gerakkan sudah ditahan Oleh Ema.


"Manggil apa tadi? Dasar tidak sopan, sepertinya bibir manismu ini harus di beri pelajaran ya." Ucap Ema dengan nada yang sedikit kesal, kemudian salah satu tangannya merambat naik ke tengkuk Fika dan sedikit menekannya.


"Kamu mau apa?" Fika memundurkan kepalanya namun tengkuknya ditahan oleh Ema hingga membuat dirinya tidak berkutik.


"Tentu saja memberikanmu pelajaran." Jawab Ema, semakin memajukan wajahnya kemudian ia mencium bibir manis itu dengan sangat lembut dan penuh dengan cinta.


Ah, dasar modus! Pekik Fika di dalam hati.


Namun walau begitu ia tetap menikmati ciuman itu bahkan ia membalas setiap pagutan yang di berikan oleh suaminya. Tangan yang tadinya menahan dada bidang Ema kini sudah berpindah keleher kokoh itu dan mengalung indah disana untuk memperdalam ciumannya.


"Aku mencintaimu." Bisik Ema, lalu menggendong tubuh istrinya menuju kamar utama yang ada di lantai dua.


Sampai di dalam kamar utama, Ema langsung merebahkan istrinya diatas tempat tidur secara perlahan, kemudian ia segera menindih istrinya dan melanjutkan ciuman panasnya.


Ema melepaskan ciumannya, nafasnya begitu memburu dan juga gairahnya sudah tidak terbendung lagi. Ema melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhnya dan juga di tubuh istirnya hingga keduanya polos tanpa sehelai benang.

__ADS_1


"Sayang, kamu berjanji jika akan melakukannya jika aku sudah siap." Ucap Fika, dengan nada yang bergetar.


"Tapi, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Please." Mohon Ema dengan wajah yang memelas.


"Tapi, aku...Emphhh, ahhh Nue.." Ucapan Fika kini tergantikan dengan lenguhan saat Ema membungkam bibirnya dengan ciuman panas dan tangan suaminya itu meremat kedua bulatan kenyal itu bergantian, membuat Fika tidak bisa menolak lagi.


"Aku akan melakukannya perlahan." Bisik Ema, lalu tersenyum manis dan mulai memposisikan dirinya.


"Tunggu!" Cegah Fika dan ia melirik kebawah sana.


"Ada apa?" Tanya Ema dengan kening yang berkerut.


"Itu, kenapa besar sekali? Apa muat ah itu pasti tidak muat." Tanya Fika dengan bodohnya, membuat Ema semakin mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak.


"Iya ya, apa muat ya?" Ema malah balik bertanya.


"Aku rasa tidak akan muat, lihat dia besar sekali sedangkan punyaku kecil." Ucap Fika, sembari memperhatikan sesuatu di bawah sana dan ia bergidik ngeri sendiri.


"Benarkah kecil? Coba aku lihat." Ema membuka kedua paha Fika dan menatap sesuatu di ujung sana dengan kening yang berkerut.


"Iya kecil, sedangkan punyaku sangat besar." Ucap Ema, sembari mengukur miliknya.


"Terus bagaimana?" Tanya Fika lagi.


"Entah, sepertinya kita harus belajar lebih dulu." Jawab Ema dengan bodohnya.


"Caranya?"


"Kita bisa belajar dari buku yang di berikan Oma Airin." Ucap Ema polos.


Tuhan tolong, Emak antara sedih dan juga pengen ngakak dengan tingkah polos mereka berdua. 🤣


Kasih dukungan semampu kalian ya😘


Maaf ya, pasti kalian nungguin up nya emak, tadi seharian NT emak eror😭

__ADS_1


ini aja tadi nungguin pak Su pulang kerja, tak suruh benerin dan alhamdulillah udah bisa lagi.


__ADS_2