Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Sudah punya suami!


__ADS_3

Bondan dan Rima tiba lebih dulu dirumah sakit, sedangkan Ema masih dalam perjalanan.


"Bon, apa yang terjadi?" Tanya Rima, kepada Bondan, saat ia bertemu dengan pria itu di parkiran rumah sakit.


"Entah, ayo kita segera masuk kedalam." Ajak Bondan, lalu keduanya itu berjalan kedalam rumah sakit.


"Nue, mana? Kamu sudah menghubungi dia, kan?" Tanya Rima, berjalan beriringan dengan Bondan, menuju ruang rawat Fika.


"Sudah, sebentar lagi juga sampai." Jawab Bondan, kemudian ia mempercepat langkah kakinya.


Sampai di dalam ruang rawat Fika, Bondan dan Rima di kejutkan saat putrinya menangis terisak di atas tempat tidur pasien, sedangkan Kepala sekolah, Wali kelas, dan Irfan tampak mengelilingi Fika, disana juga ada dua dokter yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur Fika.


"Ada apa Ini?" Tanya Bondan, dengan penuh keheranan dan tatapan tajam Bondan menatap satu persatu wajah orang yang ada di ruangan itu.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?" Tanya Rima, begitu ia melihat Fika terduduk diatas tempat tidur pasien sambil menangis terisak.


Dua dokter langsung menyingkir saat Rima berjalan mendekati tempat tidur Fika, untuk memberikan ruang kepada Rima.


"Mami." Fika langsung menghambur memeluk Rima dengan erat. Rima yang masih bingung dengan keadaan di dalam ruangan itu, mengurungkan niatnya untuk bertanya karena saat ini Fika terlihat terpukul dan juga terus menangis.


"Pak Bondan, bisa jelaskan ini?" Tanya Kepala sekolah, sembari menyerahkan benda pipih kepada Bondan.


"Tes pack?" Gumam Bondan, saat ia menerima benda pipih tersebut. Rima menoleh dan melihat benda pipih itu pun langsung tersenyum penuh arti.


"Saya tidak menyangka jika siswi berprestasi seperti Fika bisa berbuat seperti itu dan tentu saja hal ini akan menjadi aib sekolah kami." Ucap Kepala sekolah, penuh dengan kekecewaan.


"Berapa bulan?" Tanya Bondan, kepada Dokter dan mengabaikan Kepala sekolah tersebut.

__ADS_1


"Sudah memasuki bulan ke tiga, Pak." Jawab dokter kandungan yang beberapa saat yang lalu memeriksa Fika.


"Selamat ya, Nak." Ucap Bondan terharu, lalu menghampiri Fika dan memeluk putrinya dengan erat.


Lah?


Semua yang ada di ruangan itu menjadi cengo saat melihat reaksi Bondan. Bahkan kepala sekolah sampai menggelengkan kepalanya berulang kali, karena ia merasa aneh dengan sikap Bondan.


"Pak, putri Pak Bondan ini hamil diluar nikah loh! Kenapa Bapak malah senang dan apakah seperti ini didikan bapak kepada Fika?" Kepala sekolah bersuara lagi lantaran kesal dengan sikap Bondan.


Mendengar ucapan kepala sekolah tentu saja membuat Bondan geram, kemudian ia melepaskan pelukan putrinya dan menatap kepala sekolah dengan tajam.


Melihat suasana di ruangan itu memanas, dua dokter yang ada di ruangan tersebut pamit undur diri, dan berpesan agar menyelesaikan masalah dengan damai. Sedangkan Irfan dan wali kelas hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka.


"Asal anda tahu ya, Pak! Putri saya tidak hamil diluar nikah!" Balas Bondan, membuat ketiga orang itu terkejut bukan kepalang.


"Ayah." Fika menggeleng agar ayahnya itu tidak bersuara lagi, karena dirinya hamil juga sudah keputusan bersama dengan suaminya, jika ia di keluarkan dari sekolah, ia bisa melanjutkan pendidikannya setelah melahirkan nanti.


"Biarkan mereka tahu! Ayah tidak terima dengan ucapan kepala sekolah itu yang menganggap Ayah tidak becus mendidik kamu." Kesal Bondan dengan penuh emosi.


"Bon bon." Panggil Rima dengan lantang.


"Jangan ikut campur dulu, Rim!" Sentak Bondan, membuat Rima langsung terdiam, kemudian Rima memeluk Fika lagi dan menenangkan menantunya itu.


"Begini ya, Bapak kepala sekolah. Fika sudah menikah empat bulan yang lalu dan alasanku menikahkan Fika karena aku tidak ingin putriku terjerumus kedalam lembah dosa karena waktu dia sudah berpacaran dengan suaminya, lalu letak kesalahanku dimana? Bukankah aku sudah menyelamatkan putriku dari lembah dosa, apa lagi gaya berbacaran anak jaman sekarang sangat mengerikan dan membuat para hati orang tua was-was. Kalau bapak punya anak perempuan pasti merasakan dengan apa yang aku rasakan." Jelas Bondan, membuat kepala sekolah dan wali kelas itu terdiam.


"Tapi tetap saja salah, Pak! Fika masih sekolah dan Pak Bondan pasti tahu sanksi yang akan diterima Fika." Ucap Kepala sekolah.

__ADS_1


"Saya tahu, Pak. Dan saya juga sudah siap jika harus di keluarkan dari sekolah." Kali ini Fika yang menjawab.


"Kami sebenarnya sangat menyayangkan hal ini bisa terjadi karena kamu adalah siswi yang berprestasi, tapi ini juga sudah peraturan sekolah, jadi saya meminta maaf jika harus mengeluarkanmu dari sekolah, dan kita semua yang ada disini berjanji tidak akan memberi tahu siapapun tentang kondisimu saat ini." Jelas kepala sekolah, sembari menatap Wali kelas dan Irfan bergantian.


"Iya pak, dan terimakasih." Jawab Fika, tersenyum.


Kemudian Kepala sekolah dan wali kelas meminta maaf kepada Bondan, lalu mereka berpamitan dengan Fika, Bondan, Rima dan tak lupa mereka mengucapkan selamat atas kehamilan muridnya itu.


Sedangkan Irfan masih berada di ruangan itu, sembari menatap Bondan dengan takut.


"Fik, selamat ya atas pernikahan dan kehamilan lo." Ucap Irfan tulus, kemudian ia berjalan menghampiri Fika dan mengulurkan tangannya.


"Kita masih bisa berteman, kan? Walau nanti kita sudah tidak bertemu." Ucap Irfan.


"Tentu saja, dan lain kali main kerumahku ya." Jawab Fika, sembari menjabat tangan Irfan.


"Baiklah, aku pamit ya." Ucap Irfan, kemudian ia menyalami Rima.


"Tante, mami barunya Fika? Tante cantik banget sih." Ucap Irfan memuji kecantikan Rima. Sedangkan Rima hanya tersenyum simpul membalas pujian Irfan.


"Ehem!" Bondan berdehem keras saat, ia mendengar Irfan memuji kecantikan Rima.


"He he hee, aku pamit dulu ya, Om." Ucap irfan, sembari meringis takut saat melihat Bondan melotot kepadanya


"Ya sana! Pergi yang jauh!." Usir Bondan, sembari mengibaskan tangannya.


Senangnya Fika sudah positif Hamil dan Ayah Bondan juga masih sangat mencintai Mami Rima, ☺

__ADS_1


Kasih dukungan semampu kalian ya...😚


__ADS_2