Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Senjata makan tuan!


__ADS_3

"Silahkan tangkap Emanuel, tapi kamu akan berhadapan dengankku!" suara bariton itu terdengar sangat tegas dan menakutkan.


"Tuan?!" pekik mereka bersamaan, saat melihat seorang pria yang baru memasuki ruangan itu.


"Ayo tangkap sekarang!" ucap Pria tersebut, menatap tajam Tuan Turmeric sembari mengusap bibir tebalnya yang seksih itu.



Tuan Turmeric diam dan menundukan kepalanya, sedangkan polisi yang ada di dekatnya pun membungkukan badannya bertanda memberi hormat.


Ah, mati aku. Batin Tuan Turmeric, takut.


"Tuan Clark, terimakasih telah meluangkan waktu untuk menjenguk Nue. Sungguh kehormatan bagi kami," ucap Rima tersenyum senang, lalu menundukan badannya. Sedangkan Ema tersenyum senang lalu mengangkat tangan kanannya bertanda jika dirinya menyapa Xander. Dan Xander pun membalas dengan senyuman tipisnya.


"Tidak perlu sungkan Nyonya, Emanuel sudah saya anggap bagian keluarga saya sendiri," jawab Xander datar.


"Maaf Tuan, apa anda mengenal pria ini?" tanya Polisi sembari menunjuk Ema yang duduk diatas tempat tidur pasien.


"Tentu saja kenal! Dia termasuk keluargaku! Jadi siapa yang ingin mengusiknya?!" tanya Xander datar, dan matanya melirik tajam Tuan Turmeric.


Gleg


Tuan Turmeric menelan ludahnya dengan kasar, ketika melihat tatapan tajam yang seolah akan menikam jantungnya.


"Maaf Tuan, tapi berdasarkan keterangan dan bukti jika Emanuel—"


"Mana buktinya?!" potong Xander cepat, lalu menengadahkan tangannya kearah polisi tersebut.


Polisi tersebut berdehem pelan lalu mengambil ponselnya yang ada di kantong celananya, kemudian ia memperlihatkan Video rekaman CCTV itu kepada Xander.


PRANK


Xander membanting ponsel itu hingga tak berbentuk, tentu saja semua orang yang ada disana sangat terkejut, terutama si pemilik ponselnya yang menatap ponselnya sudah tidak berbentuk diatas lantai itu.


Ponselku, baru beli kemarin, Hiks. Batin polisi tersebut.


"Kau ini tidak becus bekerja Hah! Apa matamu buta, jika bukti video itu sudah diedit!" maki Xander dengan sangat keras hingga menggema memenuhi ruangan tersebut. Dan polisi tersebut sampai memejamkan matanya, ketika mendapat makian dari orang yang berpengaruh di negara tersebut.


"Dan kau! Aku akan menarik semua sahamku dari usaha perhotelanmu dan kerja sama kita batal!" ucap Xander dengan tegas.


"Tuan, jangan tuan. Maafkan saya," Tuan Turmeric sampai merendahkan dirinya dengan bersujud di bawah kaki Xander.


Jika kehilangan kontrak kerja sama dengan perusahaan Holitron Grub, maka usahanya akan hancur berkeping. Apalagi pemimpin Holitron grub itu tidak kenal ampun dan sangat kejam dengan lawannya.

__ADS_1


"Cih, dasar penjilat! bawa pergi dia dari sini!" titah Xander pada polisi tersebut.


Dan polisi tersebut menganggukan kepalanya dengan lesu, lantaran ponselnya yang baru ia beli sudah tidak berbentuk lagi.


"Dan kau, besok datang ke Holitron Grub dan minta ganti rugi kepada Asistenku Devan!" tegas Xander, dan diangguki cepat oleh polisi tersebut. "Lain kali kerja lebih terliti dan juga jangan pernah mengusik lagi kehidupan Emanuel dan keluarganya!" ucap Xander dengan tegas kepada Tuan Turmeric dan polisi tersebut.


"Baik, Tuan," jawab keduanya, lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Anda harus ikut kekantor polisi! Karena sudah menyabotase barang bukti!" ucap Polisi tersebut saat sudah luar kamar rawat Ema, kemudian ia memborgol kedua tangan Tuan Turmeric dan menggiringnya ke kantor polisi. Tuan Turmeric mengumpat kesal karena niatnya ingin membalaskan dendam anaknya malah menjadi senjata makan tuan.


*


*


*


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Xander kepada Rima dan Ema.


"Kami baik-baik saja, Oppa. Dan terimakasih sudah membantu kami. Oh ya? Mami kecil kemana?" jawab Ema, sekaligus bertanya kepada Xander. Rima dan Ema bernafas lega, karena kedatangan Xander tepat waktu.


"Dia dibawah, mengantarkan nenek rempong berobat," jawab Xander terkekeh, lalu mendudukan diri diatas sofa yang ada di sana dengan gaya yang sangat elegant.


Rima sigap mengambilkan soft drink, dari kulkas kecil yang ada disudut ruangan itu dan meletakkannya di meja tepatnya di depan Xander.


"Iya, ini saja sudah lebih dari cukup," balas Xander tersenyum tipis.


Tidak berselang lama terdengar kehebohan dari luar ruang rawat Ema. "Anak nakal itu memang kurang garam! Seharusnya dia menunggu kita! Lihatlah kaki Mommy rasanya mau patah karena berjalan sejauh ini!" gerutu Oma Airin, saat memasuki ruang rawat Ema. Sedangkan Jeje menghela nafasnya sembari menggelengkan kepalanya pelan dan terus memapah ibu mertuanya yang kesulitan berjalan.


Oma Airin menyapa Rima dan Ema terlebih dahulu, barulah kemudian keduanya itu berjalan kearah sofa.


"Nah ini dia biang keladinya!" omel Oma Airin ketika melihat Xander yang sedang berduduk santai diatas Sofa.


"Marahnya nanti saja Mom, duduklah dulu," ucap Jeje dengan lembut sembari membantu Oma Airin duduk disebelah Xander.


Plak


Oma Airin memuku kepala Xander dengan keras.


"Sakit! Mom!" pekik Xander, mengusap kepalanya.


"Dasar anak luknut!" maki Oma Airin.


"Siapa suruh Mami kebanyakan makan daun kolor! Jadi begitu 'kan asam uratnya kambuh!' balas Xander dengan kesal.

__ADS_1


"Kelor, Dad," ralat Jeje, dan tertawa lebar.



"Iya, apa itu namanya, terserah sama saja," balas Xander, membuat Rima dan Ema menahan tawanya.


"Nue! Ya ampun kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Jeje turut prihatin, ketika melihat kondisi kaki kiri Ema yang terpasang gips.


"Ya beginilah," jawab Ema tersenyum manis. "Maaf, aku belum menjenguk si mulut pedas," ucap Ema merasa tidak enak hati.


"Hih, tidak apa-apa. Yang penting kesehatanmu yang utama," jawab Oma Airin.


"Eh, istrimu mana? Sejak tadi tidak kelihatan?" tanya Jeje, sembari memperlihatkan sekitarnya.


"Istirahat dirumah, maklum sedang isi, Nyonya," Rima menimpali.


"Wah, benarkah? Ternyata burung puyuhmu bereaksi ya? Apa bibitnya unggul?" tanya Oma Airin heboh, sembari bertepuk tangan. Ema yang mendengarkan perkataan Oma Airin pun mencebikkan bibirnya dengan kesal. Mendengar kata istri, membuat Ema sangat merindukan Fikanya.


"MOM!" Jeje memperingati ibu mertuanya agar diam.


"He he he, bercanda," jawab Oma Airin terkekeh.


*


*


*


Disisi lain Fika kini sedang merebahkan diri diatas tempat tidur sembari melihat foto suaminya yang ia jadikan wallpaper ponselnya.


"Kangen,,,," rengek Fika, seraya mengusap Foto suaminya itu.


"Tapi, kamu nyebelin! Jadi nggak kangen!" rajuk Fika, lalu ia meletakan ponselnya dengan kasar dan menutupinya dengan bantal.


Bondan yang sejak tadi memperhatikan tingkah putrinya dari ambang pintu pun ingin menyemburkan tawanya.


"Budak cinta," gumam Bondan.


Udah dikabulin ya keluarga Clark berkunjung di kasih bonus visual lagi, siapa tahu mengobati kangen kalian. Tapi bayar pakai like ya! Awas kalau nggak!🤭


Jangan lupa dukunganya ya.


Senin ya senin,, semoga yang kasih Vote dilancarkan rejekinya,. aminnn

__ADS_1


__ADS_2