Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Hug and kiss me


__ADS_3

Hari demi hari telah dilalui, dan tidak terasa Emanuel sudah berada dirumah sakit selama satu bulan dan selama itu juga istrinya tidak menemuinya, membuat dirinya selalu tidak tenang. Dan ia yakin jika Fikanya masih marah kepadanya.


Dan pagi ini, Ema sudah di perbolehkan untuk pulang kerumah karena kondisi kakinya sudah berangsung membaik, walau ia harus jalan menggunakan tongkat atau terkadang memakai kursi roda.


"Apa dia masih marah denganku?" tanya Ema, kepada Bondan dan Rima, saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tidak, dia tidak marah denganmu," jelas Rima tersenyum, lalu mengusap punggung putra dengan lembut.


"Tapi kenapa dia tidak pernah menemuiku? Apa karena aku sekarang cacat?" Ema mulai berpikiran negatif lagi kepada istrinya. "Dan setiap pesan dan panggilan dariku juga tidak pernah dia repon sama sekali," ucap Ema lirih.


Bondan menghembuskan nafasnya dengan kasar ketika mendengarkan penuturan menantunya yang membuatnya geram. Tapi, Bondan berusaha untuk menguasai diri agar tidak emosi dan ini semua juga bukan kesalahan Ema sepenuhnya.


"Ada satu hal yang tidak kamu ketahui tentang Fika selama ini," Bondan membuka suara, dan menatap menantunya dari spion tengah, karena saat ini dirinya sedang menyetir mobil.


"Ada apa dengan Fika?" tanya Ema, dengan perasaan cemas. Kemudian Bondan dan Rima menceritakan kejadian dari mulai Fika pingsan dan harus istirahat total dirumah.


Tubuh Ema lemas seketika, saat mendengarkan cerita Ayah dan Maminya.


"Kenapa kalian tidak bilang kepadaku? Aku ini suami yang sangat kejam!" kesal Ema, lalu memukuli kepalanya sendiri dan berteriak histeris.


Suami macam apa aku ini? Batin Ema, sangat marah dan kesal dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Semua karena permintaan Fika, dia tidak ingin membuatmu khawatir. Fika ingin kamu fokus dengan kesembuhanmu sendiri," jelas Rima, lalu menghentikan tangan Ema yang terus memukuli kepalanya.


Lihat!


Begitu besar cinta Fika untuk suaminya!


Perasaan bersalah semakin menyeruak masuk kedalam hati Ema.


Tidak berselang lama mobil yang mereka tumpangi sudah sampai dihalaman rumah besar tersebut. Ema segera keluar dari dalam mobil dengan menggunakan tongkat, tanpa menunggu Bondan dan Rima.


"Nue! Berjalanlah dengan hati-hati!" ucap Rima sedikit berteriak.


"Akhirnya, Den Nue pulang," seru Bibik dan tersenyum bahagia yang datang dari arah dapur


"Istriku kemana, Bi?" tanya Ema.


"Di kamar Den, kerjaannya nangis terus katanya kangen sama Den Nue," jawab Bibik keceplosan.


Ema mengembangkan senyumannya, ketika mendengar penuturan Bibik.


Benarkan dia merindukanku? Batin Ema sangat bahagia.

__ADS_1


Kemudian Ema berjalan dengan tertatih menuju kamar utama yang ada di lantai atas.


Saat sudah sampai di depan pintu kamarnya itu, Ema membuka pintu tersebut dengan pelan. Lalu perlahan ia memasuki kamarnya, bibirnya semakin terkembang ketika ia melihat istrinya masih terlihat pulas diatas ranjang.


"Sayang aku kangen banget," bisik Ema, ia mendudukan diri ditepi tempat tidur dan tangannya itu terulur untuk membelai wajah cantik istrinya yang terlihat tirus.


Kenapa badanmu terlihat kurus? Apa kamu tidak makan dengan baik? Batin Ema bertanya, lalu ia mengecup pipi istinya dengan lembut.


"Eugh," Fika mulai menggeliat dan membuka kedua matanya, ia tersenyum saat ia melihat wajah suaminya yang berada di dekat wajahnya.


Fika berfiikir jika saat ini drinya sedang bermimpi.


"Aku kangen," lirih Fika, lalu meneteskan air matanya, begitu pula Ema ikut menangis.


"Aku disini sayang," jawab Ema, sembari mengusap air mata istrinya itu.


"Hug and kiss me," pinta Fika, dengan manja lalu merentangkan kedua tangannya.


Duh seneng kalau sudah ada manis-manisnya😘


Kasih dukungannya ya, jangan lupa!

__ADS_1


__ADS_2