
Satu bulan kemudian
Kondisi kaki Emanuel sudah pulih kembali seperti sedia kala, ia sudah bisa berjalan normal dan tidak memerlukan tongkat lagi. Sedangkan kehamilan Fika sudah memasuki bulan ketujuh, dan perut wanita itu terlihat semakin membesar. Kehidupan mereka tampak sangat bahagia, walaupun dalam membina rumah tangga tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Pasti ada masalah kecil yang menjadi bumbu-bumbu cinta didalam rumah tangga mereka, seperti siang ini Fika sangat ingin memakan Bibimbap makanan khas dari negeri gingseng tapi Fika ingin makanan itu di buat oleh suaminya sendiri.
"Sayang, permintaanmu itu aneh sekali? Mana bisa aku memasak makanan itu!" Ema beralasan, sembari menatap layar laptopnya, karena saat ini dirinya sedang memeriksa laporan bulanan yang dikirimkan oleh Ruri melalui emailnya.
"Ih, ini permintaan junior! Sayang, ayolah," rengek Fika seperti anak kecil yang meminta permen, sembari menarik-narik baju suaminya dan bibirnya mengerucut sebal.
"Hah," Ema mengehembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian ia mendongak dan menatap istrinya dengan malas. Lalu ia beranjak dari duduknya, karena saat ini dirinya berada di ruang kerjanya. "Ayo, aku akan membuatkannya untukmu tapi tidak gratis, dua ronde nanti malam," ucap Ema, lalu mengecup pipi istrinya dengan mesra. Tentu saja Ema tidak mau rugi dalam hal ini, dia akan mengambil keuntungan sebanyak mungkin dari istrinya itu.
"Satu saja, tadi pagi sudah satu ronde di kamar mandi," tawar Fika.
"Dua atau tidak sama sekali," balas Ema, kemudian ia ingin mendudukan diri di kusri kerjanya lagi.
"Iya! Dasar rakus!" jawab Fika bersungut-sungut, dan menarik tangan suaminya agar berdiri lagi.
__ADS_1
"Yang ikhlas, biar dapat pahalanya dobel. Lagi pula kandunganmu sudah memasuki trimester tiga jadi harus sering di pakai biar nanti bisa lahiran normal," ucap Ema apa adanya, sekaligus modus. 😆
"Iya," gerutu Fika.
"Gitu dong, biar kita sama-sama enak. Ya, nggak?" Ema menarik turunkan alisnya dan wajahnya itu menatap istrinya dengan mesum.
"Banyak omong, aku sudah laparrrrrrrrr," ucap Fika, menekan kata 'r', kemudian ia menarik tangan Ema dan berjalan menuju dapur.
"Ada bahannya nggak?" tanya Ema, saat ia sudah sampai didapur.
"Ada sayang, tadi aku sudah meminta Bibik untuk berbelanja," jawab Fika, sembari mendudukan diri di kursi meja makan yang memang letaknya berdekatan dengan dapur.
"Aku pengennya Papa yang masak, kalau Papa yang memasak pasti akan di tambahi dengan bumbu cinta," jawab Fika, sembari memberikan finger heart kepada suaminya, dan tatapan matanya itu berbinar bahagia.
Ea... Eaa... uhuii icikiwir🤣
__ADS_1
"Uh, manis sekali," hati Ema menghangat ketika mendengar ucapan istrinya, kemudian Ema berjalan mendekati Fika lalu memeluk tubuh yang semakin berisi itu dengan erat.
"Love you, Mama," ucap Ema, lalu mengurai pelukannya dan menatap istrinya itu dengan penuh cinta.
"Love you too, Papa," balas Fika, dan tersenyum lembut. Kemudian Ema menundukan kepalanya dan melabuhkan ciuman hangat kepermukaan bibir istrinya itu dan menyesapnya bergantian, hanya ciuman hangat yang penuh cinta dan tidak ada rasa gairah atau yang lainnya.
Ema melepaskan tautannya, kemudian ia tersenyum manis begitu pula Fika yang ikut melebarkan senyumannya.
"Sudah sana masak buat aku dan Junior, tapi masaknya jangan pakai baju," ucap Fika, membuat Ema terkejut dan melebarkan matanya.
"Maksud kamu, aku terlan*jang?" tanya Ema, sembari menutup dada bidangnya dan si elang yang terbungkus celana kolor.
"Bukan! Tapi hanya melepas baju saja dan pakai si sailor moon," ucap Fika, sembari menunjuk apron kesayangan suaminya yang tergantung di dekat kulkas.
"What?!"
__ADS_1
Nikmati penderitaanmu, Papa. Bayarannya juga mahal 'kan? Dua ronde loh,😆
Terimakasih sudah mendukung karya Ema ini, jangan lupa dukung terus ya sayang. Semoga dimana pun kalian berada selalu di lindungi oleh allah dan sehat selalu, Aminnn🙏