
"Hah? Maksud kamu apa?" tanya Ricky terheran.
"Itu lubangnya, jangan di jahit semua," jawab Ema pelan, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dasar Bodoh! Aku tidak segila itu!" sungut Ricky.
Sedangkan Fika harus menebalkan mukanya, karena suaminya itu sudah membuatnya malu, andai saja tubuhnya tidak lemas, sudah dipastikan bibir suaminya akan ia ikat pakai karet, agar tidak berbicara absurd lagi.
"He hee, ya takutnya saja kalau kamu lupa," ucap Ema, dan disambut gelengan kepala oleh Ricky.
Saat ini Fika sudah di pindahkan di ruang perawatan, ia juga sedang belajar menyusui bayinya. Bayi berjenis kelamin laki-laki dengan bobot 2,5 kg dan panjang badan 50 cm itu sedang belajar menghisap sumber makanannya. Fika duduk diatas tempat tidur pasien sembari menyusui putranya dan punggungnya ia sandarkan di dada bidang suaminya yang tengah duduk di belakangnya.
Bondan dan Rima menyambut kelahiran cucu pertama mereka dengan sangat antusias. Bahkan Bondan memberikan hadiah sarung tinju, karena ia berharap jika cucunya kelak bisa menjadi atlet tinju seperti dirinya, sedangkan Rima memberikan mainan mobil-mobilan yang cukup banyak untuk cucu pertamanya.
"Ah, ya ampun. Cucuku sangat tampan sekali, tapi kenapa rambutnya pirang ya?" tanya Rima, sembari mengusap pipi cucunya dengan lembut, memperhatikan rambut cucunya yang berwarna pirang.
"Sepertinya rambut anakku mirip dengan mendiang Opanya," jawab Ema, tersenyum bahagia, lalu merangkul Fika yang sedang menyusui putranya.
"Iya, papi kamu 'kan bule," Rima membenarkan ucapan putranya.
__ADS_1
"Benarkah, Mam? Pantas saja suamiku sangat tampan," puji Fika, lalu mengecup pipi Ema dengan mesra.
"Kamu baru menyadari jika suamimu ini sangat tampan?!" cibir Ema, berpura-pura marah, sedangkan Fika hanya terkekeh geli, lalu menatap putranya yang sedang sibuk menghisap sumber makanannya.
Hati Bondan dan Rima menghangat ketika melihat keluarga kecil itu. "Mereka sangat bahagia," ucap Rima dan diangguki Bondan.
"Apa kamu tidak ingin memiliki bayi seperti mereka?" goda Bondan, menarik pinggang istrinya agar merapat ketubuhnya.
"Jangan mengadi-ngadi!" kesal Rima, melepaskan tangan Bondan yang membelit pinggangnya.
Kemudian Rima berjalan menuju sofa yang ada disana dan membongkar beberapa tas yang di bawanya dari rumah seperti pakaian Fika dan Ema, dan tidak lupa ia membeli perlengkapan bayi untuk cucunya. Lalu Rima membereskan barang-barang tersebut dan memasukannya kedalam lemari.
Ema menggendong putranya dengan sangat hati-hati, ia sangat bahagia dan sesekali mencium putranya yang tertidur pulas di gendongannya.
"Jambangnya nanti di cukur, Pa," pinta Fika.
"Ya, sayang," Ema menoleh dan tersenyum menatap istrinya yang sedang makan disuapi Rima.
Sedangkan Bondan duduk di sofa sembari menatap keluarga kecil yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Anak kita sudah bahagia, dan aku pun sudah menikahinya, apa kamu juga bahagia diatas sana? Aku harap, iya. gumam Bondan, tersenyum haru mengingat mendiang istrinya.
"Anak kalian namanya siapa?" tanya Rima, karena sejak tadi ia belum mendengar nama cucunya.
"Namanya Arjuna, Mam," jawab Fika, tersenyum.
"Oh, nama yang sangat bagus, jika ia besar nanti akan menjadi penakhluk wanita, benar bukan?" celetuk Bondan diiringi tawa.
"Hei, kenapa kalian menatapku seperti itu?" Bondan mengehentikan tawanya, saat melihat ketiga orang itu menatapnya dengan datar.
"Ah, salah ngomong aku," gumam Bondan, tersenyum paksa.
Ema mengehela nafasnya kasar kemudian ia meletakkan putranya di tempat tidur bayi dengan sangat hati-hati.
"Loh, kenapa malah bangun?" ucap Ema, saat melihat putranya membuka mata.
"Arjuna, pengen di peluk Papa terus ya," Ema, mengangkat tubuh mungil itu kedalam dekapan hangatnya.
__ADS_1
Ganteng ya, anaknya Nue dan Fika❤🥰
Jangan lupa kasih dukungannya ya, 😘