
Disisi lain tepatnya di rumah minimalis telah terjadi kehebohan, karena penghuninya kalang kabut mencari lilinn.
"Dimana lilinnya?" Tanya Ema, sembari berjalan ke dapur dan memegang ponselnya, sedangkan Fika memeluk Suaminya dari belakang.
"Aku tidak tahu. Jangan lepaskan tanganku, aku takut gelap nanti hantunya datang." Rengek Fika, saat Ema akan melepaskan tangannya.
"Tidak ada hantu, sayang. Aku kesulitan bergerak jika kamu memelukku dengan erat." Ema, mengelus tangan istrinya.
"Ada hantu, aku takut pokoknya aku takut." Rengek Fika lagi, membuat Ema tergelak keras.
"Ya ampun, jago berkelahi kok takut hantu. Masa kalah sama yang gemulai." Ledek Ema, dan tergelak lebih keras lagi.
"Terus ledek terus, aku jamin setelah ini si elang tidak akan bisa masuk ke terowongannya." Balas Fika telak.
Ema yang mendengar ancaman istrinya pun langsung menghentikan tawanya, lalu ia membalikan badannya dan meminta maaf kepada istrinya.
"Maaf sayang, tadi aku cuma bercanda kok. Beneran dan jangan marah ya." Ucap Ema, dengan nada memohon.
"Kamu nyebelin!" sungut Fika, dan mengehtakkan kakinya kesal. "Aku beneran takut gelap dan hantu, malah di ledek." Kesal Fika.
"Iya maaf, tidak lagi. Sekarang jangan cabut SIM ku ya." Ucap Ema lalu memeluk istrinya dengan erat.
"SIM?" beo Fika.
"Iya, surat ijin menusuk." Jawab Ema tergelak, lalu mendapat cubitan panas dari istrinya.
__ADS_1
"Sakit, yank." Keluh Ema, sembari mengusap perutnya lalu ia mengurai pelukkanya.
"Lagian mesum!!!!" Balas Fika.
"Iya, iya maaf." Ucap Ema. Kemudian keduanya itu melanjutkan mencari lilin lagi di dapur, setelah mendapatkannya. Ema menyalakan lilin di ruang keluarga, dapur dan juga di kamarnya.
"Ayo kita tidur." Ajak Ema kepada Fika, karena saat ini keduanya itu sudah berbaring diatas tempat tidur.
"Ayah kemana ya? Sudah jam sembilan malam kenapa belum pulang?" Tanya Fika, sembari mengendusi dada bidang suaminya yang bertelanjang dada itu.
"Mungkin Ayah masih bersama temannya." jawab Ema, sembari mengelus punggung istrinya dengan lembut dan memberikan ketenangan disana.
"Tidak biasanya, Ayah keluar malam." Ucap Fika lagi.
"Yank, kamu berkeringat banget." Ucap Fika, sambil mengusap keringat di kening suaminya.
"Panas." Jawab Ema, lalu membuka matanya lagi dan menatap wajah cantik istrinya.
"Maaf, disini tidak ada genset. Jadi kamu kepanasan deh." Ucap Fika.
"Tidak apa-apa, asalkan bersamamu saja itu sudah cukup bagiku." Jawab Ema tersenyum manis, lalu mengecup bibir istrinya dengan penuh cinta.
Gimana nggak diabetes, kalau tiap hari dikasih yang manis-manis begini. Batin Fika, meronta.
"I love You." Ucap Ema, dengan lembut.
__ADS_1
"I Love You, too." Balas Fika, lalu keduanya itu menyatukan bibirnya lagi, dengan perasaan penuh kasih sayang dan cinta.
"Sudah, ayo kita tidur." Ajak Fika, saat tautan bibir keduanya itu terlepas.
"Kasih vitamin dulu buat si elang. Lihat dia sudah On." Ucap Ema, sembari menarik tangan Fika dan meletakkannya di atas tubuh si elang yang masih terbungkus kain itu.
"Tapi aku lelah." Tolak Fika secara halus.
Apa dia itu tidak lelah? Siang tadi saja sudah bermain hampir dua jam dan sekarang minta lagi? Batin Fika, bergidik ngeri.
"Kamu tinggal diam dan nikmati apa yang aku berikan untukmu." Ucap Ema, menyeringai licik dan mulai melancarkan aksinya, hingga membuat istrinya terbuai dan pasrah menerima setiap sentuhan dan rasa nikmatan yang ia berikan.
Hingga terdengar suara lenguhan dan ******* dari bibir Fika, membuat Ema semakin bersemangat untuk menggempur istrinya. Peluh kini sudah membasahi tubuh keduanya, namun Ema masih terus berpacu diatas tubuh istrinya untuk menengguk kenikmatan yang selalu membuatnya mabuk kepayang, dan beberapa menit kemudian keduanya itu mengerang panjang, bertanda jika percintaan mereka telah selesai.
"Kamu tidak pakai si dur*x lagi?" Tanya Fika, saat ia merasakan ada sesatu yang hangat mengalir kedalam rahimnya.
"Tidak, enakan skin to skin. Lebih berasa nikmatnya." Jawab Ema, dengan nafas yang masih memburu.
"Kemarin membeli banyak buat apa?" Tanya Fika kesal.
"Buat koleksi." Jawab Ema terkekeh geli, kemudian ia menegcupi seluruh wajah istrinya.
Cuacanya mendung tapi kenapa berasa gerah banget yak.😆
Kasih dukungan seikhlasnya ya. 😘
__ADS_1