
Mereka pun akhirnya turun dan kembali ketempat pesta. walaupun hati fani benar-benar dibuat meradang andre, bayu dan Mia.
Setelah menyapa tamu dengan ramah. Rangga segera menarik fani kearah toilet umum.
Bahkan sesampainya disana. Rangga mendorong Fani bersandar didinding. Lalu kedua tangan Rangga menyekat bahu fani kiri dan kanan.
Sehingga kini tubuh fani terkurung rangga yang sengaja tidak menyisakan ruang untuk fani bergerak.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya fani dingin walau pun pikirannya mulai ketakutan.
" Tidak ada! aku hanya meneliti seperti apa dalam pikiranmu, kau hamil dengan pria lain. lalu mengancam aku untuk menutupi aibmu." ujar Rangga tak habis pikir kegilaan apa lagi yang akan terjadi setelah ini.
"Lalu?" tanya fani sambil menyeringai dengan angkuh tanpa rasa beban dan juga dosa.
"Baru saja cincin ini terpasang satu jam yang lalu. membuat kita ber'status tunangan, tak disangka dengan cepat kau sudah menginginkan suami orang!' dan menjadikan aku tumbal bagi obsesimu!" rangga kembali mengeluh.
Karena merasa terhina sabagai pasangan. Ditambah lagi keluarga rangga semakin terancam apa bila Tuan besar wijaya mulai bertindak.
"Apa kau cemburu atau kau mulai ketakutan tentang siapa keluargamu?" sahut fani menjelaskan apa yang sedang dipikirkan Rangga.
"Iyak, kau benar-benar tidak waras."
"Sebaiknya tetaplah menjadi pria sopan santun dalam berkata atau bertindak!" tegur fani sambil mendorong tubuh rangga yang menghimpit tubuhnya.
Rangga yang tidak bergerak. membuat fani berjingjit lalu menyodorkan wajahnya tepat di wajah Rangga.
Bahkan hembusan nafas fani begitu terasa dipipi Rangga. Sambil kembali meyeringai lalu membisikkan sesuatu ditelinga Rangga.
Sontak tiba-tiba tangan rangga gemetar sambil melepaskan fani begitu saja. ancaman-ancaman yang selalu membuat pria itu tidak berdaya.
Segera Fani keluar untuk melihat Andre dan juga Mia. Tapi sayang ternyata mereka sudah pergi meninggalkan pesta.
***
Didalam mobil yang dikemudikan Bayu mulai menyusuri jalan raya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Andre khawatir. Andre duduk dikursi penumpang bersama Mia sambil terus menggenggam punggung tangan Mia.
"Hmm." gumam Mia tak banyak bicara.
"kenapa kak fani sejak dulu membenci ku, padahal dia sendiri yang membuatku terikat hubungan ini,
Tapi sekarang dia juga yang ingin perpisahan aku dan andre?." seperti itulah pikiran Mia yang terus bertanya-tanya pada hatinya sendiri.
Mia merasa hidupnya benar-benar hanya sebuah permainan. Yang bisa diganggu atau dibuang setelah tidak diperlukan.
"Mia?" panggil andre dengan suara penuh penekanan
"yak!"
"jangan dipikirkan, aku tidak akan menuruti permintaannya." ujar andre menjelaskan agar Mia tidak memikirkan yang tidak-tidak.
"Tapi mas, orang yang sudah membuat kecelakaan itu masih berkeliaran dengan bebas." ujar Mia seraya mulai protes.
__ADS_1
"Ada bayu yang akan membantu ku!" tukas Andre mengusulkan.
"Itu benar ada aku disini" sahut bayu antusias. sambil menunjukan sederet gigi putihnya.
"kalau kau memang mampu, kenapa di biarkan bertahun-tahun lamanya?" tanya Mia sinis.
sambil melirik arah bayu yang tiba-tiba mati gaya karena mendengar ucapan Mia.
" Bicara mu pedas sekali, setelah menyinggung mak lampir, kini kau menyinggung ku?" seloroh bayu tidak terima dirinya dihina. seperti tidak berguna.
"fufff.. " tawa andre tertahan. karena lagi-lagi Mia menunjukkan sipaf keberanian yang selalu berbeda.
"Sepertinya kau benar juga Mia, karena aku dulu koma, dan papah terlalu sibuk mengurus keadaan ku, sehingga kami tidak sempat mengikuti perkembangan dari pihak polisi." ujar Andre yang mulai berpikir kecelakaannya tidak biasa.
"Di tambah dua polisi yang menjadi sasaksi, tidak ada kemajuan dalam pencarian!' saat musibah itu mereka diberhentikan karena sudah lalai menjaga keamanan!" sambung bayu.
Mencari tau kronologis kecelakaan dua puluh tahun silam.
Mereka cukup lama terdiam. dengan pikirannya masing-masing.
Kenapa begitu sulit mencari buronan itu padahal dia hanya sendiri.
Di tambah kejadian itu membuat perusahaan tuan besar wijaya. Tiba-tiba mengalami kerugian yang tidak biasa.
Sehingga andre dan bayu menebak ada pihak lain yang memang sengaja.
Membantu menyembunyikan buronan itu untuk tidak sampai ditangkap polisi.
Mungkin lawan bisnis yang memang mencari keuntungan dari musibah yang sedang menimpa keluarga besar wijaya.
" Lalu laporkan fani sebagai saksi baru, tentang barang bukti perhiasan mamah ku! " sambung andre mengintruksi.
"Ide cemerlang akan ku lakukan sesuai perintah, jadi si Bos tidak perlu poligami! bukannya begitu nyonya muda Andre hermawan wijaya?" seloroh bayu.
sambil menatap kaca spion diatas kepalanya. yang memantulkan wajah Mia.
" Panggil Mia, Mia tidak suka dengan sebutan nyonya". tukas Mia menatap balik dengan tajam.
Karena panggilan nyonya terasa beban untuk Mia.
***
Mobil itu terus melaju dengan kecepatan sedang.
Andre hanya bisa menghela nafas berat. dan mulai bayak pikiran. membuat pria itu butuh ketenangan.
Segera ia menarik Mia kedalam pelukan. menghirup aroma shampo dirambut Mia yang menjadi kebiasaan.
"Menepi sebentar!" titah andre datar. mengintruksi bayu.
"Siap laksanakan! 'akan kucarikan tempat yang sepi untuk kalian pacaran!." jawab Bayu tegas. Ala petugas kepolisian.
Namun sayang ujung-ujungnya menohok. Karena melirik mereka sedang pelukan.
__ADS_1
Bahkan Mia sampai melotot melihat bayu dari kaca spion dalam.
Setelah lima ratus meter. Dibahu jalan yang memang dipasilitasi parkiran.
Karena sebelahnya jalan. Ada setu atau danau. Yang cukup indah dipandang.
Segera Bayu menepikan mobilnya. Lalu keluar dan memutar. Untuk membuka bagasi belakang.
Mengambil suatu benda lalu mengetuk kaca mobil pintu tengah. Yang tepat disebelah Mia.
Mia pun menekan power window. dengan cepat kaca pintu mobil itupun turun. lalu bayu memberikan sekotak tisu.
"Untuk apa tisu?" tanya Mia dengan polosnya. yang hanya dijawab cengiran kuda oleh bayu.
Lalu pergi meninggalkan pasangan halal yang masih setia duduk dikursi penumpang.
Membuat Mia berdecak kesal lalu menoleh suaminya untuk bertanya.
Namun andre sudah menutup mulut menggunakan telapak tangannya sambil membuang muka.
Menutupi wajah merah bersemu. Yang tiba-tiba saja terasa panas menjalar sampai keubun-ubun.
"Mas andre, ada apa dengan telingamu?" tanya Mia melihat telinga suaminya mulai memerah.
"Tidak apa-apa, Ini semua karena lampu kabin terasa panas!" seloroh Andre beralasan.
Memfitnah lampu kabin Led yang sama sekali tidak bersalah.
"Masa sih?" Mia mendongak memperhatikan lampu kabin yang ada diatas kepalanya.
"Berhenti bertanya, cepat matikan!" titah andre tak ingin ketahuan.
Mia hanya bisa menuruti permintaan suami lalu sedikit mengangkat tubuhnya. Untuk menekan tombol kecil yang tepat diatasnya.
Andre yang sudah tidak sabar ingin memeluk Mia. mencoba menyentuh punggung Mia tapi sayang yang disentuh pantat Mia.
sontak Mia kaget lalu berdiri tegak yang membuat kepala Mia terbentur atap kabin.
Bruukkkk!!
"AAAWWaaaaaaaa.... Sakitttt!" teriak Mia. menggosok pelan kepala yang berdenyut. Sambil meringis kesakitan.
"Apa kau tidak apa" tanya andre ikut kaget.
"Dasar mesum?!' bisa gak sih SABARrrr....!" sahut Mia penuh penekanan.
Bahkan isak tangis mulai terdengar. Membuat Andre merasa bersalah. Lalu memeluk Mia sambil membujuk manja seperti anak Tk.
"Maaf sudah membuatmu kaget." ujar andre bersungguh-sungguh.
Niat hati ingin bermesraan sambil meminta jatah. Malah harus membujuk Mia untuk berhenti menangis.
Kini tisu itu berguna. Untuk mengusap air mata Mia.
__ADS_1
Bersambung....
tinggalkan jejak setelah membaca ya!'