
"Dan kalian berdua, cepat hubungi dokter spesialis bedah, untuk bersiap di ruang operasi. kita harus menyelamatkan anaknya dan juga menghentikan pendarahannya!" lanjut Rio mengintruksi dua suster di depannya.
Meraka segera bertindak menghubungi semua sesuai instruksi dokter Hana dan juga dokter Rio.
Rio segera memasang selang infus di lengan Mia, dokter Hana langsung memasang alat bantu pernapasan atau oksigen kemulut mia.
"Bagaimana dengan stok darah golongannya, pasien membutuhkan banyak darah saat oprasi caecar nanti." tanya dokter Hana kepada suster.
"Aman dok, Rumah sakit sudah menyiapakan dari jauh hari, karena dokter rio sudah memprediksi akan terjadinya saat-saat genting seperti ini." jelas suster memberi tahu.
Dokter Hana mengangguk sembari melirik Rio penuh kagum. Meski rio dokter spesialis saraf. tapi dia benar-benar bertanggung jawab dengan keselamatan mia.
Mempersiapkan semuanya dari awal kondisi yang akan datang nya keritis seprti ini.
Andre hanya terdiam mendengarkan percakapan mereka.
Meski dokter Hana dan dokter Rio sangat sigap mengambil tindakan penyelamatan.
Akan tetapi tidak membuat hati andre tenang, ia terus saja khawatir dan gelisah takut terjadi sesuatu saat nanti di ruang oprasi.
Andre menatap Mia dengan sendu. air matanya terus berdesakan ingin keluar. Akan tetapi Andre berusaha sekuat tenaga menahan semua kegelisahannya itu.
Ia tidak ingin melihat Mia yang sedang berjuang dengan nyawa taruhannya itu. malah khawatir tentang dirinya, apa bila dirinya menangis di depan Mia
lagi- lagi andre mengusap kening Mia yang terlihat sedang berusaha menahan sakit yang amat tidak terkira. terlihat wajah nya semakin pucat. dan juga tubuhnya semakin lemah.
Setelah melakukan pemeriksaan darurat. Tiang infus dan tabung oksigen sudah terpasang di sisi brankar dengan selang-selang alat bantu yang sudah terpasang ketubuh mia,
Dokter Rio mulai menarik brankar tempat mia berbaring keluar dari ruang IGD dengan hati-hati. Lalu menuju ruang oprasi di lantai empat.
Begitu juga dokter hana dan andre ikut membantu medorong brankar bersama dokter Rio dan dua orang suster lainya.
Mereka segera masuk kedalam lift menuju lantai empat, setelah sampai di lantai empat.
segera brankar Mia kembali di tarik menuju ruang operasi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pintu lift itu.
Andre yang sejak tadi terus saja menggenggam tangan mia. Tiba tiba lengan andre di tahan Rio lalu melirik dokter hana memberi kode,
"Tuan sebaiknya anda tunggu diluar" jelas dokter hana. tidak mengizinkan andre untuk masuk bersamanya.
__ADS_1
Membuat andre tercengang, enggan berpisah dari sisi mia.
"Aku mau menemaninya, bukan ada prosedur suami bisa mendampingi istri saat persalinan?" tanya andre sinis, ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Mia.
"Yak memang ada, tapi lain halnya dengan istrimu, keadaannya sangat keritis, aku tidak ingin membuat emosimu semakin buruk di ruang oprasi nanti, aku mohon percayakan semuanya kepada kami!" jelas dokter hana sungguh-sungguh.
Seketika andre terdiam sambil terus menatap Mia. tangan mereka saling menggenggam erat sama-sama tidak ingin berpisah.
Air mata Mia tiba-tiba mengalir deras, bukan karena rasa sakit di tubuhnya. melainkan rasa sakit tentang perasaan nya terhadap cinta Andre suaminya.
Ada rasa takut di hati Mia, apa bila dirinya benar-benar tidak bisa lagi merasakan cinta. atau kasih sayang, yang selama ini selalu di berikan padanya dari genggaman hangat tangan suaminya.
Begitu juga sebaliknya dengan perasaan Andre yang merasakan hal yang sama terhadap mia.
Bahkan perasaan cinta Andre lebih besar terhadap Mia. karena Mia selalu menemaninya dari masa-masa paling sulit. saat dirinya masih menjadi Pria Buta waktu itu.
Andre benar-benar tidak ingin menjauh, Apa lagi sampai kehilangan mia.
Sedangkan Mia mulai sadar semua ini demi menyelamatkan bayi-bayinya dari dalam kandunganya,
Karena tubuh Mia sudah tidak mampu memberi kehidupan yang layak untuk bayinya, atau mereka bisa ikut dalam bahaya.
"Tidak apa mas, ini demi anak-anak kita," bujuk Mia pelan dan tenang. seketika air mata andre yang sejak tadi terbendung tumpah.
Andre tak mampu menahan kesedihanya yang sangat takut kehilangan mia.
Beberapa tangan tiba-tiba menyentuh bahu andre dengan lembut. untuk membujuk andre agar bisa melepaskan tangan mia agar bisa masuk keruang operasi, dan juga bisa mencoba menghadapi semua ini dengan ikhlas.
Andre menoleh kebelakang saat merasakan sentuhan hangat dari tangan-tangan yang mengusapnya lembut sekaligus memberi dukungan,
Terlihat orang-orang yang mamang andre butuhkan di saat sperti ini, karena tuan Wijaya Bayu, Tito dan juga Ayu. bisa membantu membuat dirinya sedikit tegar menghadapi cobaan.
"Kau harus kuat, ini semua demi keselamatan istri dan anakmu dre" bujuk tuan wijaya sembari mengusap punggung andre.
"Itu benar, lagi pula istrimu itu sangat hebat, dia akan baik-baik saja. yak kan Mia!" seloroh Tito ikut membujuk andre. lalu mengedipkan mata kepada mia. agar mia bisa lebih kuat dan semangat.
"Iya, Percayalah dengan perjuangan istrimu Bos, lagi pula siapa yang akan memisahkan kita kalau sedang berdebat dan bertengkar, kalau bukan istrimu" sambung Bayu menohok sambil memberi semangat kedapa mia.
Mia yang mendengarkan Tito dan Bayu berbicara membujuk andre, jadi terkekeh sambil mengangguk pelan.
__ADS_1
Andre kembali menatap wajah mia yang sejak tadi menatapnya. Lalu berusaha menarik nafas dalam-dalam.
Andre membungkuk mendekati wajah mia. lalu mencium pipi dan kening Mia, dan berpindah mencium punggung tangan Mia penuh kasih sanyang.
"Berjanjilah kau aka baik-baik saja !" pinta andre pelan. namun penuh harapan besar. agar mia benar-benar bisa selamat.
"Papah akan menunggumu disini, kau harus kuat mia dan tetap berkumpul besama kita" ucap tuan wijaya dengan tulus. lalu mencuim kening mia sembari mengusap lembut kepala mia.
"Iya pah!" sahut Mia mengangguk. perlahan tapi pasti genggeman andre mulai terlepas. dan rio hanya bisa menepuk bahu andre agar bisa tabah,
Lalu Rio mulai mendorong brankar mia masuk kedalam ruang oprasi.
Kini pintu besar itu benar-benar menghalangi pandangan Andre untuk bisa melihat keadaan Mia.
***
Sudah Dua jam Andre menunggu Mia. Di depan pintu ruang operasi. Akan tetapi belum ada satupun dokter atau suster yang membantu oprasi, yang keluar dari dalam ruangan itu.
Andre terus mungusap wajahnya dengan kasar sembari napasnya turun naik karena tidak sabar.
Hatinya benar-benar gelisah tidak menetu. memikirkan keadaan mia dan juga anak-anaknya.
Tuan Wijaya, Tito dan Bayu terus saja menemani Andre.
sedangkan Ayu yang tadi pergi sebentar. sudah kembali dengan kantong plastik di tanganya.
Lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam kantong itu. dan menyodorkan kehadapan Andre.
"Minumlah lah dulu, dan coba lebih tenang, jangan sampai kau malah jatuh sakit" ujar ayu berusaha mengingatkan.
"Terima kasih" sahut andre menerima botol itu, tapi hanya memegangnya. tidak membuka dan meminunya. pikirannya masih tertuju kepada pintu besar di depanya itu.
Tiba-tiba lampu penanda operasi telah berubah. sehingga mereka semua lansung berdiri menatap pintu kaca itu. beharap dokter segera keluar untuk memberi kabar.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
tuhkan....tuhkan....tuhkan.... masih aja tegang 😬😬😬😬😬😬
Ayolah jangan lupa like komen dan votenya biar thor gak ikut tegang dan meradang 🙏🙏🙏😭😭😭
__ADS_1