
Tiba-tiba lampu penanda oprasi telah berubah. sehingga mereka semua lansung berdiri. menatap pintu kaca itu. berharap dokter segera keluar untuk memberi kabar.
Tak butuh lama, pintu kaca itu mulai terbuka. dengan dua perawat membuka pintu itu lebar-lebar,
Terlihat empat orang yang masih mengenakan saragam dokter bedah. sedang mendorong brankar mia keluar dari ruang operasi.
Sontak Andre mendekat dan menahan brankar itu untuk melihat kondisi Mia.
"Mia...."panggil andre cemas menatap mia yang belum sadar setelah oprasi.
"Dok bagaimana keadaannya?" tanya tuan wijaya. menatap seorang perempuan paruh baya. yang lengkap dengan seragam bedah.
"Operasinya berhasil, tapi pasien masih dalam keadaan keritis. Biarkan kami membawa pasien keruang ICU untuk perawatan dan pengamatan lebih intensif" jelas seorang spesialis bedah. menjelaskan sedikit kondisi mia.
"Apa isriku akan baik-baik saja?" tanya andre cemas. menatap dua dokter spesialis bedah dan juga dokter hana beserta dokter rio.
"Akan kami jelaskan nanti biar kami menagani pasien dulu!" jawab dokter itu pelan namun penuh penekanan.
"Suster tolong antar keluarga fasien keruang tunggu" sambung dokter Rio memberi perintah. lalu menatap andre yang masih terlihat sangat gelisah.
Andre hanya bisa menatap Mia dalam diam. ingin sesekali meraih tangan mia dan memeluk tubuhnya yang terlihat bagian perutnya sudah rata.
Namun apa daya dua suster terus menghadang andre dan keluarga agar tidak mengganggu untuk saat ini.
Dengan pasrah mereka hanya bisa menatap Mia pergi di bawa keruang ICU.
*****
Kini Andre, Bayu, Tito dan juga tuan wijaya hanya bisa menunggu penjelasan dokter, dengan hati terus saling bertanya-tanya.
Tentang keadaan Mia dan juga bayi-bayi nya saat ini.
Bayu yang meneliti keadaan Andre. Yang terlihat sudah sangat kacau dan tampang kusut. ia hanya bisa menepuk bahu Andre agar bos sekaligus sahabatnya itu lebih tenang dan sabar.
Tiba-tiba dokter yang ditunggu-tunggu kini telah datang dan bersiap untuk menjelaskan secara detail.
setelah dokter itu duduk sembari menatap Keluarga pasien satu persatu. Mata dokter terhenti dengan tatapan seorang yang terlihat sudah sangat tidak sabar.
" Apa kau suaminya?" tanya dokter bedah itu meneliti.
"Iya dok saya suaminya!" uncap Andre sembari mengangguk.
__ADS_1
"Bersabarlah Istri anda masih dalam penanganan Intensif, kondisi tubuhnya sangat lemah dan banyak kekurangan darah. sehingga kami para dokter yang sudah pengalaman akan terus berusaha untuk bisa mendampingi dan merawat pasien, melewati masa-masa paling keritis saat ini" ucap dokter bedah menjelaskan keadaan Mia.
Andre tertunduk dalam diam, Tangannya tertangkup di atas lutut, jari-jarinya terus bergetar dan saling meremas satu sama lain untuk menahan tekanan hatinya yang kembali sakit, karena mendengar penjelasan dokter bedah itu.
"Apa saya boleh menjenguknya sekarang?" tanya andre dengan bibir bergetar.
"Maat' untuk saat ini anda hanya bisa melihat dari luar, belum bisa masuk ke ruangan ICU." jawab dokter menatap andre dan orang-orang di samping andre.
"Operasinya memang berhasil, kami bisa menghentikan pendarahan istri anda. dan bayi-bayi di kandunganya juga selamat!' semua itu berkat perjuangan istri anda yang bisa bertahan selama delapan bulan ini, ." lanjut dokter bedah menjelaskan betapa hebatnya mia. karena mampu bertahan dengan kondisi tubuhnya yang tidak sehat saat hamil.
Agar andre bisa sedikit tegar karena mendengar tentang perjuangan mia untuk bayi-bayi nya.
Dan benar saja andre tersadar dan menatap dokter itu antusias. seperti ada semangat baru di hatinya. yaitu meneruskan perjungan mia untuk bisa di sisi anak-anaknya.
"Seperti hasil pemeriksaan, anak tuan kembar dan keduanya berjenis kelamin laki-laki. mereka sehat dan baik-baik saja, hanya sedikit lemas karena mereka belum cukup umur dalam kandungan. sehingga untuk berjaga-jaga kami membawa bayi-bayi anda keruang NICU. " sambung dokter bedah menjelaskan pajang lebar tentang keadaan mia dan juga bayi-bayinya.
"Apa saya boleh melihat anak-anak saya?" tanya andre lagi dan kini lebih antusias.
"Yak, tidak hanya melihat tapi anda juga boleh menemuinya!" seloroh dokter bedah itu tersenyum.
seketika hati andre menghangat sambil menatap dokter itu. sebuah senyum tipis tanpa sadar teruraikan bagaimana perasaan andre saat itu.
Yang pasti sebuah rasa bangga terhadap Mia dan juga bahagia dan rasa syukur. andre panjatkan.
Agar andre bisa lebih semangat dan tidak melupakan tanggung jawabnya. Bahwa dia tidak hanya seorang suami. Tapi kini ia juga seorang ayah.
"iya pah, aku akan menemaninya " sahut andre.
" Bos Jangan lupa, ajari meraka Adzan," seloroh bayu takut andre lupa.
"Sudah Pasti!" jawab andre singkat.
******
setelah mendengar penjelasan dokter. andre langsung menemui putra-putranya di ruang NICU, dengan baju steril rumah sakit lengkap dengan tutup kepala medis.
segera andre masuk dan melihat bayinya dalam inkubator, terlihat dua bayi mungil yang saling berpegangan. dengan wajah manis dan hidung mancung has mirip dengan mia.
Air mata andre menetes dengan senyum mengembang penuh Bahagia menatap inkubator itu.
Tiba -tiba dokter hana membuka tabung itu dan menggendong salah satu dari mereka. lalu memberikannya kepada andre.
__ADS_1
"Gendonglah, dia yang pertama mengeluarkan tangis cukup keras," seloroh dokter hana tertawa.
Andre pun tersenyum sambil menerima dengan sangat hati-hati. air matanya kembali turun saat mengingat istrinya masih berjuang di ruang ICU. demi anak-anaknya yang kini telah lahir kedunia ini.
Ia tak henti-hentinya mencuim bayinya itu, sehingga membuat bayi itu terbangun. dan membuka mata.
cornea mata biru cerah dengan pupil berwarna coklat gelap. bayi itu berusaha menatap siapa orang yang sudah menggendong dan mengganggu tidurnya.
"Hai jagoan, apa kau mengenali suara ku? ini aku Daddy mu" seloroh andre menyapa putra nya. Dengan senyum semringah
karena putranya memiliki mata yang sama dengan dirinya. bayi itu hanya diam dan semakin menatapnya. andre hanya terkekeh. lalu kembali mencium bayi itu.
Ia menarik napas dalam-dalam sembari mengusap air mata yang sedari tadi sulit berhenti.
Segera andre membisikkan suara Adzan dengan merdu ketelingan bayinya itu. bahkan wajah bayi mungil itu terlihat sangat menikmati suara adzan sembari terus menatap wajah andre dengan lekat.
Setelah puas mengendongnya. Dokter hana pun mengambilnya dan memberikan yang satunya.
lagi-lagi sebuah senyum mengembang di bibir Andre lalu mencium bayi kedua itu dan mulai kembali membisikkan adzan.
Ia melakukan hal yang sama tanpa membeda-bedakannya. Akan tetapi bayi yang satu ini tak terusik sama sekali. Dan malah semakin pulas tertidur di gendongan andre.
Setelah puas menemani putra-putranya Andre memutuskan, untuk melihat keandaan Mia.
ia terus saja berdiri di luar jendela ruang ICU. Menatap Mia dalam-dalam dari kejauhan. Berharap kondisi Mia membaik dan cepat sadar.
***
Hari semakin malam tuan wijaya enggan pulang meski sudah di bujuk ayu dan juga Andre. agar pria tua itu cukup menunggunya di rumah saja.
Sedang kan Tito dan Bayu. meraka juga sama masih terus menemani Andre. yang terus saja menatap Mia yang berbaring di brankar di ruang ICU.
Beberapa alat monitor. seperti monitor detak jantung. pernapasan dan juga tekanan darah. terus di awasi dokter-dokter spesialis yang sangat berpengalaman.
Ada juga perawat yang selalu sigap memeriksa suhu tubuh mia setiap jam. agar tidak mengalami demam tinggi apa lagi sampai terjadi hal yang tidak di inginkan seperti kejang-kejang.
Mereka sebagai perawat begitu teliti dan juga hati-hati menjaga keadaan mia. dan juga menuruti semua perintah dokter-dokter dengan cepat.
"Bos kau sejak pagi belum istirahat pulang lah dulu, biar aku saja yang menunggunya di sini!" bujuk Bayu tidak tega melihat kondisi sahabat sekaligus bosnya itu
ππππππππππππππ
__ADS_1
jangan lupa like komen n vote yak tinggal satu bon bab. thor usahakan up secepatnya sore iniπππππππππππππ