Suamiku Pria Buta

Suamiku Pria Buta
Kejar-kejaran


__ADS_3

Mia kembali berjalan. Sambil sesekali melihat langit yang hampir menangis membasahi kota Jakarta. terus melangkah tanpa tahu tujuan.


Dengan kecewa yang begitu melekat. Rasa prustasi Mia yang begitu berat.


Tiba-tiba saja mata Mia melihat sampah kaleng minuman bersoda. Yang tergeletak dibahu jalan. Tidak jauh dari kakainya.


Karena ingin menghilangkan rasa kecewa di dalam dada. Dengan cepat kaki kanan Mia mengayun dan menendang. Kaleng tersebut hingga terpental ke sembarang arah.


"Brakk. sampah kaleng menghajar helem. Seorang pengendara motor yang sedang melintas di depan Mia.


Membuat pemotor itu terkejut tidak percaya. Lalu menatap tajam sampah kaleng yang sudah tergeletak di bawah. Setelah menghajar kepalanya.


Pemotor itu sangat marah. Dan mencari siapa yang sudah sembarangan membuang sampah.


Matanya terus mencari. Dan melihat hanya ada Mia saja disana.


Sontak Mata Mia membulat sempurna. ketakutan karena ulahnya. Melihat pria itu turun dari motor dan menujuk Mia dengan tajam. Seperti mau tauran yang sedang menantang lawan.


Segera Mia memutar tubuhnya, lalu memasang ancang-ancang satu sampai tiga.


Dengan cepat Mia berlari sambil terus membawa kopernya. Namu pria itu malah semakin mengejar Mia.


Mia hanya melirik dengan ujung matanya. tanpa membalikkan tubuhnya. melihat pria itu masih saja mengejarnya


Sambil komat kamit sumpah serapah karena ketakutan Mia. Akhirnya Mia memakai jurus andalannya.


yaitu berlari seribu langkah sambil berteriak sekuat-kuatnya.


"TOLONGGG...ADA....PRIA...GILAAAAaaaa...?" teriak Mia sekuat-kuatnya


Membuat Pria itu semakin terbawa emosi karena sudah dibilang gila. Sehingga ia semakin berlari ingin menangkap Mia.


cukup jauh mereka kejar-kejaran dan keduanya mulai kelelahan, sehingga kecepatan Mia jadi berkurang.


Mata Mia kembali membulat sempurna. Dengan ekspresi bahagia. Melihat dua polisi sedang berpatroli dengan gagah.


segera Mia berlari menarik kopernya. menuju dua polisi yang sedang bertugas. Untuk meminta perlindungan dirinya yang dikejar-kejar pria tidak dikenal.


"Pak polisi.. tolong saya pak...saya.....di kejar-kejar orang gila!' ehh... maksudnya, orang tidak dikenal." seloroh Mia putus-putus.


lalu berjongkok akibat berlari hingga kelelahan. Sambil menarik nafas dalam-dalam.


Bukan di selidiki. polisi itu malah meperhatikan wajah Mia .


"Nyonya Andre" tegur polisi dengan suara brinton berwibawa.


Seketika Mia mendongak meneliti siapa yang sudah memanggilnya nyonya.


"Pak Tito!" pekik Mia.


"Siapa yang sudah berani melakukan ini terhadap nyonya?" tukas pak Tito tegas. ia tidak percaya seorang nyonya andre hermawan wijaya berlarian di bahu jalan.


"Saya tidak kenal pak. Ahhk itu dia pak, orang yang tadi mengejar saya" tunjuk Mia. Melihat seorang pria yang sedang belari ke arahnya.


Segera Mia bersembunyi dipunggung pak Tito. melihat pria itu berlari terhuyung-huyung mendekati dua polisi yang sedang menjaga Mia.


Pak Tito haya mengerutkan alis sambil berdecak pinggang. meperhatikan tingkah laku pria yang sedang berlari. Masih menggunakan helem di kepalanya.

__ADS_1


Napas yang tersengak-sengak sambil kembali menunjuk-nunjuk Mia.


"Sedang apa kau disini" tanya pak Tito santai. saat melihat pria yang sudah membuka helemnya. berwajah ganteng dengan plester di hidungnya.


"Tentu saja kejar dia!" sahutnya kesal sambil kembali menatap tajam Mia.


"Tuhkan pak, dia kejar-kejar saya." pekik Mia membenarkan agar polisi membela Mia.


"Kenapa kamu mengejarnya Rioooo?" tanya pak Tito penuh penekanan.


"karena dia terus saja membuat ulah, pokonya Abang Tito harus menangkapnya" tunjuk pria yang belum di ketahui mia siapa namanya.


"Bohong pak, pria itu sakit jiwa. jelas-jelas bapak seorang polisi masa di panggil abang!" celetuk Mia berkilah, sambil mencoba memanas-manasi.


"Yang nyonya katakan memang benar, Adaik saya ini memang rada-rada!" tukas pak Tito menambahkan. sambil melipat tangan didada menatap Adik kandungnya.


"Iya betul dia memang rada-....!?' Emmm itu..? Tadi pak tito bilang apa? ADIK?" soloroh Mia berheti menjelakkan. lalu beralih menayakan hubunga pria itu dengan pak Tito.


"Iya dia Adik saya?" jawab pak Tito ramah.


"Ahkkk mapusss Mia!" gumam Mia dalam hati semakin perustasi.


"Abang ini bagaimna sih, bukan membelaku malah menuduh Adik sendiri yang tidak-tidak!" celetuk Rio tidak terima.


"Yak sudah, jadi bisa di ceritakan dengan detail dari awal kejadian." pinta pak Tito menatap Mia dan juga Rio.


"Kayanya tidak perlu pak, he..he..he..!" bujuk Mia takut tertimpa masalah. padahal hidupnya sudah banyak masalah


"Harus biar aku yang cerita?" pinta Rio Tegas.


Segera Rio menceritakan ulah Mia yang selalu membuatnya yang menderita.


Dari tugasnya sebagai dokter yang baru selesai memeriksa keadaan putra wijaya,


Saat Rio hendak keluar. Tiba-tiba Mia membuat ulah. membuka pintu sembarangan hingga wajah dan hidung Rio terbentur sampai berdarah.


Ditambah lagi baru saja. Saat Rio ingin pergi membeli pulsa handphone.


Tiba-tiba Mia kembali membuat ulah. Membuang sampah kaleng bersoda sembarangan hingga mengenai kepalanya.


Setelah mengadu dengan kakaknya. Rio begitu senang. karena dia sedang berpikir kakaknya akan menghukum Mia.


Akan tetapi pak Tito hanya manggut-magut tidak jelas. sambil melirik koper yang di bawa Mia.


Lalu menatap Mia yang sedang melamun dengan raut wajah penuh masalah.


"Saya mau beli minum dulu. untuk kalian berdua!" izin pak Tito dan lansung melangkah pergi ke supermarket di sebrang jalan.


Saat menyeberang pak Tito juga mengambil handphone disaku celananya.


Lalu mencari nomer kontak seorang yang dia kenal. Dan lansung menghubunginya.


"Kau di mana?"


"Di jalan" sahut Bayu dari sebrang sana.


"Bisa kau kesini!"

__ADS_1


"Ada apa memangnya?"


"Nyonya Andre sedang bersama ku." sahut pak Tito memberi tahu.


"Benarkah, apa terjadi sesuatu padanya?"


"Tidak, dia baik-baik saja."


"Kalau begitu kirimkan lokasinya, aku akan menjemputnya."


"Baiklah, aku tunggu!" sahut pak Tito.


Ia segera masuk dan membeli empat botol minuman kemasan berbagai rasa.


Dan kembali ketempat Mia dan adik kandungnya berada.


Mia yang sedang duduk di koper. sambil memandangi jalan raya. Yang di penuhi kendaraan berlalu lalang.


malah membuat Mia terbawa lamunan semakin dalam.


"Sedang apa kau mas, apa mas benar-benar tidak merindukan Mia?" gumamnya dalam hati rasa kecawa dan rindu menjadi beda tipis dalam pikiran Mia.


sehingga air mata yang baru saja berhenti tadi. Mulai berdesakan kembali ingin tumpah.


Tiba-tibak saja pak tito berjongkok. Menyamakan tinggi badannya. Dengan Mia yang sedang duduk di koper. Lalu menyodorkan sapu tangan dan sebotol air jeruk kemasan tepat didepan Mia.


"Jangan menangis, Adik saya itu memang rada-rada!" bujuk pak Tito. Mengarang cerita. Menunjukan sederet gigi putihnya.


Agar Mia tidak berlarut dalam kesedihan. meski pak tito tidak tahu masalahnya apa. Akan tetapi pak Tito orang yang peka.


Di tambah pak Tito melihat Mia sampai membawa Koper yang menandakan masalah Mia tidak mudah.


Mia hanya terkekeh. meraih sapu tangan dan botol minuman.


"Terimakasih..!" ucap Mia.


"sama-sama" sahut pak Tito.


"Cik yang benar saja, bukan di hukum, malah dirayu..!!" sindir Rio melirik abangnya.


Pak Tito hanya terkekeh. lalu berdiri dan menjewer telinga Rio. Hingga meringis kesakitan


"Sudah jangan coba-coba menyakitinya atau kamu yang kena hukuman, sama jangan bicara sembarangan perempuan ini istri orang." tukas pak Tito menasihati.


Mia hanya terkekeh melihat adik kakak sedang saling mengigatkan. Membuat Mia iri dan teringat sosok Bayu yang pernah menawarkan persaudaraan untuknya.


Sebuah mobil melaju kencang dari kejauhan dan berhenti mendadak di depan Mia.


Sehingga Mia segera bangkit dari duduknya. saat melihat sosok pria yang baru turun langsung berlari memeluk Mia.


"Mas Bayu?"


bersambung....


untung dikejar-kejar Rio, jadi bisa ketemu si Bayu😆😆😆


Tinggalkan like komen favorit hadiah n vete yak, Terimakasih😁😁

__ADS_1


__ADS_2