
Dipagi hari pak agus yang baru pulang nelayan segera membawa hasil tangkapan ikan ke TPI. Yaitu tempat pelelangan ikan
Sebuah pasar yang terletak di dalam pelabuhan. atau disebut juga pangakalan pendaratan ikan dari seluruh para nelayan.
Para pemborong atau pedagang pasar tradisional. Akan datang membeli hasil laut disana.
Mia dan bi Eli yang sudah sibuk sejak pagi, Sedang melayani para pelanggan yang sudah berbaris menunggu pesanan.
Dengan cekatan Mia menimbang ikan-ikan pesanan para pelanggan.
Sambil mendengar bi Eli dan pak Agus melayani orang-orang yang sibuk transaksi tawar menawar.
Setelah waktu senggang bi Eli meminta Mia untuk pulang duluan.
" Mia, Sebaiknya kamu pulang saja duluan temani nenek dirumah." bujuk bi Eli.
"Tapi bi, kalau Mia pulang, siapa yang akan membantu bibi sama paman!" jelas Mia
" Tidak apa-apa paman dan bibi sudah biasa, lagi pula dagangannya tinggal sedikit" sambung pak agus.
"Biar saya yang bantu bibimu disini, sayangkan kamu tuh cantik, istri pengusaha pula, masa korot-kotoran disini!" tetangga tiga membantu membujuk Mia sambil bercanda.
"Betul tuh nak Mia, ada kami para tetangga yang akan membantu bibimu!" sambung tetangga dua membantu.
Mia hanya mengangguk senang melihat para tetangga yang seprofesi dengan paman dan bibi,
Sebagai nelayan yang menjual hasil tangkapan ikan
Mia begitu kagum. para tentangga yang begitu rukun dengan paman dan bibinya.
Tidak hanya di rumah. dipelelangan tempat mereka mencari nafkah, mereka akan tetap bersama saling membantu.
"Iya kasian si mbok sendirian, pasti dia sedang mengurus bunga kiriman suamimu, aku mau dua yak heheh..?" tukas tentangga ketujuh pembuat rusuh.
Memikirkan bunga-bungan cantik yang biasa di bagikan Mia. kepada para tetangga Dari kiriman Andre suami Mia.
"Aku juga yak mau satu, yang mawar merah buat dikamar biar tambah romantis!" sambung tetangga lima tukang menyela.
Mia hanya terkekeh melihat tetangga yang begitu antusias. saat menerima pemberian Mia. agar tidak mubazir kalau hanya Mia saja yang menikmatinya.
Mereka juga tidak lupa sebagai rasa terimaksaih. selalu mendoakan kebahagiaan Andre dan Mia.
"Yak sudah Mia pulang dulu yak bu, Mia titip paman sama bibi" seloroh Mia dengan ramah.
Melihat satu persatu para tentangga. Yang diberikan anggukan mereka semua.
Mia pun segera pulang menggunakan transportasi Ojek pangkalan yang memang ada di pasar pelelangan ikan.
setelah sampai di rumah pak agus. Mia tersenyum melihat bunga-bunga sudah berjajar rapi. didepan dan didalam rumah.
segera Mia mengucap salam, sambil memindai ruangan mencari sosok nenek tua renta yang begitu di sayangi Mia.
Nenek itu pun dengan suara lembut dari arah dapur membalas salam Mia.
segera Mia masuk menghirup aroma wangi yang menyeruak di seluruh ruangan dari bunga-bunga yang dikirim Andre untuk dirinya.
Nenek Mia hanya tersenyum. Melihat Mia yang sedang berbunga-bunga.
"Kamu sudah pulang...?" tanya nenek.
"iya Nek." jawab Mia meraih punggung tangan keriput neneknya. Lalu mencium penuh dengan rasa hornat dan sayang.
" Kamu mau langsung makan Mia?" tanya nenek.
"Tidak nek, Mia mau mandi dulu, Mia ingin menghubungi mas andre ngucapin terimakasih." sahut Mia. sambil senyum malu-malu.
"Yasudah cepat mandi, pasti suamimu sudah menunggu telepon dari kamu." perintah nenek meningatkan.
"Iya nek!"
Mia pun mengambil handuk dari jemuran belakang, dan masuk Ke kamar mandi sederhana.
Hanya sebuah bak pelastik bundar besar tempat menampung air untuk mandi dan juga gayung pelastik yang terus mengapung di dalamnya.
__ADS_1
Segera Mia membersikan diri sampai bersih, Dengan pemikirannya yang sudah. Melalang buana memikirkan tentang Andre suaminya.
Setelah selesai melakukan ritual mandi dan berpenampilan rapih.
Mia pun duduk di tepi kasur meraih handphone miliknya, dan melihat ada beberapa panggilan dari suaminya.
Mia hanya memicingkan mata, mencari pesan suara yang selalu di kirim suaminya.
namun kali ini berbeda tak ada pesan suara. hanya beberapa panggilan biasa.
Segera Mia Menekan nomer +62 milik suaminya. Lalu melakukan panggilan video.
tuuuudtttt....tuuuudttttt...tuuuuudttttttt... sambungan handphone Mia belum juga dijawab.
"Kok, tumben gak di angkat" gumam Mia penasaran.
wanita cantik bertubuh mungil itu pun kembali mencoba lagi. sampai ber kali-kali.
sehingga Mia menarik nafas dalam dalam. menghembuskan dengan kasar.
"Kemana yak mas Andre, padahal tadi subuh sudah di beri tahu, kalau sudah janji akan menghubungi lagi jam sembilan." gumam mia.
Mengingat suaminya baik-baik saja saat mia membangunkan untuk menunaikan sholat subuh.
Dan meminta izin pergi untuk membantu bibi dan paman berdagang.
Andre pun memberi izin dan meminta Mia Menghubungi lagi jam sembilan.
cukup lama Mia berpikir dan mulai khawatir.
Mia juga mulai merasa bersalah. karena salalu menolak Andre yang akan memjemput dirinya.
di dalam lamunan dan penyesalan. Yang mulai tumbuh dihati Mia.
Tiba-tiba saja orang yang sedang dipikirkan Mia. Lansung menghubungi Mia.
Segera Mia Menekan dan mendekatkan handphone ketelinga. mendengar Andre memberi salam.
"Maaf yak sayang mas tadi lagi sibuk!" suara Andre di handphone Mia.
"Ia mas tidak apa-apa, Mia videocall yak?" pinta Mia penasaran. apa yang sedang dilakukan Andre
"Gak usah sayang." tolak andre tiba-tiba membuat mia mulai heran.
"Aneh bukannya mas andre selalu minta Mia videocall" tanya Mia heran. biasanya andre akan menunjukan apa saja saat mengobrol di handphone.
"iya, tapi tidak sekarang, mas sedang tidak dirumah." sahut Andre. terdengar bingung.
"kalau begitu Mia ingin tahu mas andre sedang apa" tanya Mia penuh selidik. bukannya dijawab andre malah terdiam.
"Mass??? panggil mia yang merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan andre dari mia
"iya Mia"
"Apa mas baik-baik saja?" tanya mia penasaran.
"Iya sayang, mas baik-baik saja." jawab andre pelan dan terasa berat seperti banyak tekanan.
Walau begitu andre terus berusaha memberikan perhatian dengan sebutan sayang memanggil Mia
"Oh iya mas terimakasih bunganya."
"iya sayang, sama-sama" sahut andre singkat
"Mas?"
"Iya!"
"Mas marah sama Mia?" tanya Mia.
"Tidak...!"
"Tapi sepertinya, Hari ini Mas Andre diam saja?"
__ADS_1
"itu tidak benar, mas baik-baik saja." sahut Andre berkilah dari seberang sana
"Maafin Mia yak mas" sahut Mia sungguh-sungguh.
"Maaf, untuk apa Mia?"
"Untuk permintaan Mia, yang sepertinya sudah keterlaluan, karena terus menolak mas Andre yang ingin menjemput Mia" jelas Mia menyesal.
sambil mengusap lembut bunga-bunga yang memenuhi kamarnya.
Mia merasa Andre benar-benar sudah meluluhkan rasa kecewanya.
"Apa itu tandanya kamu sudah tidak marah, dan mau pulang kerumah?" tanya Andre antusias
"Iya mas!" sahut mia singkat. Tapi bisa membuat hati Andre penuh makna dan begitu bahagia.
"Tidak perlu minta maaf, karena semua masalah Mas lah yang memulai." jelas Andre sadar dia lah yang mulai pertengkaran.
"Terimakasih sayang kamu selalu membuat perasaan mas bahagia di waktu yang tepat, aku sungguh-sungguh mencintaimu Mia." lanjut Andre
"Mia juga mas, jadi bisakah sekarang mas jujur apa yang sedang mas sembunyikan dari Mia." tukas Mia menebak. Ada hal besar yang sedang dihadapi andre sumainya.
"Mia, sebenarnya sebentar lagi aku....!" jelas andre mengantung ada ketakutan besar atara kawatir dan juga cemas.
"Ada apa Mas?" tanya Mia semakin penasaran
"aku...?"
"Maaf tuan, sudah waktunya!" tegur seorang pria. memotong obrolan andre di handphone. dan suara itu di dengar Mia.
Membuat mia semakin penasaran. segera andre menjawab pria itu dan meminta izin kepada mia untuk menyudahi dulu obrolannya dengan Mia,
Di kamar inap
Fani terus melamun mentap jendela dengan gorden terbuka membawa udara hangat mentari pagi. Masuk kedalam ruangan.
Rangga yang baru datang sambil membawa bubur ayam.
hanya bisa menghela napas. saat melihat fani yang terus menerus melamun.
"Fan...? tegur rangga,
"Makanlah dulu" sambung Rangga Membujuk
"Aku tidak lapar"
" Tapi kau harus minum obat" ujar rangga mengingatkan, Fani yang masih dalam perawatan paska melahirkan.
"Nanti saja ga, bolehkah aku bertanya?" tanya fani mulai serius
"Tentu. apa yang ingin kau tanyakan?"
"sekarang fiona sudah lahir, apa kau akan pergi meninggalkan ku" tanya fani tiba-tiba. Membuat rangga terdiam seribu bahasa.
Ingat fani yang kembali muncul. Saat rangga berkata jujur tetang dirinya putra pak Aryo. yang menjadi tersangka perampok putra dan istri tuan wijaya.
Rangga juga memberi tahu tuan Deri, kalau dirinya tidak pernah berhubungan biologis terhadap fani.
Dan Bayi yang di kandung fani bukanlah darah daging Rangga.
Rangga bertunangan dengan fani karena terpaksa agar fani tidak membocorkan asal usul orang tua Rangga. di kala itu.
Tuan Deri dan nyonya Mira begitu prustasi. saat mendengar fani yang tidak ingat.
siapa orang yang sudah menghamili dan mengambil kesuciannya di malam itu.
sehingga nyonya Mira meminta Rangga. menutupi Aib fani dengan cara tidak membatalkan pertungan dan mau menikahi fani.
Agar reputasi keluaga Deri tidak rusak di kalangan sosialita dan pengusahan.
Namun tuan Deri dan nyonya Mira, memperbolehkan Rangga meninggalkan fani setelah melahirkan.
Seperti biasa tinggalkan jejak setelah membaca yak😉😉
__ADS_1