
Saat Andre sedang merayu Mia diruang ganti. Tiba-tiba notifikasi di handphone andre berbunyi.
"Cihk, baru juga mau pemanasan, ada saja yang ganggu!" Andre menggertu sebal sambil merogoh handphone di saku celana.
ia menahan hasratnya yang sudah berkelana hingga ke surga. melihat istrinya yang begitu menggoda.
Lalu malihat siapa orang yang sudah berani mengganggu dengan cara mengirim pesan handphone miliknya dan juga Mia.
Setelah memeriksa dan membaca pesan. Andre mematung antara percaya atau tidak tentang pesan yang ia baca.
"Ada apa mas?" tanya mia penasaran.
"Ba Ayu lestari kirim pesan, katanya papah pingsan di ruang rapat..!" jelas andre. cukup kaget.
"Tapi bukanya Mas baru bertemu papah tadi?" tanya Mia heran.
"Iya, tadi Mas dan papah tidak jadi ngopi di cafe, soalnya papah tiba-tiba saja di suruh datang keperusahaan ada rapat mendadak" sahut andre menjelaskan.
Sambil membalas pesan ayu, sekretaris pribadi tuan wijaya.
"Bagaimana keadaan papah? apa sudah dibawa kerumah sakit?" tanya andre yang pura-pura menjadi mia lewat pesan.
Andre tak ingin jujur untuk sementara. Tentang matanya yang sudah normal. Dan bisa membalas pesan chat dengan mudah.
Hanya beberapa detik Ayu pun segera membalasnya.
"Bos besar sudah sadar sepertinya beliu baik-baik saja, tadi kami memanggil dokter peribadi kesini, dan sekarang sedang menuju rumah! beliu menolak ke kerumah sakit." balas ayu singkat dan jelas.
"Syukurlah, kami akan datang kesana!"
"Baik nyonya!" balas ayu mengira Mia yang sedang membalas pesanya.
Andre segera menghubungi bayu. untuk mengantar dirinya dan juga Mia. Untuk melihat keadaan papahnya yang tiba-tiba drop di ruang rapat.
Andre kembali ingat saat dirinya dan papahnya mengajak mempir di sebuah cafe. Setelah dari kantor polisi tadi siang.
Tiba-tiba saja hendpon papahnya berdering tidak henti-henti.
Padahal papahnya sudah meminta di batalkan semua rapat.
Ia ingin banyak mengobrol bersama andre. namun panggilan itu terus berdering.
Sehingga dengan terpakasa tuan wijaya mengangkat panggilan itu.
Sebuah panggilan dari salah satu anak buahnya. Meminta tuan wijaya keperusahaan dengan sangat mendadak dan tidak bisa di tunda.
Mia yang melihat andre diam saja. membuat mia mendekati.
"Mas andre kok malah bengong?" tanya Mia.
"Ahk maaf, mas kaget saja mendengarnya!" sahut andre
"Yak sudah, ayo cepat kita lihat keadaan papah mas." ajak mia.
"Baikalah kita jenguk papah, terus jatah mas kapan?" sahut andre terasa berat, sekaligus bertanya.
Andre benar-benar tidak ikhlas kalau mia dibiarkan begitu saja.
__ADS_1
Apa lagi sampai mengganti pakaian yang begitu indah.
Bahkah Andre terus saja menelan saliva susah payah. yang ber'efek sakit kepala atas dan bawah.
"Astaga, papah sedang sakit mas, masih saja memikirkan jatah biologis!" sahut mia kesal.
"Namanya juga pria normal sayang!" jelas andre lemas.
"Ya sudah nanti kalau papah baik-baik saja, mia akan kasih mas andre jatah siang dan malam!" bujuk mia dengan senyum menggoda.
Mata Andre membulat sempurna dengan senyum semringah.
"Kau sudah janji, jadi jangan coba-coba ingkar, karena sudah ada yang pesan agar kita berdua punya anak kembar!" goda Andre penuh penekanan.
Mia hanya bisa mengangguk pasrah lalu mendorong andre untuk keluar dari ruang ganti.
Mia harus mengganti pakian lagi. yang tertutup dan sopan. karena mia akan keluar rumah untuk menjenguk papah mertuanya.
****
Di rumah sakit. fani yang baru saja datang langsung menuju ke ruang NICU tempat putrinya di rawat.
Saat fani melihat dari kaca luar. Betapa terkejutnya fani.
Melihat Rio yang sedang menggendong fiona penuh dengan kasih sayang.
Fani pun mulai tidak paham dengan rio yang sering bertemu tanpa di sengaja.
fani memberanikan diri mengetuk jendela itu. sehingga Rio yang sejak tadi sibuk mengajak berbicara dengan bayi. yang sebenarnya sedang tidur dalam gendongan.
Rio segera menoleh dan melihat fani sedang memandang dirinya dari luar rungan.
"Kau sudah datang?" tanya Rio sok akrab.
"Hmm, apa terjadi sesuatu dengan putriku?" tanya fani dengan heran.
"Tidak ada aku hanya membantu fiona menghangatkan tubuhnya, dan juga mencoba mengajak berinteraksi agar saraf otaknya belajar merespon dengan sentuhan dan perlaakuan." jelas rio yang sedikit faham tentang merawat bayi prematur.
Fani hanya menggangguk. mencoba mencerna ucapan rio.
"Cobalah kau gendong" usul Rio tiba-tiba.
"Aku..? menggendongnya?" seloroh fani terkejut. menatap fiona yang sedang tertidur dengan selimut membalut tubuh mungilnya.
Ada perasaan yang fani tidak mengerti. Antara ingin dan juga tidak, saat ingat darah yang mengalir di putrinya entah milik siapa.
fani hanya mematung dengan bingung membuat Rio heran.
Biasanya seorang ibu akan langsung menghambur.
Untuk memeluk dan mencium bayi yang lahir dari rahimnya sendiri.
Rasa syukur penuh suka cita akan dilimpahkan untuk anak kandunya.
Namun fani sangat lah berbeda ia berbanding terbalik. tidak seperti seorang ibu pada umumnya .
"Fani apa kau baik-baik saja?" tegur Rio heran
__ADS_1
"Ahk iya!" sahut Fani panik
"Gendonglah, itu akan sangat membantu putrimu merasa hangat dan nyaman, ditambah bisa meningkatkan ikatan emosional antara ibu dan bayi!" jelas rio lagi karena rio tahu bayi prematur sangat butuh perawatan dan perhatian.
sejujurnya dibenak rio. ia sangat ingin melihat fani menyayangi fioana.
Agar hati rio bisa tenang melihat bayi yang mengalir darah rio tulus dirawat fani.
"A..A..Aku, maaf sepertinya aku sedang tidak bisa menggendongnya sekarang, tadi sebelum pergi kesini, tanganku terluka." jelas fani beralasan.
Sambil menunjukan luka di tangan kirinya yang masih berdarah dan juga bengkak.
Tangan kiri fani terluka akibat merusak barang-barang di rumah Rangga.
Fani datang memang untuk menemani putrinya.
Namun untuk berinteraksi bersama futrinya. fani salalu enggan menghadapinya putri kandungnya sendiri.
Sedangkan Rio yang melihat tangan fani terluka. begitu khawatir.
Ia segera membaringkan tubuh mungil fiona di inkubator. Dan meminta dua suster menjaga kesahatan fiona.
Rio meraih dan menarik tangan fani. Membawa wanita itu keluar dari ruang NICU. Lalu berjalan menuju ruang kerja rio.
fani yang masih bingung. Hanya bisa menurut saja digenggam rio.
Beberapa perawat dan petugas rumah sakit sampai dibuat heran lalu melirik rio dan fani.
Karana mereka berjalan berdampingan sambil berpegangan.
Di ruang kerja dengan meja tepasang papan identitas spesialis saraf.
Fani duduk di sofa tempat rio biasa untuk istirahat.
Segera Rio meraih tangan fani yang terluka dan membersikannya dengan kapas yang sudah di beri antiseptik.
"Tahanlah akan sedikit sakit." ujar Rio begitu pokus. Membersikan dan mengobati luka fani.
"Kenapa dokter menolongku lagi?" tanya fani tiba-tiba membuat rio mengangkat wajahnya untuk melihat fani.
"Aku hanya ingin menolong. Masalah tadi pagi dengan suamimu. itu karena sepertinya suamimu kasar didepan umum." sahut rio santai
" Dan yang sekarang, aku menolongmu karena tanganmu terluka tapi dibiarkan terbuka."lanjut Rio tenang.
Dan kembali mengobati tangan fani. wanita itu hanya bisa diam dan bingung melihat rio yang begitu peduli.
Saat Rio ingin membungkus luka fani dengan kain kasa. Tiba-tiba saja Rio bertanya.
"Apa kau benar-benar tidak mengenaliku Fani?" tanya Rio penuh selidik.
fani hanya diam sambil mengerutkan keninya. karena ia merasa tidak pernah bertemu dengan Rio.
namun Rio terlihat akrab dengan fani tanpa malu-malu langsung menyebut namanya saja. untuk memanggil fani
fani hanya bisa menggelengkan kepala sebagai ucapan tidak mengenalnya sama sekali.
*
__ADS_1
*
* tiggalkan jejak setelah membaca ya.😊😊😊