
Di rumah wijaya. Saat andre bersama Mia melihat keadaan tuan wijaya.
Tuan wijaya meminta Andre untuk tinggal kembali di rumah utama.
ia ingin ditemani sampai keadaan dirinya benar-benar pulih seperti sedia kala.
Di ruang makan. Andre Mia dan Ayu menoleh tuan wijaya yang kembali menayakan permintaannya yang belum di jawab andre
"Bagaimana dre apa kau sudah memutuskan akan tinggal disini lagi?" tanya tuan wijaya berharap putranya mau berkumpul lagi dengannya.
"Kalau papah bisa jujur tentang masalah dan kesulitan yang papah hadapi, mungkin aku mau sekedar menginap." sahut andre ingin buat kesepakatan.
"Andre apa kau mulai meragukan kinerja papah dalam mengurus perusahaan, sampai harus berkeluh kesah di depanmu?" jelas tuan wijaya tak ingin putranya ikut khawatir
"Aku percaya. papah masih sanggup mengurus perusahaan lima sampai sepuluh tahun lagi!" jelas Andre jujur.
Mia dan Ayu hanya bisa menonton sembari ngemil buahan. Melihat ayah dan anak sedang berdebat.
"Lalu kenapa kau masih saja ingin membahas kejadian papah di ruang rapat, semua itu hanya kelelahan dre." ucap tuan wijaya berkilah.
ia tak ingin andre tahu tentang masalah perusahaan yang ia hadapi.
"bisakah papah jujur, tidak mungkin keadaan papah hanya gara-gara kelelahan, pasti ada masalah yang sedang papah sembunyikan?" tanya andre semakin penasaran.
"Astaga kau ini, baiklah papah jujur Sebenarnya memang ada, tapi kau tenang saja, papah masih sanggup mengatasinya?" bujuk tuan wijaya
"Ya sudah kalau begitu, Mia ayo kita pulang saja." tukas andre mengambil keputusan untuk pulang kevila.
"Dre berhenti lah kekanak-kanakan, ini rumahmu sudah seharusnya ku disin." tukas tuan wijaya penuh penekanan.
"Papahlah yang kekanak-kanakan. Bahkan papah hanya menganggap aku peliharaan dirumah, atau sekedar pria buta yang lemah, sehingga papah selalu melakukan semaunya papah." ujar Andre begitu kecwa.
"Mas hentikan," tegur mia mengingatkan agar andre tidak emosi.
"Tidak bisa mia, aku ini putranya, kenapa papah tidak pernah terbuka dan berbagi masalah denganku? padahal aku hanya punya papah dan dirimu, jadi aku mau papah jangan menutupi apapun dariku mia." sambung Andre tegas dan penuh penekanan.
Bahkan tuan wijaya sangat kaget melihat andre yang sedang dibujuk Mia.
Andre menoleh kearah tuan wijaya, lalu menatap papahnya penuh kecewa.
Dengan tatapan andre yang terlihat hidup. Bisa membalas begitu menusuk perasaan dan pikiran tuan wijaya.
Seketika tuan wijaya tersadar ada sesuatu yang berbeda dengan putranya.
"Dre jangan bilang kau...?!" seloroh tuan wijaya terkejut. Lalu berpindah menatap Mia. yang langsung dijawab anggukan Mia
Mata tuan wijaya membulat sempurna. dengan pikiran yang kembali syok.
Namun bukan masalah. melainkan kebahagian Bahwa putranya sudah bisa melihat.
"Pah....!" tegur andre sambil melirik sherly yang baru pulang entah dari mama.
ia juga menggelengkan kepala dengan pelan seraya tidak mengizinkan papah untuk membahas keadaan dirinya sekarang.
"Baiklah papah mengerti, Ayu antar aku kemar" Titah tuan wijaya.
Segera Ayu bangkit dan mendorong kursi roda yang sedang di duduki tuan wijaya.
" ayo kita saling jujur sekarang!" ajak tuan Wijaya menantang Andre.
"Itu lebih baik.." sahut andre begitu gingin.
"Cihk, kau ini benar-benar terlihat seperti mamahmu sekarang, kalau sedang marah." keluh tuan wijaya.
Namun hatinya panuh rasa haru. Bahkan tanpa sadar air bening menetes dari pelupuk mata tuan wijaya. Rasa penasaran mulai meluap-luap ingin tahu sebenarnya.
"Kalian mau kemana?" tanya sherly penasaran. lalu menoleh andre
__ADS_1
"Hai dre apa kabar?" tanya sherly Menghampiri.
"Kabarku baik, aku ingin menemani papah dulu sebentar!" jelas andre bersikap normal.
"Oh baik lah."sahut sherly pasrah.
"Ayo Mia!" ajak Andre pergih meninggalkan sherly
"Iya mas"
******
Di kamar
Andre kembali menemani papahnya mengobrol dan saling membuka kejujuran. hingga tidak terasa hari semakin malam.
Mia membiarkan Andre dan Ayu menemani papahnya.
"Mas Mia mua keluar dulu sebentar." izin mia.
"Baiklah, nanti mas menyusul." jawab andre.
"iya mas, pah mia keluar dulu " izin mia ke papah.
"Iya Mia"
Mia keluar dari kamar papah mertuanya. Dan memutuskan menunggu dikamar pribadi andre yang menjadi miliknya juga. yang pernah ia tempati.
Saat keluar betapa terkejutnya Mia. Melihat Sherly berdiri di luar pintu kamar tuan Wijaya.
Mia menatap heran memindai tingkah laku sherly yang tidak wajar.
ia segera menutup pintu kamar itu. dan menghadapi sherly sendiri.
Mia tak ingin merusak momen andre dan papahnya yang saling bercerita.
"Sedang apa kau disini?"tanya Mia.
"Tidak ada, aku hanya penasaran saja, bagaimana menantu di atas kertas sepertimu bisa kembali lagi kesini." hardik sherly tanpa ragu-ragu.
Mia hanya menautkan alis milihat. Sherly sangat kesal dengan mia yang menyamakan dirinya dengan serangga.
Di saat Andre yang baru datang dan langsung dibawa Mia.
Mia hanya menyeringai lalu mendekati sherly.
" Itu Rahasia...!!'sepertinya terlalu lama tinggal di rumah ini, kau seperti alat penyadap yang ingin tahu banyak tentangku dan orang-orang di sekitarku?." sahut Mia menggelengkan kepala. sangat kagum
"sampai-sampai seperti bodigart yang menjaga pintu." lanjut Mia menebak sherly sedang mencari informasi lainya.
Dari raut wajah dan tingkah sherly terlalu mencurigakan di mata mia.
"Kau tahu apa tentang ku? bahkan sebelum keluarga ini mengangkat derajat mu, aku sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan baik keluarga ini." ucap sherly dengan bangga.
"Lalu kenapa kau tidak masuk dan bergabung tadi. Dari pada hanya menguping disini?" tanya mia memancing
"Aku tidak menguping"sahut sherly berkilah. lalu kembali melanjutkan ucapanya.
"Dan kau bilang apa, Bergabung?'ha..ha...ha... bukankah itu akan membuatmu sangat malu. Aku akan menonton dan memtertawakanmu, seorang menatu wijaya diatas kertas, yang tidak akan pernah mendapat restu dari om wijaya." hardik sherly mengintimidasi.
sherly Mengira Mia keluar dari kamar tuan wijaya karena diusir tuan wijaya
cukup sakit terdengar di telinga mia. Namun Mia tak ingin gegabah menghadapi seorang sherly yang sepertinya lebih cerdik dari fani.
Di saat fani terobsesi Andre. fani akan langsung bertindak sendiri menghadapi andre dengan semua rencananya.
Tanpa perhitungan matang. yang berakhir tak mendapatkan Apa-apa sama sekali.
__ADS_1
Sedangkan sherly. Mia merasa sedikit berbeda. sherly terlihat tenang namun penuh rencana dan perhitungan.
Mia mencoba mengikuti alur pemikiran sherly. agar sherly tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dibahas didalam kamar tuan wijaya
"Manantu diatas kertas' Itu dulu!' meski papah belum menerima sepenuhnya diriku, tapi aku rasa setatus Manatu terus berlanjut, tidak mudah tergantikan dengan yang lain." sahut Mia santai
"Benarkah?" ejek sherly.
"yak, apa lagi hanya hubungan mantan tetangga yang sedang mencari perhatian sepertimu, tak mungkin menjadi menatu wijaya." ejek mia penuh percaya diri. mencoba menyindir sherly.
Mia tak ingin mengalah lagi, ia percaya andre tak akan membiarkan Mia keluar dari posisi keluarga wijaya.
Hanya Karena sherly yang sedang mencari perhatian lebih dari tuan Wijaya.
"Kauuuu!' cihk menyebalkan, asal kau tahu aku bukan sembarang tatangga, derajatku lebih tinggi darimu, papahku seorang pengusaha, hubungan om Wijaya dan papahku sangat dekat...!!' akan sangat mudah menyikirkan setatusmu!" seloroh sherly tersulut emosi. sherly mulai berkata dengan angkuh untuk menjatuhkan Mia.
ia sangat percaya dalam segi derajat dan kedekatan hubungan orang tuanya dengan keluarga wijaya.
Akan menguntungkan posisinya untuk bisa mengantikan Mia.
"Coba saja kalau kau bisa?" sehut mia dengan malas, sambil membuang napas
"yak" jawab sherly percaya diri.
"Tapi aku semakin tidak percaya, malah kau jadi terlihat bodoh!" celetuk mia semakin menggelengkan kepala. sherly terbelalak mendenagar setiap kata dari mulut mia.
"Apa kau bilang, aku Bodoh?" tanya sherly tidak mengerti.
"Yak, seharusnya dari dulu kau mencoba untuk menjadi menantu keluarga wijaya, kenapa baru sekarang?" sahut Mia malas.
"Karena aku tidak suka kau menjadi bagian keluarga wijaya."
"Jadi cuma itu? bukankah kau tetangga luar biasa, orang tua pengusaha, dan hubungan baik dua keluarga. reputasimu yang bagus, tapi sayangnya otakmu sempit jadi tidak akan bisa mengubah apa-apa !" jelas mia dengan entengnya.
Sherly mulai gusar. tangannya ter'angkat dan melayang kearah pipi mia,
Namun dengan cepat Mia menangkap dan mencengkeram.
Lalu menggibas lengan itu dengan keras hingga sherly mundur beberapa langkah.
Cklek...!!' pintu terbuka. Ayu dan andre keluar dari dalam kamar tuan wijaya. Mata mereka berdua tercengan melihat sherly dan Mia saling melempar tatapan.
"Nona Sherly, sedang apa kau disini?" tanya ayu heran.
"Sebenarnya, aku ingin melihat keadaan Om wijaya, Tapi Mia melarang ku, bahkan dia ingin mengusirku!" jelas sherly sendu. menatap ayu dan Andre.
"Apa itu benar Mia?" tanya Andre ingin tahu. Mia menautkan alis sembil membuang muka dengan kesal.
"Tentu saja tidak! Mia hanya menantu diatas kertas mas. Mana berani Mia melarang dan mengusir sherly. apa lagi hubungan keluarga sherly dengan papah begitu dekat." ujar Mia kesal. karena Sherly mulai menghina dan sekarang menuduh yang tidak-tidak.
Andre hanya bisa mengehela nafas melihat Mia yang sedang di salahkan. Andre tahu istrinya sedang dipermainkan Sherly bahkan di intimidasi.
ia cepat-cepat keluar karena mendengar kegaduhan Mia dan sherly.
"Ini sudah malam, biarkan papahku istirahat!" tegur Andre melerai pertikaian sherly dan Mia.
Tidak dengan ayu berubah dingin mendekati sherly.
"Saya harap nona mendengar perkataan tuan muda barusan, apa lagi lantai ini adalah ruang privasi. jadi nyonya mia tidak salah dalam hal ini, mohon nona sherly mengerti" jelas ayu membela mia. sembari mempersilakan sherly untuk pergi.
"Baiklah, ini karena kau dre, aku tidak akan mempermasalahkan istrimu!" tukas sherly di depan andre. sembari menyalakan Mia.
"Dasar caperrrr..!" seloroh mia ketus. membuat Sherly menatap tajam kearah Mia.
"Fufff... tawa andre tertahan melihat sherly dan Mia seperti kucing dan an-jing.
"Ayo sayang kita istrahat!" bujuk Andre meninggalkan sherly dan Ayu yang masih berdiri di depan pintu kamar peribadi tuan wijaya.
__ADS_1
Sperti biasa. tinggalkan jejak setelah membaca yak🤗🤗🤗🤗