
Dirumah Deri. Nyonya Mira terus saja mondar mandir seperti gosokan yang sedang digunakan. ia terus meremas jari jemarinya dengan wajah gelisah.
"Bagaimana, apa kalian sudah menemukannya?" tanya nyonya Mira kepada pelayan yang baru saja tiba.
"Maaf nyonya, kami tidak menemukannya!" pelayan itu menjawab dengan wajah pasrah.
"Baiklah kau boleh istirhat dulu, setelah itu kembali mencari!" ujar Mira memerintahkan.
"Baik nyonya"
Seorang pria muda yang baru saja datang. langsung masuk untuk menemui nyonya Mira.
Tap Tap Tap.
Suara langkah terdengar. Mira segera menengok sumber suara. Lalu datang menghampirinya.
"Rangga syukurlah kamu sudah datang." tanya nyonya Mira cukup lega.
"Ada apa Bu memanggil tiba-tiba?" tanya Rangga heran.
"Ini masalah Fani, apa dia tidak mengabarimu" karena sejak kemarin anak itu tidak pulang kerumah!" ujar Mira mulai menjelaskan dengan perasaan khawatirnya.
"Fani hanya bicara, kalau dia akan berkumpul dengan teman-temannya. tapi saya tidak tahu kalau fani sampai tidak pulang kerumah." jelas Rangga apa adanya
"Apa fani sedang ada masalah?" tanya rangga mulai curiga.
Dengan wajah sedih Mira menganggukan kepala. membenarkan masalah yang sedang menimpa fani.
"Sebenarnya belum lama ini fani bertengkar lagi dengan ayahnya!" seloroh nyonya Mira berkata.
"Bertengkar?"
"iya Rangga!"
Dengan berat hati nyonya Mira mulai menceritakan masalah yang dibuat Fani. Tuan Deri sangat marah karena beberapa orang kreditor tiba-tiba datang menagihnya.
Tidak hanya menggunakan Kartu kredit melampaui batas. bahkan Fani meminjam uang dengan menggunakan atas nama perusahaan ayahnya. Hanya untuk berhura-hura.
Sehingga tuan Deri, mau tak mau harus membayar sejumlah uang beserta bunganya.
Ditambah kini fani harus harus bolak-balik dipanggil polisi. Karena keterangan fani yang selalu ber'ubah-ubah. tentang perhisan yang fani beli. malah menjadi barang bukti bagi polisi. Dan itu juga menjadi tamparan untuk harga diri tuan Deri.
Setelah nyonya Mira memberi tahu tentang masalah fani. Rangga terdiam seribu bahasa tak bisa berkata-kata.
"Bisakah kau mencarinya?" ujar nyonya Mira bertanya.
Namun Rangga masih saja terdiam dengan pikirannya yang entah kemana.
"Rangga!" panggil nyonya Mira.
"yak bu?"
__ADS_1
"Ibu mau minta tolong sama kamu, untuk cari fani." Nyonya Mira berkata tegas meminta Rangga.
"Ba... Baik Bu, saya akan cari fani sekarang juga." jawab Rangga dengan panik.
"Jangan pakai motor ini sudah malam, pakai saja mobil ibu." ujar nyonya Mira mengintruksi.
"Baik bu terimakasih, secepat saya akan kasih kabar tentang fani."
Segera rangga pergi. Dengan mobil nyonya Mira untuk mencari fani yang entah di mana,
Sepanjang jalan Rangga terus saja bergumam dengan gelisah. Tentang keadaan fani yang sekarang seperti apa.
"Sebenarnya kau dimana Fani, bahkan nomor handphonenya tidak aktif, mungkin kah ditangkap anak buah wijaya? atau jangan-jangan....!!! tidak.. tidak..!!!. kalau sampai ayahku tahu kalau fani kini menjadi saksi. itu berarti nyawa fani dalam bahaya karena ayah ku bisa melakukan apa saja." ujar rangga terus berdebat dalam pikirannya.
Rangga begitu gusar sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sampai memukul setir kemudi beberapa kali untuk meluapkan emosinya sendiri.
Sudah dua jam rangga berkeliling menyambangi rumah teman-teman fani. Atau tempat berkumpulnya fani. Namun belum juga membuahkan hasil dalam pencarian.
Sebuah panggilan telepon seluler. berdering nyaring di saku celana Rangga. Segera rangga menghentikan mobil dibahu jalan. Lalu menerima panggilan.
"Ada apa dek" tanya Rangga menempelkan benda pipih kesukaan seluruh umat manusia dekat dengan telinganya
"Kakak dimana sekarang ?" tanya perempuan dengan suara cempreng. bahkan rangga sampai menjauhkan handphone dari telinganya,
"Sedang dijalan, apa penyakit ibu kambuh lagi dek," jawab rangga sekaligus bertanya tentang kesehatan ibunya.
"Ibu baik-baik saja, Tapi tunangan kakak yang eneh itu yang membuat ku khawatir, bilangnya hamil 'masa jam segini masih keluyuran. Bahkan bisa-bisanya masuk diskotik beginian, akan ku kirim potonya?" jelas perempuan itu mengeluh sambil berteriak-teriak kesal.
Sebuah notifikasi muncul tanpa mematikan panggilan. Segera Rangga membuka pesan yang dikirim adiknya.
"Lalu kamu sendiri sedang apa disana? jangan bilang kamu juga ingin masuk ke tempat seperti itu?" tuduh Rangga curiga.
"Jangan fitnah yang tidak-tidak, aku baru saja beli bubur untuk ibu. Lalu melewati tempat diskotik itu terus melihat tunangan aneh kak Rangga. sedang masuk ketempat itu."
"Bukannya didepan rumah sakit ada tukang bubur?" ujar rangga belum percaya
"Sudah habisss kakkkkkk!" sahutnya penuh penekanan. lalu mematikan panggilan begitu saja.
Rangga mengerutkan alisnya menganalisis hendpon yang sudah tidak tersambung.
Walau begitu hatinya mulai lega tidak memikirkan kejadian yang tidak-tidak.
Segera Rangga melaju dengan mobil calon mertuanya. untuk menuju tempat Fani berada.
Setelah sampai ditempat itu. Rangga melangkah masuk kedalam. suara dentingan musik mulai memenuhi ruangan dan beberapa wanita dan pria berteriak happy.
Memperhatikan Dj bereaksi dengan pakaian seksi. Memutar beberapa lagu permintaan pengunjung.
Rangga terus memindai seluruh isi ruang. Mencari sosok fani yang belum juga kelihatan.
Rangga terus mencari dan semakin masuk kedalam. Kini matanya tertuju di sebuah meja barista.
__ADS_1
Lebih tepatnya bartender karena yang diracik bukan kopi melainkan Miras ber'alkohol tinggi.
Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa wanita yang sedang mengandung malah meminum 'minuman seperti itu.
Dengan susah payah rangga melangkah karena bayak perempuan yang sudah mulai hilang akal. tak tahu malunya malah menyodorkan tubuhnya di hadapan Rangga.
Dengan hati-hati Rangga mendorong tubuh wanita cantik nan seksi itu. Untuk menjauh agar bisa segera ketempat fani berada.
Setelah dekat. Segera rangga menyambar tangan fani dan menarik bumil itu keluar secara paksa. Dari tempat yang penuh hasrat sesaat.
"Apa-apaan kau, berani-beraninya menarikku dengan kasar hingga keluar!" tegur fani tidak terima di tarik paksa oleh Rangga.
"Sudah cukup. apa kau tahu tingkah lakumu selalu membuat masalah dan menyulitkan bayak orang!" bentak rangga tidak sabaran
"Hahaha.... yak aku memang pembuat masalah memangnya kenapa?" sahut fani dengan entengnya.
"Kalau begitu berhentilah membuat masalah. ingat kau itu sedang mengandung!" tukas Rangga meminta sekaligus mengingatkan.
"Berhenti kata mu? Aku tidak mau sebelum aku bisa memisahkan Andre dan Mia, lalu tentang anak ini aku sudah tidak peduli dia mau tinggal dikandunganku atau dineraka sekalipun!" seloroh fani menjelaskan.
Rangga sampai habis untuk berkata-kata tangannya sudah gatal ingin memukulnya .
Tapi rangga sadar walau pun fani di'ingatkan berkali-kali yang ada hanya pertengkaran. karena fani juga mulai hilang kesadaran.
"Sebaiknya pulang dulu!" ujar Rangga. Tak ingin bertengkar.
"Aku mau Andre!' aku mau pria buta itu bertekuk lutut dikaki ku!" pinta fani menggenggam tangan Rangga, dengan tatapan memohon.
"Tapi kenapa kau begitu menginginkannya? sampai-sampai kau mengancam keluarga ku, dan juga menjebakku?" tukas Rangga tidak terima.
"Karena sejak awal Andre sudah menolak ku!' aku merasa sangat terhina. aku tidak terima dipermainkan pria buta." jawab fani berapi-api.
"Aku memang tidak tahu perjodohan kalian seperti apa? tapi alangkah baiknya kalau kamu meng'ikhlaskan nya!" jelas Rangga mencoba mengusulkan.
"Apa ikhlas kau bercanda kan Rangga?' Lalu bagaimana mana dengan mu apa kau ikhlas kalau ayahmu sampai masuk penjara?" fani malah balik bertanya. Rangga terdiam tak bisa bicara.
"Sulit bukan? walaupun sekarang kau sudah tahu dengan jelas. kalau ayahmu bersalah! karena ayahmu lah menyandera Andre dan merampok nyonya Andinah dua puluh tahun lalu.
"Cukup, jangan bahas itu disini, kau itu sedang mabuk?" pinta Rangga.
"Kenapa? apa kau takut tuan Wijaya tahu kalau ayahmu lah yang sudah membunuh nyonya Andinah istri Tuan Wijaya." ujar fani mengintimidasi.
"Brukkk....!" suara benda jatu.
Rangga dan fani menengok dua serokom yang ber'isikan bubur ayam didalam kantong plastik bening transparan yang sudah tumpah dibahu jalan. Tidak jauh dari Fani dan juga Rangga
Bahkan mereka berdua terbelalak tidar terkira. Melihat gadis remaja yang masih mengenakan seragam sekolah berdiri disamping bubur yang tumpah.
Tubuhnya gemetar dengan kedua tangan menutup mulut tak ingin bersuara. gadis remaja itu tak lagi bisa membendung air matanya
iya sangat terkejut mendengar obrolan fani dan Rangga, yang begitu menusuk perasaannya.
__ADS_1
Bersambung......
tinggalkan jejak setelah membaca ya, terima kasih 😊