
Di sebuah gedung kokoh tinggi menjulang. Sebuah perusahaan basar tertulis Wijaya group terpampang jelas terukir indah didepan pintu kantor utama.
Ratusan orang yang masing-masing sibuk dengan pekerjaanya.
Namun ada sebuah ruang kebesaran yang begitu di hormati dan juga ditakuti seluruh penghuni di sana.
Itu adalah ruang presiden Wijaya group. Tempat seorang pria tua yang angkuh. Yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
Yaitu tuan Wijaya. sosok pria tua itu terus pokus meneliti beberapa berkas tentang penghasilan saham di perusahaan milik.
Tiba-tiba saja handphone miliknya. Yang sedang tergeletak dimeja kerjanya berdering terus-menerus.
Segera tuan wijaya melirik siapa yang sudah berani mengganggu di jam sibuknya.
Saat melihat nama Sherly di layar handphone. Dengan cepat tuan wijaya mengeser warna hijau untuk menerima panggilan video call dari Sherly.
"Ada apa sherly?"
"Maaf om sherly ganggu." sahut wanita dari seberang sana. Yang sedang gelisah di rumah wijaya.
"Tidak masalah, apa ada hal penting?" tanya wijaya heran. melihat sherly yang terlihat cemas.
"Iya Om,sherly mau menyampaikan sesuatu ke Om."
"Apa yang ingin kau sampaikan?"
"Ini tentang mas Andre." jelas Sherly.
"Andre ada apa denganya?" tanya tuan wijaya mulai khawatir.
"Coba Om lihat di belakang sherly, ini semua barang-barang mas Andre. yang sedang di kemas para pelayan." jelas sherly.
Menunjuk koper besar dan beberapa buku-buku berhuruf braille milik Andre. Yang sudah tersusun rapih untuk di bawa pergi.
sontak tuan Wijaya begitu kaget dan langsung menanyakan keberadaan putra satu satunya.
"Dimana Andre?"
"Tidak tahu om sejak tadi pagi, Bayu sudah membawa mas Andre pergi!" jawab Sherly melihat mobil anqdre keluar dari gerbang rumah Wijaya.
"Baiklah, terimakasih sudah memberitahu, Om akan segera pulang sekarang." jelas tuan Wijaya. sambil mematikan panggilan di handphone miliknya.
Setelah itu tuan Wijaya segera bersiap pulang kerumah. Memastikan sendiri apa yang sedang terjadi dirumahnya.
Semenjak Andre tahu apa yang sudah dilalukan papahnya. Andre benar-benar menutup diri tak ingin bertemu tuan Wijaya meski hidup serumah.
Tuan wijaya tak lagi bisa berbicara dengan putranya. Bahkan Andre meminta papahnya untuk tidak ikut campur tentang rumah tangga dirinya dan Mia.
Dengan cepat sopir itu mengemudi membawa majikan untuk pulang kerumah.
Setelah satu jam perjalanan dari kantor kerumah. Dan kini tuan Wijaya telah sampai di rumah kebesarannya. ia segera masuk. Meneliti beberapa barang yang masih tersisa.
"Selamat datang tuan besar!" ujar pak Heru membungkuk. yang diikuti beberapa pelayan lainya.
"Pergi kemana Putraku" tegur tuan Wijaya dingin dan penuh emosi. membuat para pelayan tertunduk dengan tubuh gemetar.
"Maaf tuan besar saya tidak tahu!" sahut pak Heru takut.
__ADS_1
"Sepertinya Kau mulai berani melawan di belakangku, tanpa perintahku, bahkan kau mengurus pekerjaan tentang bantuan sosial untuk di Kalimantan dan Palembang. padahal sudahku atur untuk bayu dan Mia." tukas wijaya
Ia mulai mengungkit kejadian yang sudah cukup lama. tentang dirinya yang ingin memisahkan Andre dan Mia
"apa ini juga permainan mu bersama bayu dan putraku?"sambung tuan wijaya penuh dengan tekanan.
lebih tepatnya sedang menuduh pak Heru.
"Tentang masalah ini saya benar-benar tidak tahu tuan, saya hanya dapat perintah tuan muda, lewat handphone untuk mengirim barang-barang tuan muda ke vila." jelas pak heru terus saja menunduk penuh rasa takut.
Tuan Wijaya tak lagi bicara meninggalkan mereka begitu saja.
"Ini semua gara-gara Mia!" guman tuan Wijaya di dalam Benaknya. Yang sedang di liputi emosi tingkat tinggi.
*****
disisi lain
Sebuah motor sport hitam dengan lincah dan santai memasuki sebuah vila bernuansa putih cerah.
setelah sekuriti membukakan gerbang untuknya. pria itu pun lansung memakirkan motornya.
Lalu melepas Helem dan jaket miliknya, Memperlihatkan pakai seragam yang sebenarnya.
Sebuah kemeja putih panjang selutut yang membalut tubuhnya. Dan sebuah ID card Rumah sakit ternama. Tertera dikatung kanan dadanya.
Yah dialah Rio yang dapat pesan dari Bayu atas perintah Andre. Ia segera datang untuk menemui andre di vila miliknya.
Tap Tap Tap Suara langkah Rio. Membuat Bayu yang sedang bersantai sambil bermain gadgetnya.
Langsung terbelalak melihat Rio yang masih lengkap dengan seragam kedokterannya. Datang tepat waktu.
"cihk tukang ngadu, tumben sehat dan tepat !" celetuk Bayu menyindir Rio.
Seorang dokter yang biasanya selalu saja mengeluh bercerita sembarang orang. Di tambah juga Rio pintar mencari alasan.
Entah ada masalah apa Rio selalu saja ber'alasan Saat di pinta untuk datang menemui putra wijaya yaitu Andre Hermawan Wijaya.
"Jangan terus menyindirku, aku sadar aku sudah lalai sebagai dokter." tukas Rio menyesal.
Lalu duduk disofa yang menghadap meja di depan Bayu.
"Jadi mulai sekarang aku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya, sebagai permohonan maaf atas yang kemarin-kemarin." sambung Rio serius sambil memainkan alisnya.
"Astaga itu kan memang kewajibanmu sebagai dokter, sepertinya kau memang rada-rada seperti yang di bilang kakakmu." ejek Bayu.
Lalu kembali menatap gadget miliknya. karena malas melihat Rio yang sok cool didepan dirinya.
"Ayolah jangan marah. Akan ku teraktir kau minum geratis selama sebulan di Club miliku. bagaimana? datang lah untuk berpesta." bujuk Rio bangga tanpa memikirkan reputasinya sebagai seorang dokter ahli saraf.
Seketika Bayu menoleh dan membulatkan matanya. Saat mendengar tentang tawaran Rio yang tidak biasa.
"Kau benar-benar sudah gila, setahuku setiap dokter membuka tempat kelinik medis atau Apotek, bukan club malam." sahut Bayu terkejut dan juga penasaran. Seperti apa Rio sebenarnya.
" Iisssk itu hanya bisnis sampingan!" tukas Rio memberi Pengertian tentang hobi dirinya yang suka mengurus club malam.
"Sebaiknya kau pulang saja, aku semakin tidak percaya tentang pengobatan mu sebagai dokter." celetuk Bayu meninggi.
__ADS_1
Yang merasa tidak aman menyerahkan pengobatan Andre kepada Rio.
"Tenang saja, soal pekerjaan aku selalu nomer satu, dimana tuan Andre?" bujuk Rio sambil mengalihkan pembicaraan.
Bayu hanya bisa menghela nafas dengan kasar sambil Memijit kening. Melirik Rio yang masih santai tanpa dosa.
"Di kamar tunggulah sebentar!" jawab Bayu mulai kesal.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tegur Rio tiba-tiba.
Sambil menunggu kepergian seorang pelayan yang mengantar teh hangat untuknya.
"Tetang apa?"
"Tentang istri tuan Andre, karena kupikir istri tuan Andre itu...?" tanya Rio penasaran dan juga ragu-ragu.
Takut Bayu semakin marah dan tidak mau menjawab.
"Fani putri tuan Deri maksudmu!" tukas bayu menyambar secepat kilat.
Rio pun mengangguk ingin kebenaran. Rio yang cukup mengenal Fani waktu masih kuliah.
Di tambah Rio dulu sering melihat Fani datang bersama teman-teman pergaulanya. Untuk sekadar ngobrol cantik dan mencicipi miras. Di club miliknya.
"Iya kau benar, tapi aku tidak menyangka saat aku mengenal nona Mia dan Abangku memberitahuku siapa nona Mia." sahut Rio tidak menyangka. Mia yang menikah dengan putra wijaya.
Sebenarnya Rio tidak terlalu heran. dulu Ia juga sering mendengar tentang ucapan fani.
Yang benar-benar sering terlontar buruk. hanya untuk sekadar curhat tentang keinginannya menolak Andre.
"Keluarga Fani meminta nona Mia untuk menjadi penggantinya." jawab Bayu dengan kesal.
"Memangnya kenapa dengan fani?" tanya Rio pura-pura tidak paham.
Dengan tangan sibuk meraih teh hangat. sambil menunggu Bayu menjawab. Rio menyeruput tehnya.
"Fani hamil dengan pria gila, untuk membatalkan pernikahan dengan Bosku putra wijaya!" sahut Bayu tanpa di tutup-tutupi.
"Uhuk Uhuk Uhuk.....!!" sontak Rio begitu terkejut hingga terbatuk-batuk. mendengar jawaban Bayu.
"HAMIL.....??" Gumam Rio dalam hati. mengira-ngira apa yang terjadi dengan Fani.
"Tak ku sangkang pemilik club malam yang biasa minuman beralkohol, Minum teh saja sudah tersedak." ujar bayu kembali mengejek.
"Aku hanya suka berbisnis, tapi jarang Minum!" tukas Rio membela diri sendiri.
"Aneh.... pekerjaan dokter, punya kakak polisi, kok bisnis Miras?" lagi-lagi bayu menyindir Rio.
Membuat Rio perustasi ingin mengoperasi kepala Bayu. memutuskan urat saraf bicara.
Yang menerima informasi ke otak. sehingga bayu tak lagi bisa bicara
Namun sayang itu hanya hayalan Rio semata, karena dalam pekerjaannya Rio. Ia sudah bersumpah kesembuhan dan keselamatan adalah jalan hidupnya.
"Emmm itu boleh kah aku bertanya lagi tentang Fani?" tanya Rio. Tanpa menghiraukan sidiran bayu terus menerus.
"Dari suaramu kau begitu ingin tahu tentang wanita itu yak. dokter Rio..." tegur Andre dari atas Anak tangga. bersandar didinding sambil memainkan tongkat bantunya.
__ADS_1
Seperti biasa tinggalkan jejak setelah membacaya.😊😊😊