
"bagaimana bisa kau tidak tahu, aku sudah bilang padamu untuk selalu menjaganya." tukas tuan wijaya mulai kecewa.
Mia hanya terdiam tak niat menjelaskan atau membela diri.
karena bagi Mia Tuan wijaya bukan hanya mertua tapi sosok ayah kandung bagi Mia.
Mia tahu tuan wijaya hanya sedang khawatir terhadap Andre sehingga tidak bisa mengontrol emosi.
Tuan wijaya hanya menghela nafas dengan berat. Lalu menghembuskannya dengan kasar.
Karena melihat Mia yang hanya menunduk saja sambil meminta maaf.
Akhirnya tuan wijaya menyuruh Mia pulang untuk introspeksi diri.
Cukup lama Mia terdiam karena dia tak ingin meninggalkan suaminya yang masih berbaring tak sadarkan diri.
Mia masih saja menggenggam tangan andre, walau wijaya mulai emosi
"Sebaiknya nona Mia pulang, biar saya yang akan menjaga tuan muda." ujar bayu mengusulkan. Ia tidak tega kalau Tuan wijaya sampai menghukumnya. Karena tidak menuruti perkataan tuan wijaya.
Mia menatap bayu ingin menolak usulan bayu atau pun perintah tuan wijaya.
Namun bayu memberikan gelengan ringan sebagai jawaban untuk tidak menolak perintah.
Mia hanya menghela nafas dengan berat. sambil menoleh wajah andre,
Membungkuk untuk mencium punggung tangan suaminya.
Dengan berat hati Mia melepaskan genggamannya ditangan suaminya.
Lalu mendekati papah mertuanya meraih tangan yang sepertinya tak ingin bergerak dari posisi tangan didalam saku.
Mia tetap menarik tangan itu dengan hati-hati dan mencium punggung tangan wijaya. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
***
Saat sadar Andre yang terus memanggil nama Mia. Namun tak ada jawaban dari Mia.
Kini wijaya mulai lega dan para dokter segera memeriksa kesehatan andre kembali.
Setelah melakukan pemeriksaan dinyatakan sudah sehat. Hanya butuh istirahat untuk tidak bayak pikiran. Yang bisa memicu kejadian seperti tadi.
"Apa kau baik-baik saja dre?" tanya tuan Wijaya khawatir.
"Papah!" ucap Andre sedikit kagat karena seharusnya papahnya akan pulang esok hari.
Aku baik pah, sejak kapan papah pulang?" sambung andre kembali.
"Baru saja, karena pekerjaan papah lebih cepat selesai" sahut tuan wijaya menjelaskan.
"Dimana Mia pah?" tanya andre penasaran.
"Papah menyuruhnya Mia pulang" sahut tuan wijaya.
"Tapi kenapa?"
__ADS_1
"Agar Mia bisa merenungkan kesalahan nya!" ujar tuan Wijaya biasa saja.
"Bicara apa papah ini? " Andre tidak paham apa yang sudah dikatakan papah.
"Dre papah hanya menegurnya saja, karena dia sudah lalai tidak menemani mu dengan benar." jelas wijaya tak mau kalah dengan pandangan pribadinya.
"Cukup pah, Mia tidak bersalah, aku seperti ini karena mendengar suara pria itu, Orang yang sudah mencelakai aku dan juga mamah!" Tadi orang itu sedang berbicara dengan petugas administrasi." jelas andre dengan gelisah. Karena papahnya sudah salah paham.
"Apa maksudmu Dre?" tuan wijaya masih belum mengerti.
"Pah aku mencoba mengingat wajah orang itu agar Mia bisa mencari dan mengenalinya, tapi trauma itu malah membuat aku seperti ini."
"Tapi itu sudah lama Andre?, mungkin saja kau salah orang!" ujar wijaya tak percaya.
"Tidak pah aku tidak akan salah, aku ingat betul suara orang itu. Dia memiliki nada yang berbeda. dan cara bicara nya selalu kasar!" jelas andre dengan nada tinggi untuk meyakinkan papahnya.
"pria itu sudah kembali kekota ini, bahkan belum lama ini, dia menjual perhiasan mamah, dan sekarang perhiasan mamah aku simpan dirumah pah", sambung andre kembali meyakinkan papahnya.
Setelan mendengar perkataan Andre dengan sungguh-sungguh. Tubuh Tuan wijaya tiba-tiba terasa lemas tak berdaya.
Lalu menoleh Bayu yang masih diam mendengar penjelasan Andre.
"Benarkah itu Bayu?" tanya wijaya pelan namun tetap tegas ada aura gelap begitu terasa yang menyelimuti perasaan tuan wijaya.
"Benar tuan, saya dan tuan muda sedang menyelidiki keberadaannya, bersama kepolisian kota." jawab bayu membenarkan penjelasan Andre
"Di mana perhiasan itu?" tanya tuan wijaya ingin memastikan sendiri.
"Dirumah, aku simpan dilaci kamar" sahut Andre memberi tahu.
"Berikan kunci mobilnya padaku!." pinta tuan wijaya menatap Bayu
"Tidak perlu, kau tetap disini dan urusan kebutuhan Andre selama perawatan.!" jelas tuan wijaya mengintruksi.
Ba.. baik tuan!"
Setelah menerima kunci mobil dari Bayu. dengan perasaan tidak menentu wijaya segera mengendarai mobil menuju rumah.
Bayangan dulu yang begitu kelam dalam menjalani kehidupan karena di tinggal pergi istri tercinta untuk selama-lamanya.
Membuat wijaya ingin membalas orang itu berkali-kali lipat.
Setelah sampai. Para pelayan yang tidak mengetahui kalau tuan besar wijaya sudah pulang. Membuat mereka panik setengah mati.
Karena tidak ada yang bersiap untuk berkumpul menyambut kedatangannya.
Saat para pelayan berlari untuk segera menyapanya.
Namun Tuan Wijaya tidak menghiraukan dan terus saja berjalan meninggalkan mereka begitu saja.
Ia segera menuju kamar andre dan membuka pintu secara tiba-tiba.
"brakkk!" suara pintu dibuka cukup kuat. Membuat Mia yang sedang berdiri dekat jendela langsung menengok sumber suara
"Papah!"
__ADS_1
"Apa kau tahu andre menaruh perhiasan kalung itu dimana?" tanya tuan wijaya tegas. Tapi tak lagi ingin marah kepada Mia.
" A..A... Ada dilaci pah, akan Mia ambilkan!" sahut Mia gugup sambil menuju laci disebelah tempat tidur.
Segara Mia mengambil dan memberikan kepada papah mertuanya.
"Ini pah." ucap Mia menyodorkan perhiasan ditangannya dengan hati-hati.
Segera wijaya meneliti perhiasan yang kini sudah ditangannya.
Matanya membulat sempurna merasakan perasaan yang tidak biasa.
Saat melihat perhiasan mas putih dengan liontin berlian Red Diamond yang dibeli dirinya.
Lalu diberikan kepada Andinah untuk mengungkapkan perasaan sekaligus meminta Andinah untuk menjadi istrinya. kini perhiasan itu kembali kepada dirinya.
Dan membuka luka lama yang sudah mendarah daging dihatinya.
Dengan tubuh gemetar dan perasaan tidak menentu.
Tuan wijaya mencoba melangkahkan kakinya yang terasa berat untuk keluar dari kamar putranya.
"Apa papah baik-baik saja?" tanya Mia mulai khawatir karena melihat tuan Wijaya tidak baik-baik saja.
Pria itu hanya mengangguk. Bahwa dirinya baik-baik saja. Saat baru melewati pintu.
Tubuhnya sudah tak seimbang dan hampir terjatuh.
Mia segera memapah tuan wijaya sambil terus memanggil pelayan untuk membantunya. mengantar papah mertuanya beristirahat.
Mia pun segera meminta pelayan untuk memanggil dokter untuk papah mertuanya.
****
diisi lain
Fani sangat kesal karena baru saja menerima surat panggilan dari penyidik kepolisian sebagai saksi baru.
Atas kecelakaan dua puluh tahun silam.
Bahkan ayahnya Deri. mulai habis-habisan memarahi Fani.
Tidak hanya tentang urusan surat panggilan dari kepolisian. Tapi juga tentang Kartu kredit fani.
Yang memakai keuangan melampaui batas dari pinjaman.
Sehingga tuan Deri begitu geram. terhadap Fani yang selalu membuat dia rugi dan juga merusak nama baik keluarganya sendiri.
***
Semenjak tuan wijaya tahu.
Penyelidikan lokasi dan juga beberapa cctv untuk di jadikan barang bukti. Lalu pencarian-pencarian itu terus berlanjut.
Bahkan sketsa wajah perampok itu mulai diteliti kembali. Seperti apa sosoknya sekarang ini.
__ADS_1
Begitu juga dengan Fani meski dia sudah memberikan keterangan ke pada polisi.
Tetapi bayu tidak tinggal diam. Ia meminta beberapa anak buahnya untuk tetap mengikuti gerak gerik fani.