
Sepanjang lagu, mata elangnya tak pernah lepas menyorot sang istri yang bergerak lincah, minta digeret ke kamar. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, ck--ck sexy...sexy...! Siapa tau dengan dipandangi begini dengan sendirinya Fara terhipnotis untuk turun panggung, tapi rupanya bahasa kalbu keduanya belum begitu kuat, ikatan batin dan cintanya masih level rendah, karena nyatanya Fara asyik saja bergoyang tanpa menyadari dengan bahaya yang mengancam.
Ancaman! Fara memang terlihat seorang yang cukup berpengalaman dalam segala hal, di usia yang belum genap 24 tahun ini sudah merasakan semua garam kehidupan yang tak selezat garam dapur. Ia memang dipaksa harus bisa menjadi apapun demi perut kenyang. Itu alasannya kenapa ia masih bisa bertahan hidup walaupun pengangguran, jawabannya adalah ia yang mau melakukan apa saja kecuali menjual diri.
"Pecicilan," desisnya, asap kebakaran mungkin sudah mengepul dari kepalanya, tinggal di taruh beberapa tusuk sate diatasnya.
Keringat mengucur dari hulu ke hilir, namanya juga senam ya pasti berkeringat. Dan bagi Al Fath itu menggerahkan, melihat istrinya begitu. Baru kali ini ia merasa kepanasan begini, ia menyambar sebotol air mineral disana, "haus bang?" kekeh Gentra bernada cibiran.
"Cari mati nih anak! Macan kalo lagi masa kawin jangan lu ganggu, yang ada lu jadi ganti amunisi meriam," sikut bang Yosef.
Dilar tergelak puas, memang prajurit yang sama-sama menempuh pendidikan atau bisa dikatakan satu letting dan sekarang satu detasemen dengannya ini seolah tak takut mati.
"Yang namanya istri dipandangi orang ya sudah pasti panas hati Tra, kebakar! Butuh water cannon," ujar Regan, biar di guyur sebadan-badan kalau perlu sampai banjir nih markas.
"Gua mau ikut senam depan Fara ah!" bukannya memadamkan Andre malah semakin menggangu kinerja otak Al Fath yang sedang mode senggol, tembak dan habisi ini.
Rawrrr! Tatapan Al Fath beralih pada Andre lalu ia berdecak.
Senam berakhir pukul 9 pagi, cukup menguras tenaga. Fara juga sudah banjir keringat selain karena tersorot matahari.
Fara menyeka keringatnya dan turun dari podium, Al Fath sudah bersiap dengan melipat tangan di dada menyambut sang istri natckalnya. Tapi belum Fara berada dalam jarak 10 meter saja, mpok Ayu bersama tim menarik Fara untuk berfoto bersama.
Al Fath melotot di tempatnya, alisnya semakin menukik tajam kaya tikungan di sirkuit balap moto GP saat Fara dengan senang hati meladeni mereka membuat lebih mereka lebih lama lagi untuk bertemu.
Awas saja, setelah ini tak akan bisa keluar dari kamar!
Setelah menunggu beberapa kali pasang surut air laut, akhirnya Fara menghampiri suaminya.
"Abang," Al Fath mendelik lalu berjalan meninggalkan Fara, terang saja Fara terkejut sekaligus bingung, "ihhh, kenapa?" alisnya mengkerut. Giliran tadi menunggu si pujaan hati kaya pungguk merindukan bulan, gelisah tak menentu. Sekarang giliran Fara menghampiri ia malah pergi begitu saja.
Gumaman bibirnya bertanya pada Andre, bang Yosef, dan bang Regan, "ke-na-pa?" sementara Dilar dan Gentra yang tak mau kena imbasnya memilih mengambil langkah seribu, pasalnya mereka tak seberani itu menghadapi kemarahan abg labil sang komandan, bisa-bisa mereka yang jadi pelampiasan Al Fath.
Bang Regan terkekeh, "tanya bang Yo..saya cari Fani sama anak-anak dulu," ujarnya pergi.
Fara mengernyit, ada apa sebenarnya?
"Suami lu cemburu Ra, kegerahan dia.. Liat bininya dipandangin mana sexy banget!" tanpa tedeng aling-aling, tanpa saringan teh milik 'nyak, Andre mengutarakan sebab musababnya.
"Ha-ha-ha! Begitu tuh kalo orangtua jatuh cinta kaya bocah! Kamu samperin deh Ra, nanti dia merajuk ngga baik lagi, kamu yang repot ngga dapet jatah jajan!" ujar bang Yo.
Fara menautkan alisnya lalu tertawa geli, "cemburu, kaya anak SMA aja!"
Fara berlari kecil sambil melompat-lompat, "abang!!! Yuhuuu!"
"Kaya bocah aja abang ih!" teriaknya terkikik mencoba membujuk, tapi langkah dan senyumnya terhenti saat melihat Al Fath sedang mengobrol bersama istri jendral dan...Flora.
Wajahnya berubah seperti baju kering yang belum disetrika, kusut!
Degupan jantungnya terpompa cepat melihat itu, Fara menghentak kaki memilih pergi dari sana, bukan ia tak mau menyeret Al Fath dari cengkraman kedua nenek gayung itu, tapi hatinya terlanjur tak mood. Semangat dan senyum cerahnya sudah tercerai berai di rerumputan.
Fara lebih memilih membantu para istri lainnya yang tengah berjualan. Padahal acara di depan sana sedang meriah-meriahnya mengocok kupon undian doorprize.
Sebagian istri lainnya yang tak menjadi peserta market day memilih membagikan balon dan beramah tamah dengan para masyarakat bersama bapak-bapak prajurit.
Hingga suara pelantang sukses membuat perhatian teralihkan, Fara yang sedang membantu Susi ikut mendongak, kendaraan taktis yang biasa dipakai untuk berperang para tentara, beberapanya keluar dari salah satu bangunan tempat tersimpannya alutsista tentara angkatan darat di markas besar ini.
Mulai dari tank harimau, tank tempur leopard, kendaraan tempur lapis baja Pandur II dan buatan anak negri, hingga kendaraan tempur amfibi.
Decak kagum dan sorakan gembira dibarengi tepukan tangan bergema di markas besar pagi ini, terlebih anak-anak yang semakin mengidolakan dan mencita-citakan untuk jadi prajurit jika sudah besar nanti.
__ADS_1
Para prajurit negara tampak gagah disana, ada satu yang menbuat hati adek berbunga-bunga sekaligus mencebik dalam satu waktu, si tampan yang sedang mengendarai kendaraan tempur amfibi, si abang berbaju loreng yang tadi marah-marah tak jelas.
Kendaraan taktis beserta alutsista lain ter-formasi rapi di lapangan, agar semua pengunjung bisa melihat. Seraya Kolonel infanteri Masruf yang memberikan penjelasan tentang nama, kegunaan, dan sejarah satu persatu dari alutsista yang ditampilkan.
Hari ini berjalan cukup sukses, tapi Fara belum bisa bernafas lega. Karena si tampan nan dingin itu masih mendiamkannya, jangankan bertanya ia saja seperti tak ada niatan untuk menemui Fara, ngambeknya serem! Ia pun gengsi untuk bertanya terlebih dahulu mengingat Al Fath yang lebih memilih mengobrol dengan bu jendral dan putrinya, padahal ia sudah teriak-teriak memanggil suaminya itu.
Karena kegundahan hatinya Fara sampai lupa dengan 'nyak.
"Nyak Fara mana?!" ia celingukan mencari keberadaan dewi langit titisan athena berjuluk enyak!
Fara sampai melompat-lompat demi melihat kerumunan ramai di depan, padahal tanpa disadari ibunya itu berada di barisan paling depan fan base menantunya sendiri.
"Ra!" panggil bu Fani, Fara berbalik dan menghampiri sepaket wajah cemberutnya, melihat Al Fath di tengah lapang sana dengan wajah cueknya bikin bete.
"Eh---kenapa nih, biduan kita?!" cekikikannya.
"Nih, minum dulu!" Susi yang dagangannya sudah habis ikut bergabung di meja bu Fani yang juga sudah beres-beres.
"Lagi liat itu, demo alutsista!" tunjuk Susi menggeser kursi plastiknya agar lebih mendekat.
"Kenapa ini?" tanya bu Fani, wanita ini memang selalu peka dengan keadaan seseorang, ia ikut duduk menggeser kursinya, "Zidan! Adeknya dijagain, awas kesenggol-senggol orang!" teriaknya sebelum kembali terfokus pada Fara.
"Bu Fan, kak Sus..kalo suami marah biasanya diapain biar ngga ngambek lagi?" tanya Fara terang-terangan, pasalnya ia tak memiliki pengalaman membujuk lelaki, apalagi modelan Al Fath si frezzer box, kalo 'nyak sih gampang cukup dikasih martabak luluh.
Raut wajah kedua perempuan ini berubah geli dan tertawa, "Om Fath ngambek kenapa?"
"Ngga tau! Ngga ngerti, masa tadi Fara nyamperin dianya malah pergi ngga ngomong apa-apa. Kata om Andre katanya marah liat Fara jadi instruktur barusan, lah! Kan Fara disuruh, lagian tadi minta ijin sama abang?!" lantas salahnya Fara dimana cobak? Tolong dong bantu cariin, apa harus ia bertanya peta dan Dora?
Susi mengulum bibirnya, "kamu ngga peka, Ra! Laki-laki emang gitu kalo ngambek, dia lebih milih dipendem biar jadi penyakit!"
__ADS_1
Bu Fani mengusap-usap punggung persit baru ini, "pengennya dibujuk,"
Fara mengerutkan dahinya, "kaya bocil! Ya udah ntar Fara beli coklat deh atau martabak!" gerutunya.
"Ha-ha-ha! Haduhhhh, pinter ngga menjamin kepekaan," seru Susi.
"Masa iya martabak atau coklat, kaya anak kecil,"
"Terus apa?" tanya Fara.
"Sini aku bisikin!" Susi menarik lengan Fara agar ia mendekat, lalu Susi membisikkan sesuatu pada juniornya dalam pernikahan.
"Si, kasih warna menyala!" sahut bu Fani.
Alis Fara semakin tak beraturan layaknya ulat yang menggeliat, tak lama kemudian Fara bergidik sendiri, "ah engga ah!" gidikkan bahunya, menjauhkan diri dari Susi.
"Dibilangin juga, ya itu sih terserah. Biasanya cara itu ampuh buat bikin laki-laki bertekuk lutut, ngemis cinta!" tawa Susi, jika menurut kedua wanita ini, hal itu adalah saran terbaik nan jitu. Lain halnya dengan Fara yang bergidik, tak terbayang ia yang seperti wanita panggilan, kegatelan kaya ikan kurang oksigen sambil pake kostum menerawang, ia bukan uang kertas yang dilihat, diraba, diterawang.
"Ayooo--pilih mana, pilih dicuekin apa milih usaha dikit?" tanya bu Fani memojokkan.
Fara menggigit kukunya, "Fara ngga punya yang begituan!"
"Coba tanya Nasya, kalo ngga salah dia ada beli deh kemaren tapi kayanya ukurannya kekecilan. Mana warnanya udah punya di rumah, jadi belum sempet dipake."
Belum apa-apa Fara sudah merinding.
.
.
__ADS_1
.