Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
TANAH AIR BERDZIKIR


__ADS_3

"Umi, apa ngga kebanyakan? Satu batalyon tuh udah mirip selametan ketua DPR ?" tanya Fara memastikan kembali jika kepala mertuanya tidak kepentok tembok atau abis kejedot pohon.


"Loh, engga dong! Yang selametan kan komandan batalyon, masa orang berbagi aja mesti dipilih-pilih dulu orangnya, ngga baik nak! Biarlah semua turut merasakan kebahagiaan yang kita rasakan, bukan umi mau sombong tapi emang kenyataan. Jangan pernah takut jadi miskin hanya karena berbagi," Salwa tersenyum pada Fara.


"Bahasa loe Sal, kaya besok mau mati aja," ucap Afrian di tengah hangatnya interaksi mertua menantu ini, seketika senyum itu pudar berganti wajah julid.


"Yang ada loe Ian yang mati duluan, kepeleset di kamar mandi!"


"Sebelum gue, bang Za dulu!" balas Afrian. Mereka malah kembali berdebat seperti anak kecil, membicarakan urusan mati, padahal sejatinya mati adalah urusan yang Maha Kuasa.


"Dimana-mana orang dzolim dulu! Nih bang nih, Afrian! Kalo ketemu klien pasti di club malam kalo engga di arena golf. Gue laporin Acha k.o loe!"


"Yang penting gue ngga macem-macem Sal, lagian kaya yang engga pernah boong aja. Nih bang Za, Fath-- emak-emak satu ini kalo ikutan arisan, udah mirip orang bayar rentenir! Banyak banget berbunga-bunga! Semoga menantu loe ngga kaya ibu mertuanya yang boros," do'a Afrian.


"Eh-eh, seenaknya kalo ngomong. Arisan Salwa kan ngga dilarang lagian juga bukan riba, dan yang paling penting bayarnya ngga dapet minta atau nyolong. Ngga kasih-kasih uang atau pajak, Salwa juga ngga pernah sampe ngga zakat ya!"


"Pusing, kalo udah nyatu sama yang satu kutub, ya begini nih. Rumah udah kaya zona kerusuhan," ucap Zaky mendumel beranjak meninggalkan meja makan yang sudah seperti meja debat paslon bakal calon presiden.


"Dek, siapin baju ganti abang." Pinta Al Fath pada Fara.


Fara langsung menoleh, "iya. Padahal Fara mau liat antara umi sama om Rian siapa yang bakalan menang, bang?!" tawa Fara.


"Umi," jawab Al Fath singkat mengajak Fara ke kamar. Al Fath memang pengganggu kesenangan saja, padahal pak Sam saja masih asik disana.


Beberapa buah mobil kol bak terparkir di depan batalyon. Penjaga serambi depan sampai garuk-garuk kepala, siapa yang memesan bahan makanan sebanyak ini.



"Pesanan atas nama bu Faranisa istri letnan kolonel Al Fath," si pria pengemudi bersama seorang temannya memberikan kertas beralamatkan batalyon ini.



"Sebentar pace, sa tanyakan. Selain itu harus melalui pemeriksaan dahulu,"



Al Fath sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian yang telah berganti, seiring datangnya seorang prajurit, Salwa juga sudah berpindah dari ruang makan mengekori Zaky ke ruang tengah.


"Mohon ijin ndan, di luar gerbang batalyon ada mobil pengantar bahan makanan!"


"Oh, pesenan umi tuh Fath!" seru Salwa langsung beranjak dari belakang mendengar obrolan Al Fath dengan bawahannya.


"Bentar mi! Apapun yang masuk sini harus mengikuti prosedur pemeriksaan, biar Fath yang lihat. Apa yang umi pesan?" tanya Al Fath.


"Bahan makanan buat syukuran, ribet amat Fath. Masa iya cuma bahan makanan aja ngga mungkin orang mau nyelipin bom," gerutu uminya.


"Bisa jadi," balasnya datar melengos keluar mengikuti bawahannya.


"Tuh bang! Bibit abang, datarnya jiplak abang, kaya gitu. Umi dianggap tembok!" omel Salwa jadi memarahi Zaky lalu duduk kembali di sampingnya.


Zaky menggelengkan kepalanya, tak ikut bicara pun selalu terbawa-bawa, "iya, dan yang pecicilan jiplak kamu, dek."


Afrian yang baru bergabung lagi diekori pak Sam menyemburkan tawanya, hubungan Salwa dan Zaky dari dulu memang begini selalu ramai oleh ocehan Salwa dan dibalas datarnya Zaky.


Setelah melewati pemeriksaan, mobil-mobil itu masuk ke dalam batalyon menuju rumah komandan. Beberapa warga batalyon yang melihat sampai mengerutkan dahinya, ada apa gerangan di rumah komandannya.


"Itu bang Fath abis borong apa?" tanya Gentra.


"Perabot?" kening bang Yo berkerut.


"Bukan kayanya bang, bahan makanan sepertinya!" jawab Regan menebak barang bawaan mobil.


"Fath mau adain hajatan apa gimana? Pesta atuh?!" tebak Taufik.


"Kayanya!" Dude menaik turunkan alisnya.


Barang-barang mulai di turunkan, seperti sedang bongkar muat kapal tongkang yang isinya seabrek-abrek.


"Mi, ini seriusan?" tanya Fara, orang rumah sontak ikut keluar dari pintu belakang saat mendengar suara beberapa orang menurunkan barang.


"Kapan umi ngga serius?" tembak Salwa balik pada menantunya.


"Cuma syukuran kecil-kecilan aja keluarga batalyon, bukan ngundang satu negara!" jawabnya.


"Eh! Tolong dong, siapa itu angkutin masuk ya!" pinta si umi heboh ini pada siapapun bawahan Al Fath yang melintas di depannya. Al Fath saja sampai spechless jika orang dengan kasta tertinggi di keluarganya ini sudah turun singgasana.


"Abang ini seriusan?" bisik Fara bertanya saking tak percayanya.


"Kalau orang lain abang ngga percaya, dek. Tapi kalau umi, hal incredible aja abang yakin 100 persen," jawab Al Fath.


"Ini batalyon ada berapa personilnya?" tanya Salwa pada Al Fath.


"Sekitar 800an lebih mi," jawab Fath, tentunya ini bukan jumlah yang bisa dihitung oleh jari.


"Oke!" balasan Salwa santai nan enteng mengangguk paham, anggaplah ia sedang berbagi-bagi kebahagiaan dan do'a untuk kandungan Fara.


"Fara! Kamu kan ketua ranting batalyon, kumpulin aja ibu-ibunya per kompi, kita masak buat semua!" Kedipan kelopak mata Fara bahkan dapat dihitung dengan jari masih belum percaya, really, mi??!


"I--iya umi," Fara melirik Al Fath setengah nyengir.


__ADS_1


"Makan-makan??!"



"Asikkkk!"



"Tuh kan! Apa gua bilang, Fath mau hajatan!" ujar Taufik diangguki mereka.



Tentu saja acara ini direspon dengan positif oleh warga batalyon. Sungguh, acara ini tak ada dalam agenda tahunan batalyon yang dipimpin Al Fath, tapi jika sultan sudah berkehendak apa boleh buat, Al Fath meminta Frederick menjadwalkan acara ini, hitung-hitung untuk penghargaan untuk mereka yang telah berhasil menumpas pemberontakan.



"Selamat siang bu," mereka menoleh ke arah datangnya dua orang saat tengah sibuk memindahkan bahan makanan.



"Kintan, om Marcel?!" seru Fara melihat kedua ajudannya sudah terlihat jauh lebih baik dari terakhir ia melihat mereka.



"Lapor bu, Sertu Kintan dan Lettu Marcel siap bertugas kembali!"



"Emmhhh, sukur deh kalian udah sehat lagi!"



Kintan melihat keramaian di belakang badan Fara, "ibu mau ada acara kah?"



Fara mengangguk, "acara 4 bulanan. Cuma pengajian dan makan-makan sederhana, kayanya---" ringis Fara.



Kembali dan kembali, belum Al Fath menghirup aroma lega atas kebandelan Fara, sekarang ia harus dipusingkan dengan kedatangan umi yang bikin heboh dan sibuk satu batalyon. Ponselnya berdering, ia menegakkan badannya yang lelah dari posisi bersandar.



"Assalamualaikum,"




"Kira-kira kalo ngomong sama umi dan abi, mereka bakal setuju engga?"



"Kamu kenapa tiba-tiba ajuin proposal menikah?" tanya Al Fath, adik cassanova-nya ini, selalu menghubunginya dulu sebelum menghubungi kedua orangtuanya terlebih pada umi. Rayyan tau jika Al Fath selalu mampu bernegosiasi dengan umi.



"Skandal bang," Al Fath mengepalkan tangannya kuat. Senakal-nakalnya seorang lelaki, ia tak pernah mentolerir jika ia merusak seorang perempuan, terlebih itu adiknya.



"Kamu ngapain gadis orang Ray?!!! Jangan bilang kalo---"



"Engga bang--engga! Dengar dulu, ini cuma salah paham, gua ngga lakuin apa-apa. Gua ngga sengaja satu kamar hotel sama perempuan, tapi tunggu! Kita ngga ngapa-ngapain bang, suer! Cuma apesnya posisi gua dan dia kepergok media, ternyata dia model terkenal bang!"



"Terus, kenapa ngga bilang jujur?!"



"Udah bang, sampe mulut gua berbusa malah. Tapi orang mana percaya kalo udah ada bukti, ditambah dia model ternama, segelintir orang pasti ngga suka dan lebih memilih percaya bukti."



Al Fath kembali membuang nafasnya kasar, "lu kan tau Ray, umi paling anti sama artis, atau wanita-wanita yang well--lu tau sendiri, apalagi posisinya lu mau nikah karena begini. Alasan lu nikah ngga bisa diterima, pernikahan bukan untuk dipermainkan."



"Bantuin gua bang!" pinta Rayyan.



"Kenapa lu mau, kalian ngga saling cinta kan?! Kenapa harus repot-repot nikahin kalo lu ngga merasa melakukan?"



"Gua kasian bang, karirnya lagi melejit."

__ADS_1



"Ngga make sense Yan, bilang aja lu kepincut!"



Ia terkekeh di ujung telfon sana, "Eirene Michaela Larasati, nama panggungnya Lovely," jawab Rayyan.



"Sarav! Dia model kelas internasional! Lu kira dia mau sama lu yang cuma prajurit dengan gaji 2 garis!"



"Kita udah deal, tolongin gue dong bang. Bang Fath kan abang yang selalu nolongin adeknya,"



"Umi sama abi lagi di timur."



"Ha?! Umi sama abi lagi di tempat abang?"



"Iya!"



"Kebetulan bang, secepatnya gua tunggu kabar baik. Assalamualaikum!"



Tuut--tuut!



"Heh! Rayyan!! Wa'alaikumsalam. Argghhh!" otak si calon abi ini semakin berputar cepat layaknya gasing. Jika Al Fath tengah pusing memikirkan ini dan itu, lain halnya dengan Fara yang sibuk melihat para ibu memasak. Seperti acara makan besar yang sering ditayangkan tv-tv. Setiap kompi mengirimkan perwakilannya untuk membantu memasak.



"Jatohnya malah kaya tanah air berdzikir, satu batalyon ngajiin Fara," ucapnya.



Salwa tertawa, "iya juga ya! Ngga apa-apa lah, ngajakin orang ngaji kan pahala!" jawabnya.



Tanah timur, terkhusus batalyon dilanda rejeki dan kehebohan bertubi-tubi dengan kedatangan keluarga danyon barunya itu, tak sangka jika keluarga Fath adalah keluarga kaya.



"Bang Fath tuh anak sultan, kok gue baru percaya ya?!" Dilar berkata sambil menggelar tempat di lapangan. Jika peserta yang berkumpul banyak sudah pasti lapangan yang akan jadi tempat berkumpulnya.



"Gua udah tau dari dulu. Waktu kita masih satu letting di Ban doenk, orangtuanya pengusaha ternama. Tapi gua ngga habis fikir, Al Fath kok mau-maunya jadi prajurit gini, yang jelas-jelas dibanding uang jajannya aja gaji jadi prajurit mah kecil!" balas Taufik melengkungkan bibirnya.



Memang benar, geng duda kelam ini--jika sudah berkumpul kerjaannya gosipan, bikin masa depan kelam saja.



"Gabut kali!" jawab Andre ngasal.



"Orang tajir kalo gabut beda ya, nyarinya yang ekstrem-ekstrem." Timpal Dude.



"Gabut--gabut. Bicaralah bahasa yang baik dan benar, saya ngga ngerti gabut itu apa!" sewot bang Yo, mereka terkekeh.



"Makanya orangtua mah melipir bang, ngga bisa ngimbangin orang muda kan repot!" tembak Gentra.



Gerbang batalyon ditutup demi keberlangsungan acara. Bagi prajurit muslim mereka berkumpul, duduk bersila melingkar. Sementara para prajurit non muslim ikut disana mendo'akan dengan caranya sendiri. Tak ada dibeda-bedakan, semuanya sama. Al Fath menghadiahi buah hatinya dengan lantunan ayat suci diantara ratusan orang, di balik jilbab putih Fara semakin tertegun mendengarnya. Bukan hanya pandai berperang, tapi pun fasih membaca ayat Al Qur'an meski tak seindah suara para hafiz terkenal.


Semoga kelak ia bisa membimbing anak-anaknya seperti umi dan abi, Fara menundukkan kepala.


.


.


.

__ADS_1


Mungkin masih ada beberapa bab lagi sebelum the end ya guys, semoga ngga nyangkut kaya kemaren 😉


__ADS_2