
Pak presiden terlihat manggut-manggut paham. Tanpa berteriak-teriak atau banyak berkata, ia memanggil salah satu staf kepresidenan dengan telunjuknya.
"Biar, dicatat oleh komisi V dewan rakyat. Di dengar pak, bu?" tanya yang mulia pemimpin negri itu dan dibalas jempol pertanda oke oleh para anggota dewan rakyat.
"Terimakasih, lope-lope sekebun matoa bapak--ibu!" ucap Fara menyematkan tanda love pada para dewan perwakilan rakyat disana membuat para hadirin yang datang terkekeh gemas dan geli.
"Loh, sama saya tidak lope-lope sekebon matoa?" tanya bapak presiden berseloroh.
"Nanti ibu marah pak," tunjuk Fara dengan jempolnya pada ibu negara yang malah cengengesan.
"Ngga apa-apa," terlihat ibu negara menggumam.
"Engga bu, saya orangnya setia. Setiap tikungan ada, jadi nanti aja di belakang saja ya pak," balas Fara berkelakar membuat suasana istana jadi heboh dengan sorak tawa.
"Terimakasih bapak dan ibu pimpinan negara yang terhormat, dan jajaran dewan rakyat yang saya hormati juga atas perhatian dan waktunya. Kami tunggu di tanah timur dengan segala keramahan," ucap Fara sebagai penutup.
Fara dibantu staf kepresidenan turun dari podium yang ternyata sudah disambut Al Fath di dekat tangga.
Nama Faranisa mulai dikenal satu nusantara setelah moment itu, sosoknya kini mulai dilirik dan dikepoi hampir seluruh penjuru negri. Ia dan Al Fath keluar dari istana dengan membawa wajah baru.
"Dek," Fara menoleh pada Al Fath.
"Sepertinya rencana ke Aceh harus ditunda lagi. Mengingat waktu dan kondisi kehamilan kamu, tanah timur sudah memanggil---" ucapnya.
"Iya bang, Fara yakin umi bakalan ngerti. Tapi Fara pengen mampir dulu ke tpu bang, buat jengukin bapak."
Al Fath mengangguk, tak tunggu lama lagi mobil meluncur ke taman pemakaman umum. Bukan taman makam pahlawan ataupun kompleks pemakaman elit. Hanya taman pemakaman biasa saja nan sederhana di dekat kampung Fara.
Dengan membawa bunga setaman Fara berjongkok dibantu Al Fath meski kesusahan, ia bersimpuh di depan nisan Harris. Tak ada kata lagi yang terucap, tak ada kesedihan lagi yang keluar memenuhi udara sekitar. Dan tak ada lagi sesak yang menyeruak di dalam dada.
"Pak, makasih banyak. Fara sama nyak sudah bahagia disini, semoga bapak juga tenang disana," sebagai seorang anak Al Fath dan Fara menengadahkan kedua tangannya mendo'akan sang ayah. Hal terakhir yang ditinggalkan seseorang setelah meninggal selain dari amal, dan ilmu yang berguna adalah anak yang sholeh--sholeha.
Fara menaburkan bunga di atas pusara dan tanah merah kuburan Harris, lalu sedikit membersihkannya dari rumput liar dan dedaunan kering.
"Setelah ini pasti akan banyak yang menghubungi kamu dek, khususnya partai politik!" ucap Al Fath.
"Iya. Itu emang cita-cita bapak bang, tapi bukan cita-cita Fara. Amanah bapak sudah Fara sampaikan dan titipkan tadi, amanah yang tujuan sebenarnya adalah untuk memajukan negara, mencerdaskan setiap lapisan masyarakat, sudah Fara tunaikan. Bapak juga pastinya ngga mau Fara jadi istri ngga tau diri, tugas Fara mendampingi abang bertugas," senyum wanita hamil ini.
Keduanya berpamitan pada nyak Fatimah, kebetulan di kampung kini sedang ramai oleh warga yang tengah bersuka cita mengadakan perlombaan demi memeriahkan HUT kemerdekaan.
__ADS_1
"Dan! Tolong panggilin nyak-nya mpok!" pinta Fara pada Ardan, saat tak menemukan nyak-nya di rumah, kemungkinan besar jika nyak Fatimah sedang berada di lapang melihat atau bahkan mungkin ikut perlombaan.
"Siap mpok!" bocah 10 tahun itu berlari melesak masuk ke keramaian warga kampung.
"Cepet banget, Ra--Fath. Jadi nyak ditinggal lagi nih?!" terlihat jelas gurat kerinduan yang masih melekat di wajah nyak.
"Nyak, abang kan prajurit. Bukan pekerja yang bisa seenaknya cuti pergi liburan atau mudik. Tugasnya menjaga perdamaian negri, kan nyak yang bilang sendiri dulu. Masa iya Fara disini sementara abang di timur ngga ada yang urus. Nyak sehat-sehat disini, abang kan udah pasang mesin pompa air, jadi ngga perlu repot-repot kerek air. Oh iya nyak, abang ada mau bilang sesuatu," Fara mempersilahkan Al Fath bicara pada ibunya sementara Fara sendiri melengos ke arah dapur.
Fara tersenyum seraya mengaduk kopi instan di gelas, mengingat tahun besok nyak bisa pergi berangkat haji. Rejeki dan panggilan Allah memang terkadang tak dapat diduga dan disangka. Banyak orang yang sudah lama menginginkan bertandang ke rumah Allah, sampai menabung bertahun-tahun namun belum juga dapat kursi, sementara nyak? Entah bagaimana cara Allah memanggil nyak, padahal semalam Al Fath bilang jika nyak tidak bisa berangkat berhaji tahun besok karena kuota penuh, butuh pengajuan yang sedikit ribet dan waktu yang lama dalam antrean. Tapi pagi ini keputusan itu berubah, nyak dapat berangkat tahun esok.
Terdengar nyak Fatimah berseru mengucap syukur, "alhamdulillah!!!!" ia menangis terharu.
"Ntar naik pesawat militer kan? Ah kecil lah. Sempilin di kargo, awas kelupaan!" ucapnya.
"Iya nyak, Allahu!" Fara menggaruk-garuk kepalanya tak gatal, udah kaya pulang mudik pake segala dibawa. Mereka pamit selagi masih agak sore, untuk ke rumah umi dan mengambil barang yang tertinggal.
****
"Kalian jahat sama umi! Masa baru sehari---um.. Ud...ma..ditinggal la... huuuuhuuuu hiks--hiks--" ucapnya tak jelas sambil tersedu-sedu.
"Mi," Al Fath, Fara dan Zaky berusaha menenangkan Salwa.
"Udah deh mi ih! Selalu begini kalo ditinggal anak-anaknya tugas," decak Zahra kesal dengan hobby uminya yang selalu mempersulit kepergian anak-anaknya.
"Dek Zahra," tegur Al Fath.
"Iya bang, abisnya umi, mi udah ya! Kan sebentar lagi bang Ray mau bawa ka Lovely kesini, masa umi mewek-mewek kaya abis ditinggal pacar?!"
"Ck---umi lagi sedih bisa ngerti ngga, kamu tuh belum ngerasain jadi ibu tuh kaya gimana perasaannya. Waktu kalian abis sama negara, waktu buat umi kapan?! Mana cucu mau lahir," ia terisak.
__ADS_1
"Kan umi bisa nyusul kesana, kalo perlu nanti setelah anak Fath lahir, kekepin aja biar ngga disentuh siapapun," sahut Zaky memberikan usul sesat.
Salwa mengusap perut Fara sayang, "hati-hati disana. Selalu kabarin orang-orang rumah (keluarga), itu grup wa bukan pajangan," gerutu umi.
Fara tersenyum, "iya mi."
"Nanti setelah selesai urusan Rayyan, umi susul lagi ke timur buat dampingin lahiran. Sekalian bawa ibu kamu,"
"Zahra juga!" sewotnya takut ditinggal.
"Iya!" jawab umi sengak.
Dan mudik singkat kali ini membawa serta koper juga kotak tambahan dari para orangtua. Fara dan Al Fath rencananya akan kembali dengan menumpang pesawat militer.
Mobil mereka sudah sampai di Makko keesokan harinya, kedatangan mereka disambut dengan suka cita. Kebetulan di markas besar ini sedang diadakan perlombaan menyambut kemerdekaan jadinya ramai.
"Bu Far! Kalo dandanan udah cantik ngga usah mewek, pake acara mewek segala di tv," ujar Gentra.
"Terharulah!" balas Fara.
"Kerenlah bu!" ujar Andre.
"Loh, ini pada kemana?" tanya Al Fath mungkin maksudnya Dilar, bang Yo, dan Regan.
"Pada ngikut lomba di lapang Makko, tuh!" tunjuk Gentra, di lapang ternyata sedang diadakan lomba berpasangan suami istri joget balon.
"Pantesan om berdua ngga ikutan. Rupanya lomba ini dilarang buat yang jomblo!" tawa Fara. Melihat bang Yo yang terkadang diomeli istrinya membuat para jomblo tertawa terpingkal.
"Bang! Dengerin ibu tuh, kaku amat jogetnya!" teriak Dilar di pinggir lapang, ingin sekali Yosef mengumpat jika tidak sedang bersama istri. Bunyi peluit, kemeriahan acara menjadi penghibur disela-sela tugas negara.
Al Fath dan Fara memutuskan untuk berpamitan dahulu pada jendral Wicak di kantor, dilihatnya deretan tumpeng hasil karya ibu-ibu ranting antar kompi yang sedang dilombakan. Fara dan Fath jadi semakin mengingat batalyon di timur, ada rasa rindu, khawatir ingin pulang, tanggung jawab mereka sebagai pimpinan yang meronta-ronta minta balik ke tanah timur.
"Abang, rumah kita gimana?" tanya Fara menanyakan batalyon, kini batalyon timur adalah rumahnya dan warga batalyon adalah keluarganya.
"Pulang yuk! Rumah kita menunggu," jawab Al Fath.
.
.
__ADS_1
.