
Seolah ibukota sedang mengeluarkan gaya gravitasinya untuk Fara dan Al Fath. Berbarengan dengan dering telfon dari 'nyak, umi Salwa dan om Afrian pun menelfon Al Fath, finally kasus yang sedang ditangani oleh nyak, umi, om Afrian dan kawan-kawan advokat sampai pada titik akhir, pengasilan memenangkan sengketa tanah itu adalah memang hak paten milik almarhum Harris, yang otomatis jatuh pada Faranisa, begitu juga nama baik Harris yang dipulihkan termasuk cacat hukum yang terjadi menyeret hakim, jaksa, juga penyidik kasus Harris merasakan dinginnya hotel prodeo, bahkan jendral Wicak pun ikut mengawal jalannya sidang.
Surat terlampir sampai di batalyon Al Fath, surat yang berasal dari staf kepresidenan, tembusan markas besar angkatan darat, persatuan istri kartika pusat, resimen angkatan darat tanah timur, persatuan istri kartika tanah timur dan batalyon Al Fath.
KANTOR STAF ISTANA KEPRESIDENAN NEGARA
Tgl : 10 Agustus 202X, Ibukota
No : 124426xfwvh
Lampiran : -
Perihal : Undangan upacara kemerdekaan negara.
Kepada : Persatuan istri prajurit Tanah Timur Batalyon XXXXXX
Sehubungan dengan hadirnya surat undangan ini, kami selaku staf istana kepresidenan negara republik, mengundang saudari Faranisa Danita, S.Ds. Pada :
Hari : Rabu
Tanggal : 17 Agustus 202X
Tempat : Istana kepresidenan negara ibukota.
Keterangan : memakai pakaian adat nusantara.
Demikian atas perhatiannya terimakasih,
Kepala Staf Kepresidenan republik
TTD,
Surat itu datang saat mereka tengah disibukkan dengan kegiatan batalyon yang sedang menyambut kemerdekaan.
"Alhamdulillah!"
"Puji Tuhan!"
Teriak berseru sekaligus terharu para istri prajurit, nama batalyon mereka yang selalu tersisih karena daerah perbatasan akhirnya tersorot juga, tak tanggung-tanggung presiden ikut melirik mereka.
Al Fath memandang bangga pada Fara, wanita yang dulu begitu membenci negaranya kini menjelma bak malaikat penolong semua orang.
"Kita berangkat besok, sudah konsultasi pada dokter kemarin?" tanya Al Fath.
"Udah abang! Udah berapa kali Fara bilang," jawabnya seraya memasukkan beberapa potong baju ke dalam koper. Ia begitu excited dapat menyambangi ibukota meskipun hanya untuk beberapa hari saja, ia sudah rindu 'nyak, rindu bu Fani dan kawan-kawan, rindu kerak telor, rindu soto, rindu peradaban modern.
"Sekaligus melihat keadilan ditegakkan," Al Fath meraih pinggang Fara saat sedang sibuk merapikan koper. Fara berbalik pada Al Fath karena rengkuhan lelaki itu.
"Makasih," ucapnya, mengingat bapak...hofftt! Sudahlah, ia pasti tersentuh.
"You deserve, kamu pantas mendapatkannya."
Al Fath menyatukan keningnya dan Fara, "bapak pasti bangga sama kamu," demi apa, Fara sudah memejamkan matanya.
"Fara ngga bisa bilang kalo Fara anak yang baik, anak yang membanggakan buat bapak sama 'nyak bang---" dadanya sesak jika mengingat kedua orangtua, kedua malaikat yang Allah berikan di hidupnya.
"Kamu sempurna, bapak pasti tersenyum di atas sana," bisik Al Fath, Fara terkekeh namun matanya meneteskan air mata, bersama Al Fath ia mampu merubah semua awan kelabu menjadi biru.
Fara menaruh kedua tangannya di atas pundak Al Fath, merasai aroma nafas lembut nan maskulin Al Fath, tapi sedetik kemudian keduanya tertawa saat perut Fara menendang-nendang tepat di perut bagian bawah Al Fath.
__ADS_1
"Anak kamu bang,"
"Iya, anak abang," balas Al Fath.
"Saya titip batalyon!" ujar Al Fath pada wadanyon.
"Siap laksanakan ndan!"
Hari ini Al Fath tidak memakai pakaian dinasnya, ini bukan tugas kenegaraan baginya, tapi tugasnya sebagai seorang suami--sebagai seorang menantu.
Al Fath tampak tampan dengan pakaian casualnya, dilengkapi topi dan kacamata hitam, inilah dia... pewaris tahta Ananta yang pertama. Terlihat begitu keren----bermerk!
"Abang jangan ganteng-ganteng! Kok Fara ngga suka ya abang pake baju ginian, keliatan muda, tajir, mirip CEO-CEO yang ada di tv! Fara lebih suka abang mode om-om kacang ijo!" omelnya menggerutu di landasan udara milik angkatan darat.
Al Fath merangkul bahu Fara dengan satu tangan yang menyeret koper, "abang ambil kresek dulu," ejeknya, membuat Fara semakin manyun.
"Abang ihhh!"
Fara tersenyum, "biar irit ongkos bang! Kan ongkosnya bisa buat jajan di ibukota! Kali aja nanti ada tukang cendol sambil nonton kirab budaya di istana presiden," bisiknya keras pada Al Fath, si prajurit tadi mengulum bibirnya, pamor Fara memang sudah terdengar sampai resimen jika istri danyon satu ini terkenal akan kekonyolannya memang benar adanya.
"Om," panggil Fara.
"Siap bu?!"
"Nanti di atas pesawat militer ada cemilan kaya di pesawat komersil engga? Atau Fara mesti beli sendiri?!" ia sudah tak kuat untuk tidak tertawa.
"Dek," tegur Al Fath, Fara berdecak, "nanya aja bang! Masa nanya aja ngga boleh!"
Fara bersama Al Fath naik ke dalam pesawat militer, sekejap hidup Fara penuh dengan petualangan, kejutan dan warna baru terutama HIJAU!
Inilah pengalaman terindahnya terbang bersama Al Fath, kali ini ia dapat saksikan keindahan nusantara dengan pikiran, pandangan yang lebih terbuka dan berbeda. Tanpa perasaan dengki, dan benci rasanya hati Fara terasa tentram, hingga keindahan itu menuntun Fara pada alam mimpi.
__ADS_1
Ia berteriak histeris bukan karena disandera kembali arwah Denawa, atau terdampar di hutan dan tak bisa buang air dengan normal.
"Alhamdulillah!!! Kirain ngga akan ngerasain lagi nginjek tanah ibukota!!" teriaknya langsung dibekap Al Fath.
Pendaratan pertama mereka adalah Markas besar pasukan khusus. Kedatangan mereka rupanya sudah diketahui makhluk-makhluk berisik dan tak tau malu berjuluk rekan.
"Selamat datang kembali!" sapa jendral Wicak langsung memeluk keduanya.
"Om Wicak,"
"Ndan," jabat tangan antara Wicak dan Al Fath kali ini begitu terasa friendly nan hangat.
"Akhirnya saya keduluan bang Harris dalam hal cucu," kelakarnya.
"Selamat datang bu Faranisa," sapa bu ketua, Fara mengangguk sopan.
"Om, makasih sudah membantu Fara demi nama keadilan bapak," dari lubuk hati yang paling dalam Fara berucap tulus.
Jendral Wicak menggeleng, "saya yang harus meminta maaf. Terlalu banyak kesalahan dan kekurangan saya. Jujur saya masih sangat malu pada bang Harris," Fara tersenyum.
"Bapak pasti bangga sama om Wicak," ucap Fara.
Jendral Wicak memberikan usapan lembut di bahu Fara, "bang Harris pasti lebih bangga melihat putrinya bisa meneruskan perjuangannya dulu, memajukan nusantara. Kami disini tau apa yang sudah kamu lakukan di timur, Fara. It's so amazing! Kami bangga. Da rah bang Harris mengalir kuat di nadimu," balas jendral Wicak.
Cukup lama mereka mengobrol sambil ngopi, bahkan Fara sudah beberapa kali bolak-balik toilet. Hingga Fara dan Al Fath memutuskan untuk keluar dari kantor pimpinan.
"Welcomeeee!!!!" teriak mereka di luar gedung membuat Fara dan Al Fath tersentak kaget.
"Faraaa!!!!" para squad hot momy memeluk Fara.
"Ya Allah, udah buncit ini!" teh Gina mengusap-usap perut Fara dan langsung mendapat tendangan bebas dari si bayi, "eh! Kaya mama nya ini mah aktif!" seru teh Gina senang.
"Tokcer ya Ra, jala-nya!" sahut mbak Nasya terkekeh.
"Sehat, Ra?!" bu Fani memang yang paling kalem.
Belum lagi taburan kembang oleh Gentra, dan Dilar.
"Busettt, kembang apaan nih?!" Fara mengernyit mencium bau bunga yang ditaburkan.
"Ini bunga melati, kamboja, sama kenanga?" tanya Al Fath mengerutkan dahi demi menangkap kelopak bunga yang berhamburan berserakan di halaman depan gedung.
"Njirrr! Emangnya Fara ma yit!" teriaknya melepaskan pelukan bu Fani, teh Gina, mbak Nasya dan Susi.
"Ha-ha-ha! Dapet metik dari rumah jendral Wicak!" bisik Gentra.
"Ngga modal!!!!" jerit Fara ingin memukul kedua rusuh junior Al Fath itu.
"Tunggu! Tunggu bu---itu arwah Denawa bangun lagi, ngikutin ibu!" tunjuk Gentra, sontak Fara menengok dan mereka kabur.
.
.
.
.
__ADS_1